“REVOLUSI PAYUNG”
Oleh:
Adinda
Latar Belakang
Sejak manusia
mulai hidup bermasyarakat, maka sejak saat itu sebuah gejala yang disebut masalah sosial berkutat didalamnya. Sebagaimana diketahui, dalam
realitas sosial memang tidak pernah dijumpai suatu kondisi masyarakat yang
ideal. Dalam pengertian tidak pernah dijumpai kondisi yang menggambarkan bahwa
seluruh kebutuhan setiap warga masyarakat terpenuhi, seluruh prilaku kehidupan
sosial sesuai harapan atau seluruh warga masyarakat dan komponen sistem sosial
mampu menyesuaikan dengan tuntutan perubahan yang terjadi. sejak tumbuhnya ilmu
pengetahuan sosial yang mempunyai obyek studi kehidupan masyarakat, maka sejak
itu pula studi masalah sosial mulai dilakukan. hingga pada akhirnya semakin
memperlebar jalan untuk memperoleh pandangan yang komprehensif serta wawasan
yang luas dalam memahami dan menjelaskan fenomena sosial.
Dalam
kehidupan bernegara, begitu banyak Masalah. Mulai dari masalah ekonomi, masalah
pendidikan, masalah kesehatan, masalah sosial, dll. Semua masalah tentunya
tidak dapat diatasi dengan cepat. Karena terkadang masalah tersebut terjadi
karena adanya masalah kecil yang belum diselesaikan, maka masalah-masalah yang
lain pun akan datang bergantian. Dalam masalah tersebut menimbulkan
permasalahan yang mampu dianalisis dalam teori sosiologi dan antropologi
sebagai ilmu yang mengkaji segala sesuatu yang berkaitan dengan sosial dan
budaya yang ada pada masyarakat. Fenomena sosial yang akan dianalisis adalah
mengenai “Aksi Demonstrasi besar-besaran
di Hongkong yang dijuluki “Revolusi Payung”. Peristiwa tersebut saya angkat
karena sangat umum terjadi di sebuah Negara tetapi yang menjadi sangat menarik
dalam kasus ini adalah seorang pemimpin
dari demonstran itu sendiri yang masih dibawah umur yang sebelumnya pun telah
menjadi pemimpin untuk menolak pendidikan nasional masuk ke sekolah-sekolah di
Hongkong dan gerakan yang dipimpinnya itu berhasil serta dapat mengagalkan
masuknya pendidikan nasional tersebut. Lalu payung,
Payung yang digunakan para demonstran saat terjadinya bentrok dengan
polisi. Payung dijadikan sebagai pelindung bukan hanya untuk panas atau hujan
tetapi sebagai pelindung para demonstran dari gas air mata dan merica yang
dilakukan oleh para polisi dan menjadikan payung sebagai simbol perdamaian.
Peristiwa ini akan saya analisis menggunakan pandangan teori
fungsional-struktural, konflik, perubahan sosial, simbolik, dan aksi.
STUDI KASUS
Aksi Demo Besar-besaran di Hong Kong Dijuluki 'Revolusi
Payung'
Hong Kong,
- Ada yang menarik dari aksi demonstrasi pro-demokrasi yang berlangsung di Hong Kong.
Aksi demo yang dilakukan ribuan warga ini dijuluki sebagai "revolusi
payung".
payung dengan cepat muncul sebagai simbol unjuk rasa yang sejak Minggu, 28
September 2014 kemarin telah melumpuhkan pusat finansial
Asia tersebut. Aksi demo yang dilakukan ribuan orang tersebut berubah ricuh
setelah polisi melepaskan gas air mata dan semprotan merica ke lautan manusia.
Para demonstran tidak siap menghadapi
tindakan aparat polisi tersebut. Maka payung pun menjadi senjata mereka untuk
melindungi diri dari gas air mata dan semprotan merica.
"Payung mungkin adalah simbol
paling menonjol dari aksi protes Hongkong. Demonstrasi kami biasanya damai,
bahkan semprot merica sangat luar biasa," ujar Claudia Mo, politikus
pro-demokrasi.
"Sekarang semprotan merica sudah menjadi sangat biasa, kami pun harus
menggunakan payung untuk melawannya. Polisi punya perisai yang sangat
berkualitas -- kami cuma punya payung," cetusnya seperti dilansir AFP,
Senin (29/9/2014).
Kata-kata "umbrella
revolution" sempat menjadi tren di media sosial hari ini. Dalam aksi
demonya, para demonstran memprotes kebijakan pemerintah pusat di Beijing yang
menghapus pemilihan kepala pemerintahan hongKong secara langsung. Sebagian
besar demonstran adalah mahasiswa dan para pelajar SMA, yang pekan lalu
memboikot kelas-kelas sebagai upaya menekan pemerintah Beijing.
Pada bulan lalu, Beijing mengeluarkan kebijakan menghapuskan sistem pemilihan
langsung untuk pemimpin kota Hongkong di periode 2017 mendatang. Dengan ini
China ingin memastikan pemimpin Hong Kong berikutnya loyal pada Beijing. Para
pemimpin partai komunis di Beijing khawatir bila Hong Kong dibiarkan dengan
sistem yang berlaku sekarang, tuntutan demokratisasi bisa menjalar di kawasan
China daratan.
Penjabaran
Kasus :
Revolusi
payung merujuk pada gerakan kaum muda pro demokrasi di Hongkong yang muncul
pada 28 september 2014 lalu. Gerakan yang dipelopori oleh kalangan pelajar ini
merupakan respon terhadap kebijakan RRC atas mekanisme pemilu Hongkong 2017
nanti. Selain dari itu, gerakan ini dimotivasi atas dasar kekhawatiran
masyarakat Hongkong, terutama kaum terpelajar atas kebebasan yang kian merosot
oleh kawasan bekas koloni Inggris ini.
Perlu
juga diketahui, Hongkong merupakan bagian pemerintahan Cina yang diserahkan
Inggris pada 1997 lalu. Semenjak penyerahan ini, Cina menerapkan kebijakan satu
Negara dua sistem demi keberlangsungan otonomi Hongkong. Namun semenjak
perpindahan tangan ini, Hongkong, terutama kalangan eksekutifnya lebih pro
terhadap pemerintahan Cina dibandingkan dengan warga Hongkong sendiri.
Kebebasan
yang kian terbatasi sebenarnya hanyalah puncak gunung es dari persoalan yang
telah lama tertimbun. Revolusi payung tidak saja mempersoalkan mekanisme
pemilihan pimpinan eksekutif yang selama ini dipilih langsung oleh dewan partai
komunis Tiongkok, melainkan adanya migrasi penduduk daratan yang masuk ke
Hongkong dengan mengambil lahan pekerjaan penduduk lokal. Kaum muda juga tidak
puas dengan keadaan ekonomi yang dikuasai Taipan kaya di wilayah itu.
Gerakan
sosial Hongkong ini telah berlangsung dua bulan lamanya semenjak September
2014. Dampak dari gerakan ini juga memberikan pengaruh politis terhadap
keberlangsungan pemerintahan dewan partai Tiongkok di Hongkong. Oleh sebab,
tuntutan yang menjadi perhatian utama dari gerakan payung ini adalah perubahan sistem
politik yang tidak memberikan kebebasan memilih bagi warga Hongkong.
Analisis Kasus :
1. Teori
Fungsionalisme dan strukturalisme
Masyarakat
itu terbentuk dan tergerakan dengan sebuah sistem yang sudah terstruktur.
Dimana di dalam struktur terdapat element-element yang memiliki fungsi
masing-masing. Dan terdapat aturan-aturan yang sudah terstruktur di dalamnya
untuk mencapai sebuah ketercapaian tertentu. Talcott Parson memperkenalkan
fungsionalisme struktural sebagai teori dengan menekankan 4(empat) asusmsi :
a. Setiap
masyarakat secara relative adalah tetap, struktur unsure-unsurnya relative
stabil.
b. Setiap
masyarakat tersusun dari unsure-unsur yang terintegrasi secara baik
c. Setiap
unsur dalam masyarakat mempunyai fungsi, yakni memberikan kontribusi terhadap
pemeliharaan keutuhan sebagai sebuah sistem.
d. Setiap
fungsi struktur sosial di dasarkan atas konsesnsus terhadap nilai-nilai di
antara anggota-anggotanya.
Asumsi
ini menekankan unsure 1)stabilitas, 2)
integrasi 3)fungsi koordinasi, dan 4)konsesnsus.
Menurut
teori fungsionalisme struktural masyarakat merupakan suatu sistem sosial yang
terdiri atas bagian-bagian atau elemen yang saling berkaitan dan saling menyatu
dalam keseimbangan.
Jadi perubahan yang terjadi pada suatu bagian akan membawa perubahan pula
terhadap bagian lain. Tetapi di dalam teori fungsionalisme masyarakat berada
dalam kondisi statis atau tepatnya bergerak dalam kondisi keseimbangan. Yang
mana di dalam setiap elemen memberikan dukungan terhadap stabilitas.
Ø Dalam
sebuah Negara di kehidupan bermasyarakatnya. Negara itu sendiri memiliki sistem
yang terstruktur sejak Negara itu berdiri untuk menjalankan fungsi-fungsinya
dengan baik sehingga tujuan dalam bernegara tersebut tercapai. Secara umum, pembagian kekuasaan dalam Negara
itu ada tiga legislatif(pembuat aturan/undang-undang) eksekutif(eksekutor),
yudikatif(pengawal). Yang menjalankan suatu sistem pemerintahan yang saling
berkaitan antara satu dengan yang lain. Jika salah satu ada yang cacat maka
akan mempengaruhi yang lain. Seperti halnya di Negara china. China merupakan
Negara yang menerapkan kebijakan 1 negara 2 sistem. Yang mana daerah yang
diberi hak otonom itu adalah Hongkong yang disebabkan pada saat perang dunia II
Hongkong merupakan daerah bekas jajahan koloni Inggris yang memakai sistem
pemerintahan seperti Negara inggris lalu di kembalikan kepada china pada tahun
1997. China merupakan Negara komunis non demokratis sedangkan Inggris
menerapkan sistem demokratis di Hongkong pada masa kolonialnya. Maka dari itu hongkong
diberikan hak otonomi didalam sistem pemeritahannya. Tetapi saat ini RRC
menetapkan kebijakan untuk melakukan pemilihan tidak langsung pimpinan
eksekutif di Hongkong. Hal tersebut tidak mencerminkan masyarakat yang
demokratis. Pada kasusnya ini telah
terjadi perubahan struktural fungsional terhadap sistem yang telah berlaku pada
sebelumnya. Tetapi dengan adanya wewenang yang disahkan lah salah satu yang
dapat memelihara stabilitas. Ditinjau
dari penganut teori fungsional ini memandang segala pranata
sosial/struktur sosial yang ada dalam suatu masyarakat tertentu serba
fungsional artian positif dan negatif. Merton
mengajukan pula konsep dis-fungsi. Sebagaimana
struktur sosial atau pranata sosial dapat menyumbang terhadap
pemeliharaan fakta-fakta sosial lainnya. Merton meyakini mengenai sifat fungsi
ada dua yaitu : manifest(yang diharapkan) dan laten(yang tidak diharapkan).
Walaupun demikian fungsi manifest dan fungsi laten saling berkaitan dan
memiliki hubungan walaupun diantaranya terdapat pihak yang dirugikan. Tetapi
dilihat kembali dari salah asumsi parson yaitu setiap unsur dalam masyarakat
mempunyai fungsi, yakni memberikan kontribusi terhadap pemeliharaan keutuhan
sebagai sebuah sistem. Kembali ke asumsi dasarnya teori fungsionalisme
adalah bahwa setiap struktur dalam sistem sosial, fungsional terhadap yang
lain. Sebaliknya kalau tidak fungsional maka struktur itu tidak akan ada atau
hilang dengan sendirinya.
Tetapi
menurut dahrendorf fungsionalisme struktural menyangsikan bahwa kita tidak dapat
memahami semua masalah realitas sosial. Masyarakat menurut dahrendorf(1986:197)
“bermuka dua: konsensus dengan konflik, integrasi dan pertentangan”. Teori
fungsionalisme-struktural ini mengabaikan tentang adanya konflik(pertentangan).
2. Teori
Konflik
Di dalam teori konflik masyarakat
senantiasa berada di dalam proses perubahan yang ditandai pertentangan. Teori
konflik melihat bahwa setiap elemen memberikan sumbangan terhadap disentegrasi
sosial.
Dahrendorf
mengemukakan ciri-ciri konflik dalam organisasi sosial sebagai berikut (sukanto
1988:79)
:
1. Sistem
sosial senantiasa berada dalam keadaan konflik.
2. Konflik-konflik
tersebut disebabkan karena adanya kepentingan-kepentingan yang bertentangan
yang tidak dapat dicegah dalam struktur sosial masyarakat.
3. Kepentingan-kepentingan
itu cenderung berpolarisasi dalam dua kelompok yang saling bertentangan.
4. Kepentingan-kepentingan
yang saling saling bertentangan mencerminkan deferensiasi distribusi kekuasaan
di antara kelompok-kelompok yang berkuasa dan dikuasai.
5. Penjelasan
suatu konflik akan menimbulkan perangkat kepentingan baru yang saling
bertentangan, yang dalam kondisi tersebut menimbulkan konflik.
6. Perubahan
sosial merupakan akibat-akibat konflik yang tidak dapat dicegah pada berbagai
tipe pola-pola yang telah melembaga.
Ø Konflik
muncul karena perbedaan kepentingan objektif antara kelompok dominan (pihak
yang menguasai) dengan kelompok yang didominasi( pihak yang dikuasai) dalam
situasi-situasi tertentu. Seperti dalam studi kasus revolusi payung yang terjadi
di hongkong ini dimana terjadi konflik di dalam sebuah Negara. Adanya
pertentangan dari rakyat kepada pemerintahannya. Atas kebijakan/wewenang yang
diterapkan. Teori konflik dahrendorf
terdapat dua bagian pokok yang salah satunya itu diskusi-deskripsi umum: Kondisi-kondisi yang mengakibatkan
konflik.(craib 1986:94)
Kondisi-kondisi
yang menyebabkan terjadinya konflik di hongkong :
·
dipicu meningkatnya ketimpangan dan
biaya hidup di tambah kemarahan warga akibat hubungan yang tidak berjalan
harmonis antara pemerintah kota dan para elit financial sehingga memicu
kekecewaan dikalangan pemuda
·
pergeseran sistem yang diterapkan di
hongkong sebagai bekas daerah jajahan inggris yang menerapkan sistem demokrasi,
yang telah kita ketahui cina menggunakan sistem komunis yang non demokratis.
·
ketidakpuasan dengan sistem ekonomi dan
sistem pemerintahan dimana banyak warga dari dataran yang merebut lapangan
pekerjaan mereka.
Sebuah
konflik akan membentuk polarisasi antara kelompok yang menguasai dan kelompok
yang dikuasai yang saling bertentangan.
Dahrendorf
(1986:211) menyimpulkan preposisi didalam dua kerangka model sebagai berikut:
1. Pembagian
wewenang dalam perserikatan adalah “penyebab utama” terbentuknya
kelompok-kelompok yang bertentangan dan ;
2. Dikotomi
di dalam setiap perserikatan adalah penyebab terbentuknya dua (hanya dua)
kelompok yang bertentangan.
Ø Gerakan
sosial aksi demontrasi besar-besaran di hongkong merupakan pertentangan antara
masyarakat dan pemerintah setempat akibat ketidakpuasaan masyarakat terhadap
sistem yang diberlakukan di Negara tersebut. Adanya aksi protes dari kalangan
terpelajar dengan cara menduduki pusat-pusat pemerintahan serta dengan cara
mogok kuliah/sekolah. Hal
ini dilakukan untuk mengubah basis sosial dan politik yang dirasakan tak
memuaskan. Pada kasus gerakan sosial pendudukan kaum pelajar Hongkong adalah
contoh kongkrit bagaimana ketidakpuasaan yang dimaksud dikolektifkan menjadi
tindakan bersama dihadapan umum saat menduduki pusat-pusat strategis kota
Hongkong.
Di
sisi lain sumber konflik yang terjadi di china tersebut karena Negara tersebut
memiliki masyarakat yang majemuk seperti : benturan kepentingan politik,
ideologi, dan agama(coser, 1997). Yang menjadi masalah disini adalah adanya
perbedaan pandangan ideologi. Antara demokratis dan non demokratis. Komunis VS
kapitalis sehingga munculnya ketidakserasian sosial yang mengakibatkakan
pertentangan dan munculnya konflik. Menurut teori konflik, masyarakat disatukan
dengan “paksaan”. Maksudnya, keteraturan yang terjadi di masyarakat sebenarnya
karena adanya paksaan (koersi).
Dengan adanya wewenang yang berlaku dan pranata-pranata sosial yang ada di
masyarakat. Oleh karena itu, teori konflik lekat
hubungannya dengan dominasi, koersi, dan
power. Adanya sebuah konflik karena diinginkannya
suatu perubahan. Konflik yang terjadi di hongkong melibatkan aparat kepolisian Hong Kong harus menggunaan gas air mata untuk
pertama kalinya sejak 1967, dalam menghadapi aksi demonstrasi pro-demokrasi
yang kini telah melumpuhkan aktivitas di sentral bisnis keuangan Hong Kong. Demonstrasi yang dijuluki revolusi payung itu
dilakukan selama beberapa hari. Konflik yang terjadi di hongkong ini bukan
semata untuk mempertahankan nilai-nilai demokrasi, tetapi karena adanya kondisi
ekonomi yang dirasakan adanya ketimpangan. Masyarakat dataran china telah
banyak mengambil lahan pekerjaan penduduk lokal di hongkong. China melakukan
sistem pemerintahan terpusat dimana ekonomi, pendidikan dll diatur oleh
pemerintah pusat.hongkong merupakan salah satu sumber kekuatan ekonomi di China,
tetapi masyarakat setempat merasakan ketidakpuasan terhadap pemerintahan saat
ini. sebenarnya dengan adanya kebijakan penyeleksian untuk pemilihan pimpinan
eksekutif merupakan sebagai bahan bakar atau pemicu terjadinya konflik terhadap
masalah-masalah yang telah ada dan telah memuncak sehingga menimbulkan
pertentangan(konflik). “hak pilih masyarakat sesungguhnya tidak akan diraih tanpa perlawanan warga," kata Joshua kepada harian South China Morning Post. Seperti pandangan teori konflik bahwa kehidupan
sosial melahirkan konflik sosial. Oleh karena itu kekuasaan selalu memisahkan
dengan tegas antara penguasa dan yang dikuasai maka di dalam masyarakat selalu
terdapat dua golongan yang selalu bertentangan. Dengan adanya aksi protes
besar-besaran dari masyarakat hongkong khususnya pelajar dan mahasiswa yang
menentang kebijakan pemerintah setempat, yang dianggap menggeserkan nilai-nilai
demokrasi yang ada. Aksi tersebut juga menunjukan adanya paksaan dan tuntutan
dari masyarakat terhadap pemerintah untuk membatalkan kebijakan yang tidak di
inginkan masyarakat setempat. aksi dengan massa yang besar merupakan kekuaatan
untuk menciptakan sebuah perubahan. Jika konflik itu terjadi secara hebat maka
perubahan yang timbul akan bersifat radikal. Begitu pula kalau konflik itu
disertai oleh penggunaan kekerasan maka perubahan struktural akan efektif.
maka dari itu konflik atau pertentangan diperlukan untuk melakukan suatu
perubahan.
3. Teori
Perubahan Sosial
Perubahan
sosial merupakan proses wajar dan akan berlangsung terus menerus. Namun, tidak
semua perubahan sosial mengarah kearah yang positif. Perubahan dapat berasal
dari masyarakat itu sendiri yaitu dengan adanya pertentangan atau pemberontakan
(konflik). Pertentangan dalam nilai dan norma-norma, politik,etnis, dan agama
dapat menimbulkan perubahan sosial-budaya.
Blummer
melihat signifikansi gerakan sosial dalam pengaruhnya terhadap penciptaan
nilai-nilai baru yang menggantikan anutan-anutan lama
di masyarakat. Hal ini menjadi salah satu indikator untuk mengukur
capaian-capaian gerakan sosial sebagai kekuatan perubahan yang merembesi sistem
nilai dalam suatu masyarakat. Gerakan sosial sebagai tindakan kolektif.
Sebagai
kekuatan penggerak masyarakat, gerakan sosial adalah sarana alternatif yang
menjadi pendorong perubahan ketika dimensi struktural kemasyarakatan tak
menghasilkan pemenuhan hak-hak dasar kemasyarakatan. Kecenderungan ini termuat
dalam pembacaan yang bersifat marxian ketika melihat ketimpangan ekonomi yang
dihasilkan oleh struktur kelas masyarakat atas dasar dominasi kapital oleh kelas masyarakat tertentu. Model gerakan
sosial marxian banyak kita temukan pada negara-negara belahan dunia ketiga yang
rentan akibat disparitas ekonomi sebagai penyebab ketidakpuasan masyarakat. Perubahan sosial adalah segala
perubahan-perubahan kemasyarakatan di dalam suatu masyarakat, yang mempengaruhi
sistem sosialnya termasuk didalamnya nilai-nilai, sikap dan perilaku diantara
kelompok-kelompok dalam masyarakat (Soekanto, 1992:337)
Ø Gerakan payung Hongkong juga dapat
diamati sebagai tindakan kolektif yang berorientasikan perubahan struktur
politik. Melalui pendudukan basis-basis wilayah tempat perputaran ekonomi,
gerakan ini dapat diterjemahkan sebagai bentuk sikap-sikap yang keluar dari
sikap-sikap intitusi politik. Hampir ribuan kaum terpelajar turun ke jalan
untuk memberikan sikapnya terhadap sistem politik yang dianggap tidak
merepresentasikan semangat demokrasi. Gerakan pendudukan yang terkenal dalam
revolusi payung adalah gerakan ocuppy love and peace.
Dari sisi yang lain, revolusi payung adalah ungkapan ketidakpuasan
kaum terpelajar dari sistem politik yang diterapkan di Hongkong. Zald dan
Berger tentang ketidakpuasan berupa keluhan yang menjadi pendorong dari
lahirnya perubahan sosial. Sebagaimana dalam teori perubahan sosial penyebab
dari perubahan sosial dibedakan atas dua golongan besar, yaitu: perubahan yang
berasal dari masyarakat itu sendiri dan perubahan yang berasal dari luar
masyarakat. Dalam studi kasus revolusi payung ini
perubahan sosial terjadi karena dari masyarakat itu sendiri, yaitu dengan
adanya pertentangan dan pemberontakan. Sebagai proses sosial,
pertentangan (konflik) merupakan proses disosiatif, namun selalu berakibat
negatif. Sebenarnya, hubungan antara pertentangan dengan perubahan
sosial-budaya bersifat timbal balik, yaitu pertentangan di suatu masyarakat
dapat memungkinkan terjadinya perubahan sosial-budaya, dan sebaliknya perubahan
sosial budaya di dalam masyarakat dapat memungkinkan terjadinya
pertentangan.
Apabila dilihat dari tipe gerakan yang terjadi, gerakan yang
dipelopori oleh Joshua Wong bersama ratusan pelajar belumlah sampai pada jenis
gerakan yang bersifat menyeluruh dalam hal perombakan seluruh sistem kehidupan.
Tetapi hal ini dimungkinkan apabila dalam prosesnya mengalami perluasan isu
yang berdampak kepada seluruh dimensi kehidupan masyarakat. Pada tingkatan ini,
gerakan yang bersifat revolusioner menjadi tindak lanjut dari proses perubahan
yang ditimbulkan gerakan sosial sebelumnya.
Pendudukan yang berlangsung selama dua bulan ini, setidaknya
menarik minat media-media internasional dalam hal keikutsertaan kaum pelajar
sebagai penggerak utama revolusi payung. Di satu sisi keikutsertaan kaum
pelajar ini akhirnya mendorong elemen masyarakat lain agar turut mengambil
peran dalam perubahan yang mereka inginkan. Dalam studinya Ign Mahendra
mengungkapkan bahwa gerakan yang dipelopori kaum terdidik dapat menjadi bagian
dari gerakan sosial ataupun malah secara kualitatif akan berubah menjadi
gerakan politik. kaum terpelajar sebagai agen perubah menjadi kelas masyarakat
yang dapat menyerap sentimen-sentimen politik dibandingkan golongan masyarakat
yang lain. Hal ini didorong karena kaum terpelajar sangat sensitif terhadap
perubahan yang berlangsung ditengah proses dinamika masyarakat. Dengan begitu,
kalangan terdidik malah menjadi barometer yang merefleksikan animi yang
beregerak dalam masyarakat.
4.
Teori Simbolik
Penggunaan simbol secara popular dalam
masyarakat sangat bervariasi simbol digunakan untuk mendiskusikan suatu objek,
pribadi-pribadi, tindakan yang berhubungan dengan kepentingan masyarakat atau
individu. Berbagai contoh penggunaan simbol dalam kehidupan baik dalam politik,
ekonomi, ekologi atau dalam hubungan internasional, dapat diamati dalam bentuk
ungkapan kata, benda, atau lambing-lambang tertentu guna mempersentasikan
“makna” yang melekat dan terkait dalam setiap kejadian (event) kehidupan.
Asumsi-asumsi interaksionnis simbolik
berdasarkan karya Herbert Blummer sebagai berikut:
1. Manusia
bertindak terhadap sesuatu atas dasar asumsi internilai simbolik yang dimiliki
sesuatu itu (kata benda atau isyarat) dan bermakna bagi mereka.
2. Makna-makna
itu merupakan hasil dari interaksi sosial dalam masyarakat manusia.
3. Makna-makna
yang muncul dari simbol-simbol yang dimodifikasi dan ditangani melalui proses
penafsiran yang digunakan oleh setiap individu dalam keterlibatannya dengan
benda-benda dan tanda-tanda yang dipergunakan.
Ø Simbol
adalah sesuatu yang melambangkan, mewakili atau menyatakan hal yang lain dalam
suatu budaya. Simbol dapat mewakili gagasan, emosi, nilai, keyakinan, sikap,
atau peristiwa. Simbol dapat berupa apa saja. Penggunaan simbol membantu
memperkuat rasa kesatuan dan komitmen antarindividu. Dalam demonstrasi besar-besaran di
Hongkong, dijuluki sebagai revolusi payung. Karena para demonstran yang
berpartisipasi dalam aksi tersebut membawa payung. payung mempunyai fungsi
alternatif selain menahan panas dan hujan. Payung juga digunakan untuk
membendung tembakan gas air mata saat terjadi bentrokan antara aparatur Negara
dengan para demostran, payung dijadikan sebagai pelindung mereka. serta
memiliki simbol protes damai. "Pemandangannya begitu kontras. Di satu sisi
ada kebrutalan polisi, sedangkan di sisi lain ada demonstran yang menggunakan
payung. Payung telah berubah dari obyek sehari-sehari menjadi simbol perlawanan.
Payung menjadi simbol demonstrasi damai sekaligus perlawanan di Hong Kong. Sebagai
perlindungan terhadap serangan gas air mata, mereka menggunakan payung. Polisi
menggunakan tameng sebagai bentuk pelindungan dirinya tetapi para demonstran
menggunakan payung sebagai bentuk perlindungan diri dan perlawanan terhadap
pemerintahan.
5. Teori Aksi
Beberapa
asumsi Fundamental teori aksi yang dikemukakan oleh hinkle
a. Tindakan manusia muncul dari
kesadarannya sendiri sebagai subyek dan dari situasi eksternal dalam posisinya
sebagai objek.
b. Sebagai suyek manusia bertindak atau
berperilaku untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu. Jadi tindakan manusia bukan tanpa
tujuan.
c. Dalam bertindak manusia menggunakan
cara, teknik, prosedur, metode serta perangkat yang diperkirakan cocok untuk
mencapai tujuan tersebut.
d.
Manusia
memilih, menilai, dan mengevaluasi terhadap tindakan yang akan, sedang dan yang
telah dilakukan.
Parson memilliki konsep voluntarisme
yang menempatkan teori aksi ke dalam paragdima definisi sosial. Singkatnya
voluntarismme adalah kemampuan individu melakukan tindakan dalam arti
menetapkan cara atau alat dari sejumlah alternative yang tersedia dalam rangka
mencapai tujuannya.
Aktor menurut konsep voluntarisme ini adalah pelaku aktif dan kreatif serta
mempunyai kemampuan menilai dan memilih dari alternative tindakan. Walaupun aktor
tidak memiliki kebebasan total, namun ia mempunyai kemauan bebas dalam memilih
berbagai alternatif tindakan. Berbagai tujuan yang hendak dicapai, kondisi dan
norma serta situasi penting lainnya kesemuannya membatasi kebebasan aktor.
Tetapi disebelah itu aktor adalah manusia yang aktif kreatif dan evaluatif.
Ø Dalam kasus ini, dimana terjadinya revolusi payung
ini didasari kesadaran dari setiap individu masing-masing untuk mendapatkan
haknya dan kebebesan yang di inginkan. Disini
munculah sebuah sosok Joshua yang langsung turun kembali ke jalan dan kembali
memimpin gerakan yang kini dikenal dengan nama "Revolusi Payung" itu.
Nama Joshua sudah dikenal sejak dia berusia 15 tahun.
Saat itu dia juga memimpin gerakan pelajar "Scholarism" yang sukses
mencegah sistem pendidikan nasional dimasukkan ke sekolah-sekolah Hongkong.Sistem yang hendak
diterapkan pemerintah China itu mengharuskan para pelajar menumbuhkan dan
mengembangkan sebuah "keterikatan emosional dengan China".Dengan
menggunakan akses dunia maya Joshua membawa gerakan "Scholarism" menjadi lebih
dikenal dunia. Di dunia maya Joshua dan Scholarism memiliki pengikut hingga
beberapa ratus ribu orang dan ternyata kepopuleran Joshua di dunia maya itu
sangat berguna saat perlawanan massa kembali muncul di Hongkong. Disaat
itulah Joshua dilihat sebagai ancaman bagi pemerintahan Beijing maka dari itu
lah pemerintah memblokir akses internetnya. Seperti yang disebutkan dalam teori aksi yaitu kondisi dan norma serta situasi
penting lainnya kesemuannya membatasi kebebasan aktor. Tetapi disamping itu aktor
adalah manusia aktif dan kreatif. Kembali kepada asumsi yang dikemukakan oleh
hinkle yang salah satunya adalah dalam
bertindak manusia menggunakan cara, teknik, prosedur, metode serta perangkat
yang diperkirakan cocok untuk mencapai tujuan tersebut. Karena dianggap
telah mengancam jalannya sistem pemerintahan dan dapat memicu konflik maka dari
itu Joshua sempat di tangkap dan dihentikan akses internetnya itu yang dapat
disebut sebagai hal-hal yang membatasi kebebasan aktor. Karena menurut teori
aksi aktor adalah manusia yang kreatif. di dalam kasus ini meskipun akses
internet Joshua dihentikan Joshua terpaksa menggunakan FireChat, sebuah
aplikasi pengiriman pesan berbasis Bluetooth yang bisa berfungsi bahkan saat
jaringan telepon sangat sibuk, maka gerakan "Revolusi Payung" dengan
cepat mendapat 100.000 pendukung tambahan dalam 24 jam dan melibatkan 800.000
percakapan sejak itu. Dengan cara itulah Joshua bertindak guna dapat melakukan
aksinya untuk mencapai tujuan yaitu menolak pemilihan tidak langsung.
DAFTAR
PUSTAKA
Ritzer, George. 2010. Sosiologi Ilmu Pengetahuan Berparadigma
Ganda. Jakarta:PT RajaGrafindo Persada.
Pelly, Usman dan
Menanti, asih. 1994. Teori-Teori Sosial
Budaya. Jakarta: Departemen Pendidikan dan kebudayaan.
Nasikun.2012. Sistem Sosial Indonesia. Jakarta: PT
RajaGrafindo Persada.
Rita Uli Hutapea (2014)aksi demo besar-besaran di hongkong. http://news.detik.com/read/2014/09/29/165353/2704443/1148/,
desember 2014.