Minggu, 11 Desember 2016

Bersahabat dengan Banjir




Jakarta banjir ? Ah sudah biasa. Mendengar Jakarta banjir bukan lagi suatu hal yang tabuh, bahkan sudah akrab ditelinga masyarakat. Hal  itu sudah menjadi tradisi tahunan di Jakarta dan menjadikannya hal yang  biasa. Secara tidak langsung masyarakat Jakarta bersahabat dengan banjir. Seperti layaknya seorang sahabat, orang yang selalu ada disaat masa sulit. Begitu pula masyarakat Jakarta menyikapi banjir di lingkungannya. Meskipun menyulitkan, justru kesusahannya itu dijadikan kesenangan. Jakarta akan banyak muncul “Waterboom” gratis secara tiba-tiba dan dijadikan seolah  sebagai tempat rekreasi yang mengasyikan.

                Tak luput dengan Kampusku yang menjadi langganan banjir disetiap musim penghujan datang. Kampusku bisa dibilang satu satunya universitas negeri di Jakarta. Bukan bermaksud sombong tapi Sudah negeri di Jakarta pula sombongnya jadi dua kali kan tuh, hehe. Realita tak sebanding ekspetasi yang dibayangkan, sebagai kampus yang dekat dengan pemerintahan ibukota Negara namun cukup memprihatinkan. Ibaratkan seperti kasih ibu tiri kepada anak tirinya, kurang diperhatikan dan haus akan kasih sayang(oalah kok jd baper).
                Ini serius, seharusnya sebagai universitas negeri yang notabennya hanya satu-satunya di wilayah Jakarta bisa lebih mudah dikontrol kondisi dan keadaannya dan mendapatkan perhatian ‘lebih’ dibandingkan daerah lain karena termasuk ke dalam provinsi Jakarta yang merupakan kota besar dan ibukota Negara Indonesia namun nyatanya tidak didapatkan. Disamping masalah banjir yang sering melanda kampusku ini, juga buku-buku yang tersedia di perpustakaan kurang update alias zadoel (zaman dulu) ditambah jika banjir fakultasku yang merupakan wilayah paling parah terkena banjir sekaligus merendam perpustakaan yang ada didalamnya, buku-buku yang sudah minim semakin sedikit :( skripsi-skripsi yang telah dikerjakan susah-susah oleh para pejuang sarjana rusak. Bahkan sertifikat pendidikan karakter yang telah dilaksanakan oleh angkatanku sefakultas ikut lenyap tertelan air.




            (Banjir di Depan FBS (Fakultas bahasa dan seni) dan FIS (Fakultas ilmu sosial)

                Bagiku banjir di Jakarta memiliki kenangan tersendiri meskipun dalam keadaan duka tapi bila mengingatnya aku tertawa. Bila hujan deras mengguyur kampusku lebih dari sejam saja, air sudah menggenang dimana-mana. Bila sudah seperti itu mahasiswa yang masih terjebak dalam kampus sudah seperti korban evakuasi di wilayah pelosok yang terisolasi, gak ada wibawanya :D celana digulung, nenteng-nenteng sepatu tidak mencerminkan civitas academica.  Selokan yang sering memakan korban, yang terpelosok jatuh kedalamnya juga banyak menghanyutkan sepatu mahasiswa akibat banjir semua terlihat sama hanya air berwarna kecoklatan nan bau dimana-mana. Bahkan kadang perlu perahu karet untuk mengarungi samudera di kampusku itu karena banjir.


                Banjir juga bisa menjadi keberuntungan, bila Jakarta semalaman diguyur hujan banyak dosen yang mengabari tidak masuk kelas alias libur atau karena musim penghujan puncaknya pada bulan desember-januari yang juga merupakan jadwal kampusku UAS tidak jarang merubah sistem ujian beberapa mata kuliah menjadi take home tentu bagi mahasiswa ini sebuah keberuntungan atau berkah dari hujan dan banjir.
                Selebihnya, selepas kekurangan  dari kampusku tidak membuat cintaku padanya luntur, karena dikampus itu banyak memberiku pengalaman, ilmu, dan teman, kalau jodoh? Hmm.. belum kelihatan. Untuk saat ini kampusku sudah dalam proses pembangunan yang bisa dikatakan cukup besar semoga bisa menjadi kampus yang lebih baik dan selalu baik.

                Intinya, Bersahabat dengan banjir mungkin sebutan itu cocok untuk masyarakat Jakarta saat ini, layaknya seseorang disebut sahabat. Dia selalu ada, terbiasa dengannya, akrab, menerima kekurangan dan kelebihannya, susah senang bersama. Jakarta sampai saat ini masih menjadi langganan banjir, tidak memandang daerah pemukiman elite ataupun kumuh, kekurangannya diterima dengan mendatangkan sisi kelebihannya. Apakah warga Jakarta akan selalu ingin bersahabat dengan banjir? Semoga warga Jakarta bisa memiliki sahabat-sahabat yang lebih baik mas kini, nanti, dan masa yang akan datang.

Jumat, 11 November 2016

ANALISIS FENOMENA SOSIAL MENGGUNAKAN TEORI-TEORI SOSIAL BUDAYA



“REVOLUSI PAYUNG”

Oleh:

Adinda 




Latar Belakang

Sejak manusia mulai hidup bermasyarakat, maka sejak saat itu sebuah gejala yang disebut masalah sosial berkutat didalamnya. Sebagaimana diketahui, dalam realitas sosial memang tidak pernah dijumpai suatu kondisi masyarakat yang ideal. Dalam pengertian tidak pernah dijumpai kondisi yang menggambarkan bahwa seluruh kebutuhan setiap warga masyarakat terpenuhi, seluruh prilaku kehidupan sosial sesuai harapan atau seluruh warga masyarakat dan komponen sistem sosial mampu menyesuaikan dengan tuntutan perubahan yang terjadi. sejak tumbuhnya ilmu pengetahuan sosial yang mempunyai obyek studi kehidupan masyarakat, maka sejak itu pula studi masalah sosial mulai dilakukan. hingga pada akhirnya semakin memperlebar jalan untuk memperoleh pandangan yang komprehensif serta wawasan yang luas dalam memahami dan menjelaskan fenomena sosial.

Dalam kehidupan bernegara, begitu banyak Masalah. Mulai dari masalah ekonomi, masalah pendidikan, masalah kesehatan, masalah sosial, dll. Semua masalah tentunya tidak dapat diatasi dengan cepat. Karena terkadang masalah tersebut terjadi karena adanya masalah kecil yang belum diselesaikan, maka masalah-masalah yang lain pun akan datang bergantian. Dalam masalah tersebut menimbulkan permasalahan yang mampu dianalisis dalam teori sosiologi dan antropologi sebagai ilmu yang mengkaji segala sesuatu yang berkaitan dengan sosial dan budaya yang ada pada masyarakat. Fenomena sosial yang akan dianalisis adalah mengenai “Aksi Demonstrasi besar-besaran di Hongkong yang dijuluki “Revolusi Payung”. Peristiwa tersebut saya angkat karena sangat umum terjadi di sebuah Negara tetapi yang menjadi sangat menarik dalam kasus ini adalah seorang pemimpin dari demonstran itu sendiri yang masih dibawah umur yang sebelumnya pun telah menjadi pemimpin untuk menolak pendidikan nasional masuk ke sekolah-sekolah di Hongkong dan gerakan yang dipimpinnya itu berhasil serta dapat mengagalkan masuknya pendidikan nasional tersebut. Lalu payung, Payung yang digunakan para demonstran saat terjadinya bentrok dengan polisi. Payung dijadikan sebagai pelindung bukan hanya untuk panas atau hujan tetapi sebagai pelindung para demonstran dari gas air mata dan merica yang dilakukan oleh para polisi dan menjadikan payung sebagai simbol perdamaian. Peristiwa ini akan saya analisis menggunakan pandangan teori fungsional-struktural, konflik, perubahan sosial, simbolik, dan aksi.

STUDI KASUS

Aksi Demo Besar-besaran di Hong Kong Dijuluki 'Revolusi Payung'


Hong Kong, - Ada yang menarik dari aksi demonstrasi pro-demokrasi yang berlangsung  di Hong Kong. Aksi demo yang dilakukan ribuan warga ini dijuluki sebagai "revolusi payung".
payung dengan cepat muncul sebagai simbol unjuk rasa yang sejak Minggu, 28 September 2014 kemarin telah melumpuhkan pusat finansial Asia tersebut. Aksi demo yang dilakukan ribuan orang tersebut berubah ricuh setelah polisi melepaskan gas air mata dan semprotan merica ke lautan manusia.

Para demonstran tidak siap menghadapi tindakan aparat polisi tersebut. Maka payung pun menjadi senjata mereka untuk melindungi diri dari gas air mata dan semprotan merica.
"Payung mungkin adalah simbol paling menonjol dari aksi protes Hongkong. Demonstrasi kami biasanya damai, bahkan semprot merica sangat luar biasa," ujar Claudia Mo, politikus pro-demokrasi.
"Sekarang semprotan merica sudah menjadi sangat biasa, kami pun harus menggunakan payung untuk melawannya. Polisi punya perisai yang sangat berkualitas -- kami cuma punya payung," cetusnya seperti dilansir AFP, Senin (29/9/2014).

Kata-kata "umbrella revolution" sempat menjadi tren di media sosial hari ini. Dalam aksi demonya, para demonstran memprotes kebijakan pemerintah pusat di Beijing yang menghapus pemilihan kepala pemerintahan hongKong secara langsung. Sebagian besar demonstran adalah mahasiswa dan para pelajar SMA, yang pekan lalu memboikot kelas-kelas sebagai upaya menekan pemerintah Beijing.

Pada bulan lalu, Beijing mengeluarkan kebijakan menghapuskan sistem pemilihan langsung untuk pemimpin kota Hongkong di periode 2017 mendatang. Dengan ini China ingin memastikan pemimpin Hong Kong berikutnya loyal pada Beijing. Para pemimpin partai komunis di Beijing khawatir bila Hong Kong dibiarkan dengan sistem yang berlaku sekarang, tuntutan demokratisasi bisa menjalar di kawasan China daratan.

Penjabaran Kasus :

Revolusi payung merujuk pada gerakan kaum muda pro demokrasi di Hongkong yang muncul pada 28 september 2014 lalu. Gerakan yang dipelopori oleh kalangan pelajar ini merupakan respon terhadap kebijakan RRC atas mekanisme pemilu Hongkong 2017 nanti. Selain dari itu, gerakan ini dimotivasi atas dasar kekhawatiran masyarakat Hongkong, terutama kaum terpelajar atas kebebasan yang kian merosot oleh kawasan bekas koloni Inggris ini.
Perlu juga diketahui, Hongkong merupakan bagian pemerintahan Cina yang diserahkan Inggris pada 1997 lalu. Semenjak penyerahan ini, Cina menerapkan kebijakan satu Negara dua sistem demi keberlangsungan otonomi Hongkong.  Namun semenjak perpindahan tangan ini, Hongkong, terutama kalangan eksekutifnya lebih pro terhadap pemerintahan Cina dibandingkan dengan warga Hongkong sendiri.

Kebebasan yang kian terbatasi sebenarnya hanyalah puncak gunung es dari persoalan yang telah lama tertimbun. Revolusi payung tidak saja mempersoalkan mekanisme pemilihan pimpinan eksekutif yang selama ini dipilih langsung oleh dewan partai komunis Tiongkok, melainkan adanya migrasi penduduk daratan yang masuk ke Hongkong dengan mengambil lahan pekerjaan penduduk lokal. Kaum muda juga tidak puas dengan keadaan ekonomi yang dikuasai Taipan kaya di wilayah itu.

Gerakan sosial Hongkong ini telah berlangsung dua bulan lamanya semenjak September 2014. Dampak dari gerakan ini juga memberikan pengaruh politis terhadap keberlangsungan pemerintahan dewan partai Tiongkok di Hongkong. Oleh sebab, tuntutan yang menjadi perhatian utama dari gerakan payung ini adalah perubahan sistem politik yang tidak memberikan kebebasan memilih bagi warga Hongkong.


Analisis Kasus :

1.      Teori Fungsionalisme dan strukturalisme
Masyarakat itu terbentuk dan tergerakan dengan sebuah sistem yang sudah terstruktur. Dimana di dalam struktur terdapat element-element yang memiliki fungsi masing-masing. Dan terdapat aturan-aturan yang sudah terstruktur di dalamnya untuk mencapai sebuah ketercapaian tertentu. Talcott Parson memperkenalkan fungsionalisme struktural sebagai teori dengan menekankan 4(empat) asusmsi[1] :
a.       Setiap masyarakat secara relative adalah tetap, struktur unsure-unsurnya relative stabil.
b.      Setiap masyarakat tersusun dari unsure-unsur yang terintegrasi secara baik
c.       Setiap unsur dalam masyarakat mempunyai fungsi, yakni memberikan kontribusi terhadap pemeliharaan keutuhan sebagai sebuah sistem.
d.      Setiap fungsi struktur sosial di dasarkan atas konsesnsus terhadap nilai-nilai di antara anggota-anggotanya.
Asumsi ini menekankan  unsure 1)stabilitas, 2) integrasi 3)fungsi koordinasi, dan 4)konsesnsus. 
Menurut teori fungsionalisme struktural masyarakat merupakan suatu sistem sosial yang terdiri atas bagian-bagian atau elemen yang saling berkaitan dan saling menyatu dalam keseimbangan.[2] Jadi perubahan yang terjadi pada suatu bagian akan membawa perubahan pula terhadap bagian lain. Tetapi di dalam teori fungsionalisme masyarakat berada dalam kondisi statis atau tepatnya bergerak dalam kondisi keseimbangan. Yang mana di dalam setiap elemen memberikan dukungan terhadap stabilitas.
Ø    Dalam sebuah Negara di kehidupan bermasyarakatnya. Negara itu sendiri memiliki sistem yang terstruktur sejak Negara itu berdiri untuk menjalankan fungsi-fungsinya dengan baik sehingga tujuan dalam bernegara tersebut tercapai.  Secara umum, pembagian kekuasaan dalam Negara itu ada tiga legislatif(pembuat aturan/undang-undang) eksekutif(eksekutor), yudikatif(pengawal). Yang menjalankan suatu sistem pemerintahan yang saling berkaitan antara satu dengan yang lain. Jika salah satu ada yang cacat maka akan mempengaruhi yang lain. Seperti halnya di Negara china. China merupakan Negara yang menerapkan kebijakan 1 negara 2 sistem. Yang mana daerah yang diberi hak otonom itu adalah Hongkong yang disebabkan pada saat perang dunia II Hongkong merupakan daerah bekas jajahan koloni Inggris yang memakai sistem pemerintahan seperti Negara inggris lalu di kembalikan kepada china pada tahun 1997. China merupakan Negara komunis non demokratis sedangkan Inggris menerapkan sistem demokratis di Hongkong pada masa kolonialnya. Maka dari itu hongkong diberikan hak otonomi didalam sistem pemeritahannya. Tetapi saat ini RRC menetapkan kebijakan untuk melakukan pemilihan tidak langsung pimpinan eksekutif di Hongkong. Hal tersebut tidak mencerminkan masyarakat yang demokratis.  Pada kasusnya ini telah terjadi perubahan struktural fungsional terhadap sistem yang telah berlaku pada sebelumnya. Tetapi dengan adanya wewenang yang disahkan lah salah satu yang dapat memelihara stabilitas. Ditinjau  dari penganut teori fungsional ini memandang segala pranata sosial/struktur sosial yang ada dalam suatu masyarakat tertentu serba fungsional artian positif dan negatif.[3] Merton mengajukan pula konsep dis-fungsi. Sebagaimana  struktur sosial atau pranata sosial dapat menyumbang terhadap pemeliharaan fakta-fakta sosial lainnya. Merton meyakini mengenai sifat fungsi ada dua yaitu : manifest(yang diharapkan) dan laten(yang tidak diharapkan). Walaupun demikian fungsi manifest dan fungsi laten saling berkaitan dan memiliki hubungan walaupun diantaranya terdapat pihak yang dirugikan. Tetapi dilihat kembali dari salah asumsi parson yaitu setiap unsur dalam masyarakat mempunyai fungsi, yakni memberikan kontribusi terhadap pemeliharaan keutuhan sebagai sebuah sistem. Kembali ke asumsi dasarnya teori fungsionalisme adalah bahwa setiap struktur dalam sistem sosial, fungsional terhadap yang lain. Sebaliknya kalau tidak fungsional maka struktur itu tidak akan ada atau hilang dengan sendirinya.
            Tetapi menurut dahrendorf fungsionalisme struktural menyangsikan bahwa kita tidak dapat memahami semua masalah realitas sosial. Masyarakat menurut dahrendorf(1986:197) “bermuka dua: konsensus dengan konflik, integrasi dan pertentangan”. Teori fungsionalisme-struktural ini mengabaikan tentang adanya konflik(pertentangan).

2.      Teori Konflik
Di dalam teori konflik masyarakat senantiasa berada di dalam proses perubahan yang ditandai pertentangan. Teori konflik melihat bahwa setiap elemen memberikan sumbangan terhadap disentegrasi sosial[4].
            Dahrendorf mengemukakan ciri-ciri konflik dalam organisasi sosial sebagai berikut (sukanto 1988:79)[5] :
1.      Sistem sosial senantiasa berada dalam keadaan konflik.
2.      Konflik-konflik tersebut disebabkan karena adanya kepentingan-kepentingan yang bertentangan yang tidak dapat dicegah dalam struktur sosial masyarakat.
3.      Kepentingan-kepentingan itu cenderung berpolarisasi dalam dua kelompok yang saling bertentangan.
4.      Kepentingan-kepentingan yang saling saling bertentangan mencerminkan deferensiasi distribusi kekuasaan di antara kelompok-kelompok yang berkuasa dan dikuasai.
5.      Penjelasan suatu konflik akan menimbulkan perangkat kepentingan baru yang saling bertentangan, yang dalam kondisi tersebut menimbulkan konflik.
6.      Perubahan sosial merupakan akibat-akibat konflik yang tidak dapat dicegah pada berbagai tipe pola-pola yang telah melembaga.

Ø  Konflik muncul karena perbedaan kepentingan objektif antara kelompok dominan (pihak yang menguasai) dengan kelompok yang didominasi( pihak yang dikuasai) dalam situasi-situasi tertentu. Seperti dalam studi kasus revolusi payung yang terjadi di hongkong ini dimana terjadi konflik di dalam sebuah Negara. Adanya pertentangan dari rakyat kepada pemerintahannya. Atas kebijakan/wewenang yang diterapkan.  Teori konflik dahrendorf terdapat dua bagian pokok yang salah satunya itu diskusi-deskripsi umum: Kondisi-kondisi yang mengakibatkan konflik.(craib 1986:94)

Kondisi-kondisi yang menyebabkan terjadinya konflik di hongkong :
·         dipicu meningkatnya ketimpangan dan biaya hidup di tambah kemarahan warga akibat hubungan yang tidak berjalan harmonis antara pemerintah kota dan para elit financial sehingga memicu kekecewaan dikalangan pemuda
·         pergeseran sistem yang diterapkan di hongkong sebagai bekas daerah jajahan inggris yang menerapkan sistem demokrasi, yang telah kita ketahui cina menggunakan sistem komunis yang non demokratis.
·         ketidakpuasan dengan sistem ekonomi dan sistem pemerintahan dimana banyak warga dari dataran yang merebut lapangan pekerjaan mereka.
Sebuah konflik akan membentuk polarisasi antara kelompok yang menguasai dan kelompok yang dikuasai yang saling bertentangan.
Dahrendorf (1986:211) menyimpulkan preposisi didalam dua kerangka model sebagai berikut[6]:
1.      Pembagian wewenang dalam perserikatan adalah “penyebab utama” terbentuknya kelompok-kelompok yang bertentangan dan ;
2.      Dikotomi di dalam setiap perserikatan adalah penyebab terbentuknya dua (hanya dua) kelompok yang bertentangan.

Ø    Gerakan sosial aksi demontrasi besar-besaran di hongkong merupakan pertentangan antara masyarakat dan pemerintah setempat akibat ketidakpuasaan masyarakat terhadap sistem yang diberlakukan di Negara tersebut. Adanya aksi protes dari kalangan terpelajar dengan cara menduduki pusat-pusat pemerintahan serta dengan cara mogok kuliah/sekolah. Hal ini dilakukan untuk mengubah basis sosial dan politik yang dirasakan tak memuaskan. Pada kasus gerakan sosial pendudukan kaum pelajar Hongkong adalah contoh kongkrit bagaimana ketidakpuasaan yang dimaksud dikolektifkan menjadi tindakan bersama dihadapan umum saat menduduki pusat-pusat strategis kota Hongkong.

Di sisi lain sumber konflik yang terjadi di china tersebut karena Negara tersebut memiliki masyarakat yang majemuk seperti : benturan kepentingan politik, ideologi, dan agama(coser, 1997). Yang menjadi masalah disini adalah adanya perbedaan pandangan ideologi. Antara demokratis dan non demokratis. Komunis VS kapitalis sehingga munculnya ketidakserasian sosial yang mengakibatkakan pertentangan dan munculnya konflik. Menurut teori konflik, masyarakat disatukan dengan “paksaan”. Maksudnya, keteraturan yang terjadi di masyarakat sebenarnya karena adanya paksaan (koersi). Dengan adanya wewenang yang berlaku dan pranata-pranata sosial yang ada di masyarakat. Oleh karena itu, teori konflik lekat hubungannya dengan dominasi, koersi, dan power. Adanya sebuah konflik karena diinginkannya suatu perubahan. Konflik yang terjadi di hongkong melibatkan aparat kepolisian  Hong Kong harus menggunaan gas air mata untuk pertama kalinya sejak 1967, dalam menghadapi aksi demonstrasi pro-demokrasi yang kini telah melumpuhkan aktivitas di sentral bisnis keuangan Hong Kong. Demonstrasi yang dijuluki revolusi payung itu dilakukan selama beberapa hari. Konflik yang terjadi di hongkong ini bukan semata untuk mempertahankan nilai-nilai demokrasi, tetapi karena adanya kondisi ekonomi yang dirasakan adanya ketimpangan. Masyarakat dataran china telah banyak mengambil lahan pekerjaan penduduk lokal di hongkong. China melakukan sistem pemerintahan terpusat dimana ekonomi, pendidikan dll diatur oleh pemerintah pusat.hongkong merupakan salah satu sumber kekuatan ekonomi di China, tetapi masyarakat setempat merasakan ketidakpuasan terhadap pemerintahan saat ini. sebenarnya dengan adanya kebijakan penyeleksian untuk pemilihan pimpinan eksekutif merupakan sebagai bahan bakar atau pemicu terjadinya konflik terhadap masalah-masalah yang telah ada dan telah memuncak sehingga menimbulkan pertentangan(konflik). “hak pilih masyarakat sesungguhnya tidak akan diraih tanpa perlawanan warga," kata Joshua kepada harian South China Morning Post. Seperti pandangan teori konflik bahwa kehidupan sosial melahirkan konflik sosial. Oleh karena itu kekuasaan selalu memisahkan dengan tegas antara penguasa dan yang dikuasai maka di dalam masyarakat selalu terdapat dua golongan yang selalu bertentangan. Dengan adanya aksi protes besar-besaran dari masyarakat hongkong khususnya pelajar dan mahasiswa yang menentang kebijakan pemerintah setempat, yang dianggap menggeserkan nilai-nilai demokrasi yang ada. Aksi tersebut juga menunjukan adanya paksaan dan tuntutan dari masyarakat terhadap pemerintah untuk membatalkan kebijakan yang tidak di inginkan masyarakat setempat. aksi dengan massa yang besar merupakan kekuaatan untuk menciptakan sebuah perubahan. Jika konflik itu terjadi secara hebat maka perubahan yang timbul akan bersifat radikal. Begitu pula kalau konflik itu disertai oleh penggunaan kekerasan maka perubahan struktural akan efektif.[7] maka dari itu konflik atau pertentangan diperlukan untuk melakukan suatu perubahan.  
3.      Teori Perubahan Sosial
Perubahan sosial merupakan proses wajar dan akan berlangsung terus menerus. Namun, tidak semua perubahan sosial mengarah kearah yang positif. Perubahan dapat berasal dari masyarakat itu sendiri yaitu dengan adanya pertentangan atau pemberontakan (konflik). Pertentangan dalam nilai dan norma-norma, politik,etnis, dan agama dapat menimbulkan perubahan sosial-budaya.
Blummer melihat signifikansi gerakan sosial dalam pengaruhnya terhadap penciptaan nilai-nilai baru yang menggantikan anutan-anutan lama di masyarakat. Hal ini menjadi salah satu indikator untuk mengukur capaian-capaian gerakan sosial sebagai kekuatan perubahan yang merembesi sistem nilai dalam suatu masyarakat. Gerakan sosial sebagai tindakan kolektif.
Sebagai kekuatan penggerak masyarakat, gerakan sosial adalah sarana alternatif yang menjadi pendorong perubahan ketika dimensi struktural kemasyarakatan tak menghasilkan pemenuhan hak-hak dasar kemasyarakatan. Kecenderungan ini termuat dalam pembacaan yang bersifat marxian ketika melihat ketimpangan ekonomi yang dihasilkan oleh struktur kelas masyarakat atas dasar dominasi kapital oleh kelas masyarakat tertentu. Model gerakan sosial marxian banyak kita temukan pada negara-negara belahan dunia ketiga yang rentan akibat disparitas ekonomi sebagai penyebab ketidakpuasan masyarakat.  Perubahan sosial adalah segala perubahan-perubahan kemasyarakatan di dalam suatu masyarakat, yang mempengaruhi sistem sosialnya termasuk didalamnya nilai-nilai, sikap dan perilaku diantara kelompok-kelompok dalam masyarakat (Soekanto, 1992:337)[8]
Ø  Gerakan payung Hongkong juga dapat diamati sebagai tindakan kolektif yang berorientasikan perubahan struktur politik. Melalui pendudukan basis-basis wilayah tempat perputaran ekonomi, gerakan ini dapat diterjemahkan sebagai bentuk sikap-sikap yang keluar dari sikap-sikap intitusi politik. Hampir ribuan kaum terpelajar turun ke jalan untuk memberikan sikapnya terhadap sistem politik yang dianggap tidak merepresentasikan semangat demokrasi. Gerakan pendudukan yang terkenal dalam revolusi payung adalah gerakan ocuppy love and peace.

Dari sisi yang lain, revolusi payung adalah ungkapan ketidakpuasan kaum terpelajar dari sistem politik yang diterapkan di Hongkong. Zald dan Berger tentang ketidakpuasan berupa keluhan yang menjadi pendorong dari lahirnya perubahan sosial. Sebagaimana dalam teori perubahan sosial penyebab dari perubahan sosial dibedakan atas dua golongan besar, yaitu: perubahan yang berasal dari masyarakat itu sendiri dan perubahan yang berasal dari luar masyarakat.[9]  Dalam studi kasus revolusi payung ini perubahan sosial terjadi karena dari masyarakat itu sendiri, yaitu dengan adanya pertentangan dan pemberontakan. Sebagai proses sosial, pertentangan (konflik) merupakan proses disosiatif, namun selalu berakibat negatif. Sebenarnya, hubungan antara pertentangan dengan perubahan sosial-budaya bersifat timbal balik, yaitu pertentangan di suatu masyarakat dapat memungkinkan terjadinya perubahan sosial-budaya, dan sebaliknya perubahan sosial budaya di dalam masyarakat dapat memungkinkan terjadinya pertentangan.
Apabila dilihat dari tipe gerakan yang terjadi, gerakan yang dipelopori oleh Joshua Wong bersama ratusan pelajar belumlah sampai pada jenis gerakan yang bersifat menyeluruh dalam hal perombakan seluruh sistem kehidupan. Tetapi hal ini dimungkinkan apabila dalam prosesnya mengalami perluasan isu yang berdampak kepada seluruh dimensi kehidupan masyarakat. Pada tingkatan ini, gerakan yang bersifat revolusioner menjadi tindak lanjut dari proses perubahan yang ditimbulkan gerakan sosial sebelumnya.
Pendudukan yang berlangsung selama dua bulan ini, setidaknya menarik minat media-media internasional dalam hal keikutsertaan kaum pelajar sebagai penggerak utama revolusi payung. Di satu sisi keikutsertaan kaum pelajar ini akhirnya mendorong elemen masyarakat lain agar turut mengambil peran dalam perubahan yang mereka inginkan. Dalam studinya Ign Mahendra mengungkapkan bahwa gerakan yang dipelopori kaum terdidik dapat menjadi bagian dari gerakan sosial ataupun malah secara kualitatif akan berubah menjadi gerakan politik. kaum terpelajar sebagai agen perubah menjadi kelas masyarakat yang dapat menyerap sentimen-sentimen politik dibandingkan golongan masyarakat yang lain. Hal ini didorong karena kaum terpelajar sangat sensitif terhadap perubahan yang berlangsung ditengah proses dinamika masyarakat. Dengan begitu, kalangan terdidik malah menjadi barometer yang merefleksikan animi yang beregerak dalam masyarakat.

4.      Teori Simbolik
Penggunaan simbol secara popular dalam masyarakat sangat bervariasi simbol digunakan untuk mendiskusikan suatu objek, pribadi-pribadi, tindakan yang berhubungan dengan kepentingan masyarakat atau individu. Berbagai contoh penggunaan simbol dalam kehidupan baik dalam politik, ekonomi, ekologi atau dalam hubungan internasional, dapat diamati dalam bentuk ungkapan kata, benda, atau lambing-lambang tertentu guna mempersentasikan “makna” yang melekat dan terkait dalam setiap kejadian (event) kehidupan.
Asumsi-asumsi interaksionnis simbolik berdasarkan karya Herbert Blummer sebagai berikut[10]:
1.      Manusia bertindak terhadap sesuatu atas dasar asumsi internilai simbolik yang dimiliki sesuatu itu (kata benda atau isyarat) dan bermakna bagi mereka.
2.      Makna-makna itu merupakan hasil dari interaksi sosial dalam masyarakat manusia.
3.      Makna-makna yang muncul dari simbol-simbol yang dimodifikasi dan ditangani melalui proses penafsiran yang digunakan oleh setiap individu dalam keterlibatannya dengan benda-benda dan tanda-tanda yang dipergunakan.

Ø  Simbol adalah sesuatu yang melambangkan, mewakili atau menyatakan hal yang lain dalam suatu budaya. Simbol dapat mewakili gagasan, emosi, nilai, keyakinan, sikap, atau peristiwa. Simbol dapat berupa apa saja. Penggunaan simbol membantu memperkuat rasa kesatuan dan komitmen antarindividu. Dalam demonstrasi besar-besaran di Hongkong, dijuluki sebagai revolusi payung. Karena para demonstran yang berpartisipasi dalam aksi tersebut membawa payung. payung mempunyai fungsi alternatif selain menahan panas dan hujan. Payung juga digunakan untuk membendung tembakan gas air mata saat terjadi bentrokan antara aparatur Negara dengan para demostran, payung dijadikan sebagai pelindung mereka. serta memiliki simbol protes damai. "Pemandangannya begitu kontras. Di satu sisi ada kebrutalan polisi, sedangkan di sisi lain ada demonstran yang menggunakan payung. Payung telah berubah dari obyek sehari-sehari menjadi simbol perlawanan. Payung menjadi simbol demonstrasi damai sekaligus perlawanan di Hong Kong. Sebagai perlindungan terhadap serangan gas air mata, mereka menggunakan payung. Polisi menggunakan tameng sebagai bentuk pelindungan dirinya tetapi para demonstran menggunakan payung sebagai bentuk perlindungan diri dan perlawanan terhadap pemerintahan.

5.      Teori Aksi

   Beberapa asumsi Fundamental teori aksi yang dikemukakan oleh hinkle[11]
a.       Tindakan manusia muncul dari kesadarannya sendiri sebagai subyek dan dari situasi eksternal dalam posisinya sebagai objek.
b.      Sebagai suyek manusia bertindak atau berperilaku untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu. Jadi tindakan manusia bukan tanpa tujuan.
c.       Dalam bertindak manusia menggunakan cara, teknik, prosedur, metode serta perangkat yang diperkirakan cocok untuk mencapai tujuan tersebut.
d.      Manusia memilih, menilai, dan mengevaluasi terhadap tindakan yang akan, sedang dan yang telah dilakukan.

Parson memilliki konsep voluntarisme yang menempatkan teori aksi ke dalam paragdima definisi sosial. Singkatnya voluntarismme adalah kemampuan individu melakukan tindakan dalam arti menetapkan cara atau alat dari sejumlah alternative yang tersedia dalam rangka mencapai tujuannya.[12] Aktor menurut konsep voluntarisme ini adalah pelaku aktif dan kreatif serta mempunyai kemampuan menilai dan memilih dari alternative tindakan. Walaupun aktor tidak memiliki kebebasan total, namun ia mempunyai kemauan bebas dalam memilih berbagai alternatif tindakan. Berbagai tujuan yang hendak dicapai, kondisi dan norma serta situasi penting lainnya kesemuannya membatasi kebebasan aktor. Tetapi disebelah itu aktor adalah manusia yang aktif kreatif dan evaluatif.
Ø  Dalam kasus ini, dimana terjadinya revolusi payung ini didasari kesadaran dari setiap individu masing-masing untuk mendapatkan haknya dan kebebesan yang di inginkan.   Disini munculah sebuah sosok Joshua yang langsung turun kembali ke jalan dan kembali memimpin gerakan yang kini dikenal dengan nama "Revolusi Payung" itu. Nama Joshua sudah dikenal sejak dia berusia 15 tahun. Saat itu dia juga memimpin gerakan pelajar "Scholarism" yang sukses mencegah sistem pendidikan nasional dimasukkan ke sekolah-sekolah Hongkong.Sistem yang hendak diterapkan pemerintah China itu mengharuskan para pelajar menumbuhkan dan mengembangkan sebuah "keterikatan emosional dengan China".Dengan menggunakan akses dunia maya Joshua membawa gerakan "Scholarism" menjadi lebih dikenal dunia. Di dunia maya Joshua dan Scholarism memiliki pengikut hingga beberapa ratus ribu orang dan ternyata kepopuleran Joshua di dunia maya itu sangat berguna saat perlawanan massa kembali muncul di Hongkong. Disaat itulah Joshua dilihat sebagai ancaman bagi pemerintahan Beijing maka dari itu lah pemerintah memblokir akses internetnya. Seperti yang disebutkan dalam teori aksi yaitu kondisi dan norma serta situasi penting lainnya kesemuannya membatasi kebebasan aktor. Tetapi disamping itu aktor adalah manusia aktif dan kreatif. Kembali kepada asumsi yang dikemukakan oleh hinkle yang salah satunya adalah dalam bertindak manusia menggunakan cara, teknik, prosedur, metode serta perangkat yang diperkirakan cocok untuk mencapai tujuan tersebut. Karena dianggap telah mengancam jalannya sistem pemerintahan dan dapat memicu konflik maka dari itu Joshua sempat di tangkap dan dihentikan akses internetnya itu yang dapat disebut sebagai hal-hal yang membatasi kebebasan aktor. Karena menurut teori aksi aktor adalah manusia yang kreatif. di dalam kasus ini meskipun akses internet Joshua dihentikan  Joshua terpaksa menggunakan FireChat, sebuah aplikasi pengiriman pesan berbasis Bluetooth yang bisa berfungsi bahkan saat jaringan telepon sangat sibuk, maka gerakan "Revolusi Payung" dengan cepat mendapat 100.000 pendukung tambahan dalam 24 jam dan melibatkan 800.000 percakapan sejak itu. Dengan cara itulah Joshua bertindak guna dapat melakukan aksinya untuk mencapai tujuan yaitu menolak pemilihan tidak langsung.

DAFTAR PUSTAKA
Ritzer, George. 2010. Sosiologi Ilmu Pengetahuan Berparadigma Ganda. Jakarta:PT RajaGrafindo Persada.
Pelly, Usman dan Menanti, asih. 1994. Teori-Teori Sosial Budaya. Jakarta: Departemen Pendidikan dan kebudayaan.
Nasikun.2012. Sistem Sosial Indonesia. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.
Rita Uli Hutapea (2014)aksi demo besar-besaran di hongkong. http://news.detik.com/read/2014/09/29/165353/2704443/1148/, desember 2014.
Evan Hardoko (2014). Joshua wong remaja penggerak revolusi payung. http://nationalgeographic.co.id /berita/2014/10/, desember 2014.






[1] Usman pelly dan Asih Menanti, Teori-Teori sosial Budaya, (Jakarta;departemen pendidikan dan kebudayaan, 1994),  Hlm.  60.
[2] Geogre ritzer, Sosiologi Ilmu Pengetahuan Berparadigma Ganda, (Jakarta;PT RajaGrafindo Persada, 2010), hlm. 21.
[3] George ritzer, Sosiologi Ilmu Pengetahuan Berparadigma Ganda, (Jakarta;PT RajaGrafindo Persada, 2010), hlm. 23.
[4] George ritzer, Sosiologi Ilmu Pengetahuan Berparadigma Ganda, (Jakarta;PT RajaGrafindo Persada, 2010), hlm. 26.
[5] Usman pelly dan Asih Menanti, Teori-Teori sosial Budaya, (Jakarta;departemen pendidikan dan kebudayaan,  1994), hlm. 61.
[6] Usman pelly dan Asih Menanti, Teori-Teori sosial Budaya, (Jakarta;departemen pendidikan dan kebudayaan, 1994), hlm. 62.
[7] George ritzer, Sosiologi Ilmu Pengetahuan Berparadigma Ganda, (Jakarta;PT RajaGrafindo Persada, 2010), hlm. 28.
[8] Usman pelly dan Asih Menanti, Teori-Teori sosial Budaya, (Jakarta;departemen pendidikan dan kebudayaan, 1994), hlm. 189.
[9] Usman pelly dan Asih Menanti, Teori-Teori sosial Budaya, (Jakarta;departemen pendidikan dan kebudayaan, 1994), hlm.191
[10] Usman pelly dan Asih Menanti, Teori-Teori sosial Budaya, (Jakarta;departemen pendidikan dan kebudayaan, 1994), hlm. 86-87.
[11] George ritzer, Sosiologi Ilmu Pengetahuan Berparadigma Ganda, (Jakarta;PT RajaGrafindo Persada, 2010), hlm. 46.
[12] Ibid.,hlm.49.