KULIAH KERJA NYATA….
Rasanya kali ini aku ingin
menulis tentang pengalamanku saat KKN. terlalu banyak moment suka maupun duka
yang aku dapatkan saat KKN. Cerita ini dimulai saat kami registrasi agar
terdaftar sebagai peserta KKN.
Mungkin bagi mahasiswa yang belum pernah merasakan KKN akan sangat malas
sekali melakukan serangkaian kegiatan tersebut, apalagi mendengar cerita tidak
enak dari kakak senior yang sudah merasakan kuliah kerja nyata. dimana kami
ditempatkan di desa desa terpencil jauh dari hiruk pikuk perkotaan, sulit akses
kendaraan, sulit air bersih dan kesulitan lainnya bila tinggal disuatu desa
terpencil. ‘Siap-siap hidup susah selama sebulan’ itu adalah sebagian besar
dari yang dipikirkan kami. Peserta kkn juga akan di kelompokan secara acak oleh
pihak LPM(Lembaga Pemberdayaan Masyarakat) di kampus. Mau tidak mau kami
dicampur baurkan oleh teman-teman dari jurusan dan fakultas yang berbeda-beda
yang mungkin banyak dari mereka yang tidak saling mengenal. Sebulan bersama
orang-orang yang sebelumnya belum kita kenal, dengan berbagai macam karakter
masing-masing yang mengharuskan kami beradaptasi dengan baik. Bagaimana tidak,
kami akan tinggal serumah bersama-sama, melakukan kegiatan bersama-sama tentu
memerlukan kerja sama yang kompak.
Team di
dusun Majasari, Pagaden-subang)
KKN yang merupakan suatu mata
kuliah pilihan yang bisa diambil ketika mahasiswa telah menempuh 100 SKS atau
lebih. Saat angkatan kami tiba-tiba KKN menjadi mata kuliah wajib yang harus
diambil mahasiswa tingkat 3 dan 4 yang belum mengambil mata kuliah KKN. Aku
mengambil mata kuliah KKN pada gelombang pertama karena pikirku lebih cepat
dilalui lebih baik. pada saat itu peserta KKN yang terdaftar sekitar 2.400 org
pada gelombang pertama. Namun, ada ada saja isu yang membuat kami resah, kami
tidak diberikan hak kami yaitu uang sebagai bekal kami untuk hidup sebulan dan
melakukan program pemberdayaan desa tidak akan cair. Sebelum kepergian kami ke
desa masing-masing diadakan terlebih dahulu sosialisasi dengan pihak kampus dan
LPM. Kami menuntut agar uang yang merupakan hak mahasiswa KKN cair sebelum kami
berangkat. Dan Alhamdulillah uang itu cair sebesar 550.000 untuk keperluan
hidup selama 28 hari dan keperluan program kerja yang akan kami lakukan selama
disana. Aku mendapatkan desa pagaden, subang sebagai tempatku melakukan KKN.
Dan aku memiliki 9 teman seperjuangan lainnya yang akan hidup bersamaku selama
28hari di desa. Di Pagaden ini
sebenarnya ada 3 kelompok yang terdiri dari 10 orang tiap masing-masing
kelompoknya. Hanya saja kami dipencar ke dusun-dusun yang berbeda di Pagaden
yaitu dusun Majasari( team majas) dusun Wanakersa (team Wankers) dan desa
Kamarung (Team kamarungers).
Makan hari pertama,
ada dagingnya :D
Karena cowok dikelompok kami hanya ada dua orang saja, kami sepakat
untuk menyematkan mereka menjadi ketua dan wakil ketua kelompok kami dan mereka
juga merupakan kakak senior kami. Sebagai cowok dan ketua serta wakil ketua
mereka sangat bertanggung jawab kepada kami para perempuan yang dianggap
seperti adik mereka sendiri. untuk menghargai mereka kami para perempuan
membebas tugaskan mereka dari pekerjaan rumah tangga (nyapu, ngepel, cuci
piring, masak) di homestay kami, eiiitttttsss tapi alhamdulillah kami
mendapatkan homestay dengan dua kamar terpisah bisa dibilang seperti kosan satu
rumah dengan banyak kamar. Meskipun jumlahnya jadi tidak seimbang disatu sisi
satu kamar hanya dua orang disisi lain satu kamar terdapat delapan orang.
Yaaaaa tapi kami bahagia kok hehehe. Meskipun kami tidak mendapatkan rumah
mewah seperti salah satu kelompok teman kami dapatkan di desa lain tapi masih
banyak kelompok yang kurang beruntung mendapatkan lokasi yang sulit dan homestay
dengan fasilitas yang sangat terbatas. Bahkan banyak kelompok lain sebelum kami
pergi ke desa masing- masing aku lihat ada yang bawa tabung gas, galon air,
kompor, wajan penggorengan, kipas angin, kasur lipat, tikar dll. Karena
sebelumnya memang sudah disurvey ketempat lokasi KKN untuk mengetahui kondisi
dan keadaan disana ada barang bawaan apa saja yang dibutuhkan. Tapi untuk
kelompokku Alhamdulillah kebutuhan seperti yang dibawa teman-teman kami dari
rumahnya masing-masing semua telah disediakan oleh pemilik rumah di desa. Dan
desa yang kami dapatkan tidak terlalu terpelosok sangat mudah bagi kami untuk
membeli bahan masakan atau kebutuhan lainnya karena pasar yang jaraknya tidak
begitu jauh dan warga-warga yang sudah banyak berjualan. Di lain sisi masih ada
teman kami yang hanya untuk kepasar harus menempuh puluhan kilo meter menuruni
bukit, keluar hutan, dan melawati pantai barulah pasar ditemukan. :D
Masakan Para Istri
Idaman desa Majasari
Kami
di desa dituntut untuk bisa mandiri, masak sendiri, mengurusi pekerjaan rumah
lainnya, belum lagi melaksanakan program kerja di desa. kesan pertama yang aku
rasakan adalah “OH, begini ya rasanya jadi ibu-ibu rumah tangga” perasaan
kerjaannya di dapur terus T_T. bagaimana tidak kami menetapkan makan sebanyak
3x sehari itu artinya masak 3x pula untuk porsi 10orang. Rasanya baru masak
untuk sarapan dan beres-beres sudah harus masak lagi saja untuk makan siang,
tidak hanya itu kedatangan kami disambut baik oleh para warga terutama
anak-anak kecil, yang sering mendatangi homestay kami untuk mengajari mereka
belajar, bermain, atau membantu mereka menyelesaikan PR dari sekolah mereka.
Kadang kami kewalahan dengan mereka yang bermain seharian di homestay kami tak
jarang hingga malam.
Ini anak-anak yang selalu menemani kami selama 28 hari
Saat menikmati hijaunya
sawah di saung Sudah malam masih main uno -.-
Kami
benar-benar disambut hangat oleh anak-anak yang ada di desa setempat, bahkan
untuk menikmati hijaunya sawah dan tenangnya suasana pertanian di desa majasari
pun anak-anak mengekor pada kami. tapi
tak sedikit orang-orang dewasa menyidir kami bahwa kami kurang ramah karena
tidak sering berbaur dengan mereka. Untuk menghilangkan stigma itu kami
mengadakan acara ngerujak dan ngeliwet bareng bersama warga. Mulai dari membeli
bahan masakan yang mengharuskan para cowok bangun jam 2 pagi untuk pergi ke pasar
dan membeli belanjaan yang dibutuhkan. seminggu kami harus menyesuaikan lingkungan
mengakrabkan diri sebelum kami melaksanakan program kerja. Dengan menghadapi
banyaknya anak-anak yang datang ke homestay serta pekerjaan lainnya yang tiada
henti hingga kami merasa mulai lelah. Hingga akhirnya wakil ketua kami
menjanjikan kami untuk membawa kami jalan-jalan. Dan pada akhirnya kami
jalan-jalan ke subang kota yeaay. Namun, kabar buruk datang kepada RT di desa
kami bahwa ia tiba-tiba mengalami stroke sebagian tubuhnya lumpuh. Akhirnya
kami ke subang kota untuk menjenguk pak RT. Kami menjenguk pak RT dengan
menyewa mobil angkot butuh waktu 45menit untuk sampai ke subang kota keesokan
harinya pemilik homestay kami menawarkan mobilnya untuk dipakai bilamana kami
membutuhkannya. Akhirnya wakil ketua kami meminjam mobilnya untuk memanjakan
para istri idaman (sebutan kami bagi para perempuan) pergi jalan-jalan.
Refreshing minggu pertama
Akhirnya kami memulai program
kerja kami yang kami tentukan pada awal kedatangan kami. program kerja kami dibagi
menjadi tiga yaitu proker individu, proker kelompok kecil, dan proker kelompok
besar. Proker individu yaitu proker yang diajukan oleh masing-masing tiap
individu sesuai dengan bidang keilmuan yang ia miliki. Dikelompoku ada berbagai
macam jurusan didalamnya yaitu, jurusan teknik, pendidikan akuntansi, akuntasi
murni, biologi murni, PIPS, dan bimbingan konseling.
Yang
pasti semua dari kami harus mengajar di sekolah yang ada di desa tersebut.
Kelompoku mengajar di 2 Sekolah dasar. Di SD itulah masing-masing proker
individu kami direalisasikan. Selain itu proker untuk kelompok kecil sendiri
yaitu membuka bimbingan belajar, rumah baca, dan bimbingan konseling untuk
masyarakat di homestay kami, serta acara puncaknya yaitu perpisahan kami yang
dilaksanakan H-1 sebelum kami kembali ke Jakarta. Yaitu kami juga harus melatih
anak-anak untuk pentas seni. Seperti menari, menyanyi, puisi, stand up comedy
dll.
Kunjungan ke pabrik tempe dan
tahu
se-usai pelaksanaan Proker di SD Mayang
Sari
Selain
mengajar dan mengabdi pada masyarakat setempat kami juga ingin memiliki waktu
libur yaitu kami tetapkan setiap weekend(Sabtu dan minggu) adalah me-time. Kita
bebas melakukan apa saja di hari tersebut, ada yang malas-malasan saja tidur,
ada yang asik menonton film di laptop ada pula yang asik futsal dan bermain
tenis meja dengan warga. Namun, kami juga memiliki waktu bersama seperti
kegiatan minggu sehat yaitu kami olahraga dan lari pagi. Sangat licik sekali
para cowok, Pada saat itu aku yang sampai duluan digaris finish bersama kedua
cowok itu pulang duluan karena teman-teman perempuanku yang lainnya belum
sampai. Saat aku sedang asik lari sendirian untuk segera sampai homestay dengan
enaknya mereka(cowok-cowok) lewat menumpangi mobil bak. Sambil
melambai-lambaikan tangan sebagai tanda mengejekku T.T Selain itu banyak hal
yang kami lakukan saat weekend seperti pergi kepasar malam, naik mainan.
Berkunjung ke homestay kelompok lain yang berada di desa lain namun masih dalam
satu kelurahan dan kegiatan menyenangkan lainnya. Kami juga ikut membantu program yang ada di desa tersebut seperti
imunisasi posyandu.
Minggu Sehat, habis
olahraga Kegiatan Imunisasi
Untuk
melaksanakan proker kelompok besar kami 3 kelompok yang masing-masing kelompok
kecil terbagi menjadi 10 orang yang berada di kecamatan pagaden diharuskan
berkumpul dan rapat dikantor kepada desa setempat. untuk menemukan jawaban apa
yang sedang dibutuhkan masyarakat.
Suasana Rapat Kelompok
besar di kantor kepala desa
Setelah
perwakilan kami berbicara dengan kades setelah diketahui keinginan kades
setempat kami mengadakan diskusi untuk hal itu. dan hasil diskusi kelompok
besar kami, kami tidak menyetujui proker yang diusulkan kades. Karena terpaut
biaya yang cukup besar dan keefisiensianya yang tidak baik. proker tersebut
kami anggap hanya berguna untuk kantor kades dan masyarakat tidak merasakan
manfaatnya. Setelah berunding kami akan melakukan rapat lagi setelah ini untuk
membicarakan kelanjutan proker kelompok besar kami.
Waktu tak taerasa Kami terus
menjalani pengabdian kami di dusun majasari dengan kehidupan yang sederhana
yang kami rasakan, tanpa masakan enak ibu.
Terkadang mulut ini bosan karena terus memakan sayur yang terkadang
tidak ada rasa, tahu, tempe dan telur adalah makanan mewah kami. namun,
adakalanya kami makan diluar ketika semua sudah lelah dan tak sanggup untuk
memasak lagi. Tapi hal itu akan menjadi kenangan yang tak terlupakan kami
selalu sarapan, makan siang, dan makan malam bersama-sama tidak diperbolehkan
jajan diluar untuk menghargai masakan yang dimasak oleh teman kami. disaat kami
rindu dengan keluarga masing-masing dosen pembimbing lapangan kami
memperbolehkan kami pulang beberapa hari dengan izinya dan alasan yang kuat. Ya
mungkin kelompoku manja, semua anggota kelompoku pulang ke rumah masing-masing
selama beberapa hari secara bergantian.
Transportasi kami di
majas, ini ceritanya mau ke pasar
Dan
aku selalu menjadi tukang ojek mereka untuk mengantar mereka ke terminal maupun
stasiun. Motor tua yang ku gunakan banyak membuatku mengalami masalah seperti
mogok ditengah jalan dan juga tidak memiliki spion. Pada akhirnya giliran aku
pun pulang, karena tidak ada yang bisa mengantarkan ke terminal ataupun stasiun
pada saat itu Alhamdulillah rezeki anak solehah ada yang nganterin pulang
sampai rumah. hehe
Nah ini, akibat cowok sendiri, rela di
dandanin. Sabar ya, emg kadang
orang itu.. Jahad. :D
orang itu.. Jahad. :D
Hari demi hari aku lalui dengan
suka cita. Aku dan teman-teman selalu menghitung berapa lama lagi kami masih
tinggal disini. Karena masalah selalu beriringan dengan hidup manusia. Setiap
manusia pasti memiliki masalah begitupun dengan keadaan kami disini. Semakin
lama kami semakin dihadang oleh berbagai macam masalah. Dari hal yang
dibanding-bandingan dengan mahasiswa kkn tahun lalu, genitnya para karang
taruna, sikap kurang mengenakan dari remaja setempat, serta masalah dengan
teman sekelompok kami yang kadang terlibat cekcok atau karena perbedaan
pendapatan maupun maalah yang ditimbulkan karena karakter kami masing-masing.
Sampai
akhirnya pada proker yang aku dan mungkin teman-teman yang lain tunggu yaitu,
Jalan-jalan!!! Di sela-sela kegiatan KKN kami menyelipkan satu agenda besar
kami yaitu jalan-jalan. Sebenarnya ini adalah rencana untuk kelompok besar
namun karena satu kelompok tidak setuju oleh rencana jalan-jalan kami, kami
putuskan untuk jalan-jalan dengan dua kelompok saja. Aku dan teman-temanku
merencanakan pergi kebandung selama dua hari dengan tempat wisata yang telah di
list dalam secarik kertas. Rasa kebersamaan dan kekeluargaan semakin mengikat
kami. kepedulian kami antara satu dengan lainnnya membuat kami merasa lebih
dekat seperti seorang keluarga, KKN ini memberikan aku sebuah keluarga kecil
baru yang dengan mereka aku dapat berbagi suka cita.
Jalan-Jalan Ala
backpacker
Agar
jalan-jalan lebih terasa kebersamaannya kami melakukan perjalanan yang tidak memakan
biaya yang banyak, aku dan teman-teman lainnya memilih tempat fram house, bukit
moko, alun-alun bandung, tangkuban perahu, dan terakhir ke pemandian air panas
sariater sebagai destinasi kami. perjalanan yang sangat mengasyikan, setelah
dari fram house kami berniat mencari tempat makan namun, mobilku terpisah
dengan mobil rombongan lainnya. Setelah cari mencari dan memakan banyak waktu
akhirnya ditemukanlah kami. dengan jadwal yang sudah terlanjur berantakan kami
makan di tempat yang tidak jauh dari mobil kami yang ditemukan. Setelah itu
kami langsung pergi alun-alun bandung untuk beristirahat dll. Saat di masjid
raya bandung kami bingung akan tidur dimana malam ini, sempat berpikir bermalam
di masjid. Dan kami memutuskan untuk bermalam dan melihat sunrise di bukit moko
yang ada di lembang. Akhirnya kami melakukan perjalanan kesana, namun setelah hampir
sampai mobil rombongan lain mogok lantaran tidak kuat lantaran jalannya yang
cukup menanjak. Dengan keadaan telah tengah malam serta seperti ditengah tengah
hutan yang sepi sekali. Kami memutuskan untuk tidak mengambil resiko untuk
terus menanjak keatas. Akhirnya kami turun dan mencari-cari tempat untuk tidur
dan bermalam, pada malam hari suhu di lembang sangat dingin dan kami butuh
istirahat. Terdapat warung kopi lesehan di pinggir jalan, kami memutuskan untuk
menyewa tempat tersebut untuk sekedar rebahan dan tidur. Dengan alas kain tipis
kami beristirahat untuk melakukan perjalanan kembali besok, tak terasa waktu
cepat berlalu hanya beberapa jam kami tidur. Jam 5 pagi kami mencari tempat
untuk kami bisa mandi dan solat. Setelah itu kami siap untuk perjalanan di hari
kedua yang merupakan hari terakhir. Lalu kami pulang dalam keadaan hati yang
senang.
SDN Majasari dan Mayang
sari Mempersembahkan Pertunjukan Marching Band
di acara perpisahan
Mahasiswa KKN UNJ 2016
Lelah
masih terasa ditubuh kami semua namun, kami harus mempersiapkan cara perpisahan
kami yang akan diadakan besok. Kondisi yang
tidak memungkinkan serta persiapan yang belum matang kami mengundur satu
hari acara perpisahan kami dengan warga untuk kepulangan kami ke Jakarta.
Acara
perpisahan berjalan dengan lancar dan antusias masyarakat sekitar sangat besar,
semua senang dengan acara yang kami adakan untuk mereka, pentas seni yang
ditampilkan oleh anak-anak masyarakat sekitar memberikan kesan tersendiri bagi
kami. acara berakhir haru di penghujung acara kami berpamitan karena keesokan
harinya akan pulang ke Jakarta, semua yang ada disana meneteskan air mata.
28 hari bersama kalian. Terlalu Banyak kenangan sampai banyak yang tidak sempat tercorehkan ditulisan ini. setiap hari saat pulang sekolah kalian dengan cerita mengetuk pintu kamar kami agar kami belajar dan bermain dengan kalian. Sampai ada salah satu dari orangtua kalian mencari kalian karena pulang sekolah tidak izin terlebih dahulu untuk pergi ke homestay kami. kalian memberikan warna kehidupan baru khususnya untuk ku. Cerita yang tak mungkin aku lupakan dalam ingatanku dan tak akan pernah terhapus. Kisah ini akan menjadi salah satu pengalaman yang mungkin akan banyak aku bagikan kepada orang-orang yang aku sayang di hidupku.
Yang baju Merah ini
Wanita kesayanganku di Majas
Dia adalah
cici. Dia selalu mengikuti dan nempel dengan kami kemanapun kami pergi. Dari
pagi hingga malam pun ia bersama kami, menemani segala kegiatan kami. sejak
awal kedatangan kami, ia sudah berdiri dip agar depan homestay kami. aku dan
teman-temanku bertanya-tanya siapa dia, kok ngeliatin terus. Cici ternyata
lebih tua dariku, awalnya aku dan yang lain risih karena dia selalu membuntuti
kami. namun akhirnya kami menyadari bahwa ia hanya ingin kami beri perhatian
dan kasih sayang, cici orang yang baik.
Foto keluarga
Cici & Aa Martin
Cici ini ternyata lebih tua dariku tapi ia memiliki sifat yang masih
seperti anak kecil. Cici mengaku kalau ia memiliki banyak pacar hahaha
ciciiiiiiiii aku kangen, dan cici juga suka sama wakil ketua kami yaitu kak
martin namun cici menyebutnya Aa martin haha. Aku dan teman-temanku sering
menjodoh-jodohkan mereka untuk sekedar membuat cici bahagia. Cici sangat senang
belajar bersama kami, cici senang belajar menghitung, membaca, menulis dan
mengaji.
Cici tidak mendapatkan kasih sayang seorang ibu. Cici dirawat dan
dibesarkan oleh ayahnya. Ayahnya pun bekerja, cici kurang mendapatkan perhatian
dan kasih sayang dari ayahnya. Saat cici kecil ia pernah sakit dan itu
menyebabkan cici masih seperti anak kecil di umurnya yang sudah dewasa. Kami
ingin memberikan kado special untuk ayahnya. Kami berencana untuk menampilkan
cici di panggung perpisahan kami untuk membacakan puisi ayah yang kami buat
khusus untuk ayahnya. Butuh waktu berminggu-minggu untuk melatih cici agar
dapat membaca dan menghapalkan satu bait puis ayah. Cici sangat bersemangat
menghapalkannya ia selau membawa selembar kertas catatan puisi ayah di dompet
kesayangannya. Kami berjanji akan memberi hadiah beberapa buku dan pensil yang
diinginkannya itulah yang membuat ia semangat.
Cici selalu marah kalau aku bilang sebentar lagi kami akan pulang ke
Jakarta, ia tidak rela kami pergi meninggalkannya, dan pada saatnya kami harus
pulang ia menangisi kepergian kami, aku sangat sedih melihat cici menangis
seperti itu.
Perjalanan Pulang
Kami
Majasari kami harus pulang, terimakasih untuk 28 harinya. Team Majas
kita harus berpisah dalam kebersamaan yang pernah kita lakukan selama 28hari.
Mungkin kita tidak dapat bertemu setiap hari lagi, masak bareng, ngajar bareng,
tidur bareng, makan bareng, susah senang bersama tidak bisa kita lakukan lagi
setiap hari. Mata Kuliah KKN telah memberikan pengalaman yang luar biasa, aku
senang bisa merasakannya namun untuk kedua kalinya? Hmmmmm pikir-pikir dulu
deh. Hehehe… inilah kisahku pada saat KKN, tidak semuanya bisa aku ceritakan.
Masih banyak kegiatan bersama warga, dan tingkah absurd para personil team
majas dan yang lainnya belum sempat terceritakan. Sekian, terima kasih.
Dokumentasi keseharian kami di majas :
Minjem Becak Orang Gotong Royong ngerjain proker
sama bersama cowok Wankers























