Minggu, 11 Desember 2016

Bersahabat dengan Banjir




Jakarta banjir ? Ah sudah biasa. Mendengar Jakarta banjir bukan lagi suatu hal yang tabuh, bahkan sudah akrab ditelinga masyarakat. Hal  itu sudah menjadi tradisi tahunan di Jakarta dan menjadikannya hal yang  biasa. Secara tidak langsung masyarakat Jakarta bersahabat dengan banjir. Seperti layaknya seorang sahabat, orang yang selalu ada disaat masa sulit. Begitu pula masyarakat Jakarta menyikapi banjir di lingkungannya. Meskipun menyulitkan, justru kesusahannya itu dijadikan kesenangan. Jakarta akan banyak muncul “Waterboom” gratis secara tiba-tiba dan dijadikan seolah  sebagai tempat rekreasi yang mengasyikan.

                Tak luput dengan Kampusku yang menjadi langganan banjir disetiap musim penghujan datang. Kampusku bisa dibilang satu satunya universitas negeri di Jakarta. Bukan bermaksud sombong tapi Sudah negeri di Jakarta pula sombongnya jadi dua kali kan tuh, hehe. Realita tak sebanding ekspetasi yang dibayangkan, sebagai kampus yang dekat dengan pemerintahan ibukota Negara namun cukup memprihatinkan. Ibaratkan seperti kasih ibu tiri kepada anak tirinya, kurang diperhatikan dan haus akan kasih sayang(oalah kok jd baper).
                Ini serius, seharusnya sebagai universitas negeri yang notabennya hanya satu-satunya di wilayah Jakarta bisa lebih mudah dikontrol kondisi dan keadaannya dan mendapatkan perhatian ‘lebih’ dibandingkan daerah lain karena termasuk ke dalam provinsi Jakarta yang merupakan kota besar dan ibukota Negara Indonesia namun nyatanya tidak didapatkan. Disamping masalah banjir yang sering melanda kampusku ini, juga buku-buku yang tersedia di perpustakaan kurang update alias zadoel (zaman dulu) ditambah jika banjir fakultasku yang merupakan wilayah paling parah terkena banjir sekaligus merendam perpustakaan yang ada didalamnya, buku-buku yang sudah minim semakin sedikit :( skripsi-skripsi yang telah dikerjakan susah-susah oleh para pejuang sarjana rusak. Bahkan sertifikat pendidikan karakter yang telah dilaksanakan oleh angkatanku sefakultas ikut lenyap tertelan air.




            (Banjir di Depan FBS (Fakultas bahasa dan seni) dan FIS (Fakultas ilmu sosial)

                Bagiku banjir di Jakarta memiliki kenangan tersendiri meskipun dalam keadaan duka tapi bila mengingatnya aku tertawa. Bila hujan deras mengguyur kampusku lebih dari sejam saja, air sudah menggenang dimana-mana. Bila sudah seperti itu mahasiswa yang masih terjebak dalam kampus sudah seperti korban evakuasi di wilayah pelosok yang terisolasi, gak ada wibawanya :D celana digulung, nenteng-nenteng sepatu tidak mencerminkan civitas academica.  Selokan yang sering memakan korban, yang terpelosok jatuh kedalamnya juga banyak menghanyutkan sepatu mahasiswa akibat banjir semua terlihat sama hanya air berwarna kecoklatan nan bau dimana-mana. Bahkan kadang perlu perahu karet untuk mengarungi samudera di kampusku itu karena banjir.


                Banjir juga bisa menjadi keberuntungan, bila Jakarta semalaman diguyur hujan banyak dosen yang mengabari tidak masuk kelas alias libur atau karena musim penghujan puncaknya pada bulan desember-januari yang juga merupakan jadwal kampusku UAS tidak jarang merubah sistem ujian beberapa mata kuliah menjadi take home tentu bagi mahasiswa ini sebuah keberuntungan atau berkah dari hujan dan banjir.
                Selebihnya, selepas kekurangan  dari kampusku tidak membuat cintaku padanya luntur, karena dikampus itu banyak memberiku pengalaman, ilmu, dan teman, kalau jodoh? Hmm.. belum kelihatan. Untuk saat ini kampusku sudah dalam proses pembangunan yang bisa dikatakan cukup besar semoga bisa menjadi kampus yang lebih baik dan selalu baik.

                Intinya, Bersahabat dengan banjir mungkin sebutan itu cocok untuk masyarakat Jakarta saat ini, layaknya seseorang disebut sahabat. Dia selalu ada, terbiasa dengannya, akrab, menerima kekurangan dan kelebihannya, susah senang bersama. Jakarta sampai saat ini masih menjadi langganan banjir, tidak memandang daerah pemukiman elite ataupun kumuh, kekurangannya diterima dengan mendatangkan sisi kelebihannya. Apakah warga Jakarta akan selalu ingin bersahabat dengan banjir? Semoga warga Jakarta bisa memiliki sahabat-sahabat yang lebih baik mas kini, nanti, dan masa yang akan datang.