Jakarta banjir ?
Ah sudah biasa. Mendengar Jakarta banjir bukan lagi suatu hal yang tabuh,
bahkan sudah akrab ditelinga masyarakat. Hal itu sudah menjadi tradisi tahunan di Jakarta
dan menjadikannya hal yang biasa. Secara
tidak langsung masyarakat Jakarta bersahabat dengan banjir. Seperti layaknya
seorang sahabat, orang yang selalu ada disaat masa sulit. Begitu pula
masyarakat Jakarta menyikapi banjir di lingkungannya. Meskipun menyulitkan,
justru kesusahannya itu dijadikan kesenangan. Jakarta akan banyak muncul “Waterboom”
gratis secara tiba-tiba dan dijadikan seolah sebagai tempat rekreasi yang mengasyikan.
Tak
luput dengan Kampusku yang menjadi langganan banjir disetiap musim penghujan datang.
Kampusku bisa dibilang satu satunya universitas negeri di Jakarta. Bukan bermaksud
sombong tapi Sudah negeri di Jakarta pula sombongnya jadi dua kali kan tuh,
hehe. Realita tak sebanding ekspetasi yang dibayangkan, sebagai kampus yang
dekat dengan pemerintahan ibukota Negara namun cukup memprihatinkan. Ibaratkan
seperti kasih ibu tiri kepada anak tirinya, kurang diperhatikan dan haus akan kasih sayang(oalah
kok jd baper).
Ini serius, seharusnya sebagai universitas
negeri yang notabennya hanya satu-satunya di wilayah Jakarta bisa lebih mudah
dikontrol kondisi dan keadaannya dan mendapatkan perhatian ‘lebih’ dibandingkan
daerah lain karena termasuk ke dalam provinsi Jakarta yang merupakan kota besar
dan ibukota Negara Indonesia namun nyatanya tidak didapatkan. Disamping masalah
banjir yang sering melanda kampusku ini, juga buku-buku yang tersedia di perpustakaan
kurang update alias zadoel (zaman dulu) ditambah jika banjir fakultasku yang
merupakan wilayah paling parah terkena banjir sekaligus merendam perpustakaan
yang ada didalamnya, buku-buku yang sudah minim semakin sedikit :( skripsi-skripsi yang
telah dikerjakan susah-susah oleh para pejuang sarjana rusak. Bahkan sertifikat
pendidikan karakter yang telah dilaksanakan oleh angkatanku sefakultas ikut
lenyap tertelan air.
(Banjir di Depan FBS (Fakultas bahasa dan seni) dan FIS (Fakultas ilmu sosial)
Bagiku banjir di Jakarta memiliki
kenangan tersendiri meskipun dalam keadaan duka tapi bila mengingatnya aku
tertawa. Bila hujan deras mengguyur kampusku lebih dari sejam saja, air sudah
menggenang dimana-mana. Bila sudah seperti itu mahasiswa yang masih terjebak
dalam kampus sudah seperti korban evakuasi di wilayah pelosok yang terisolasi,
gak ada wibawanya :D celana digulung, nenteng-nenteng sepatu tidak mencerminkan
civitas academica. Selokan yang sering
memakan korban, yang terpelosok jatuh kedalamnya juga banyak menghanyutkan
sepatu mahasiswa akibat banjir semua terlihat sama hanya air berwarna
kecoklatan nan bau dimana-mana. Bahkan kadang perlu perahu karet untuk mengarungi
samudera di kampusku itu karena banjir.
Banjir juga bisa menjadi
keberuntungan, bila Jakarta semalaman diguyur hujan banyak dosen yang mengabari
tidak masuk kelas alias libur atau karena musim penghujan puncaknya pada bulan
desember-januari yang juga merupakan jadwal kampusku UAS tidak jarang merubah
sistem ujian beberapa mata kuliah menjadi take home tentu bagi mahasiswa ini
sebuah keberuntungan atau berkah dari hujan dan banjir.
Selebihnya, selepas kekurangan dari kampusku tidak membuat cintaku padanya
luntur, karena dikampus itu banyak memberiku pengalaman, ilmu, dan teman, kalau
jodoh? Hmm.. belum kelihatan. Untuk saat ini kampusku sudah dalam proses
pembangunan yang bisa dikatakan cukup besar semoga bisa menjadi kampus yang
lebih baik dan selalu baik.
Intinya, Bersahabat dengan
banjir mungkin sebutan itu cocok untuk masyarakat Jakarta saat ini, layaknya seseorang
disebut sahabat. Dia selalu ada, terbiasa dengannya, akrab, menerima kekurangan
dan kelebihannya, susah senang bersama. Jakarta sampai saat ini masih menjadi
langganan banjir, tidak memandang daerah pemukiman elite ataupun kumuh,
kekurangannya diterima dengan mendatangkan sisi kelebihannya. Apakah warga Jakarta
akan selalu ingin bersahabat dengan banjir? Semoga warga Jakarta bisa memiliki
sahabat-sahabat yang lebih baik mas kini, nanti, dan masa yang akan datang.




