Tak Kembali
(Kepingan Kenangan Yang Masih Tertinggal)
Lama tak bersua, Saat ini kita sedang menikmati
musim hujan, Tanah di rumahku setiap harinya selalu dibasahi oleh tetesan air yang
berasal dari langit. Kondisi cuaca yang seperti ini membuat kebanyakan orang
untuk malas keluar rumah atau enggan melakukan suatu kegiatan. Tetapi dalam
suasana hujan ini ku terdiam, dalam kepenatan dan pikiran yang beranak pinak di
otaku perlahan-lahan menyingkir dan seketika memori masa dulu menghampiri. Ah,
benar kata pepatah “hujan dapat membangkitkan kenangan”. Tak seindah itu, saat
ini aku merasa seperti merindukan sesuatu yang telah pergi, hilang dan tak kan
kembali.
Mengingat masa lalu sungguh menyenangkan, mengobati
kerinduan, tetapi terkadang setelahnya begitu menyakitkan karena hanya sebatas
kenangan yang tidak bisa terulang. Tulisan ini tentang kita, kita yang pernah
bersama dalam suatu ikatan keluarga. Kita yang pernah bersama dalam teman
sepermainan. Teruntuk kalian, masih ingatkah saat kita bermain dengan hujan,
bergembira, berbahagia dengan hal yang sederhana.
Hujan mampu mengantarkan kita pada keheningannya, gemericik
airnya menggetarkan alunan melodi yang hanya bisa didengar oleh mereka yang
dilanda rindu. Pernahkah kau merasakan hal yang sama, bahwa hujan adalah mesin
waktu alami yang membawa kita terbang ketika ia turun hingga kita sampai pada
dimensi lain, ya masa lalu. Apakah hanya aku yang rindu masa kecil kita. Masa
dimana tidak ada batasan antara kamu dan aku karena sebuah masalah. Masalah yang
memisahkan kita. bukan salah masalah sepertinya yang salah adalah kita yang
memilih untuk terpisah-pisah. Dahulu tak ada jarak diantara kita, kita tinggal
bersama di lingkungan keluarga, tak butuh waktu lama untuk menghampiri dan
mengajak main kalian, hanya butuh beberapa langkah lalu sampailah aku ke
tempatmu. Hal apa yang pernah tidak kita lakukan bersama? Tidak ada yang
terlewat. Semua hal pernah kita lakukan bersama, makan bersama, menunggu
antrian di suapkan, mengaji bersama, bergadang main PS semalaman hingga kita terlelap dalam
kebersamaan, bertengkar, jalan-jalan, mandi sama-sama, main petak umpet,
kartu,ular tangga, batu tujuh, base ball, karambol, catur, layang-layangan, dan
masih banyak lagi. Semua permainan kita mainkan setiap harinya. Tidak ada
rumahmu atau rumahku semuanya adalah rumah kita.
Berat ku katakan bahwa kita telah beranjak dewasa
dan meninggalkan masa kecil kita yang begitu berharga dan mengesankan. Tak bisa
kupungkiri hal ini pasti terjadi, fase yang harus kita lewati tetapi hal yang
sangat menyesakan dan kusesalkan haruskah kita meninggalkan kebersamaan. Bukankah kita bisa berkumpul bersama membicarakan masa depan, atau berbagi cerita hidup dan pengalaman masing-masing, atau sekedar menertawakan kisah masa kecil kita, yang terjadi hanyalah seolah
tak kenal dan tidak pernah ada kenangan. Setahun.. dua tahun.. tiga tahun..
empat tahun… entahlah, sampai berapa lama lagi. Emosi telah membakar semua
kenangan tentang kita, hingga tidak ada yang tersisa. Keadaan yang rumit membuatmu pergi tanpa pamit. Kurindu bersama kalian,
kurindu masa kecilku. Ah, Lagi-lagi nostalgia melegakan nafas kerinduan kepada
yang dahulu dan tak mungkin ada lagi disini, akhirnya seringkali aku tertidur
dalam hujan dan memeluk dingin segar dan bangun dengan rekaman-rekaman indah
dalam kenangan, tak jarang membuatku terbuai meneteskan air mata kerinduan.


