Sabtu, 16 September 2017

TAK TERDEFINISIKAN

TAK TERDEFINISIKAN    

Matahari hampir berada tepat di atas kepala, cuaca yang begitu terik membuat pandangan Luna menjadi kabur, juga kakinya yang semakin melemah menopang tubuh perempuan itu. Luna baru saja menginjakan kakinya di sekolah, sejak pagi ia mengikuti serangkaian acara penyambutan siswa baru. Ia terlihat muram, dan tidak bersemangat seperti siswa baru lainnya, namun hal ini tidak hanya dialami oleh Luna saja, tetapi juga pada Floreta. Sekolah itu bukan yang mereka inginkan.
            Setelah berdiri lama di lapangan untuk pembagian kelas, akhirnya terdengar nama Luna, dengan lemas ia menuju kelas yang sudah disebutkan oleh panitia. Dirinya langsung menduduki bangku kosong paling depan dan menundukan kepalanya di atas meja, tidak sempat baginya memikirkan untuk mencari teman. Kelas pun telah penuh oleh siswa baru dan bangku di sebelahnya masih tetap kosong tanpa ia pedulikan. Tiba-tiba datang seorang siswa, disetiap sudut kelas telah dikitarinya, rupanya ia sedang kebingungan lantaran dirinya telat masuk kelas, tidak ada teman yang dikenalinya, serta mencari kursi yang bisa ia tempati. Siswa tersebut membangunkan Luna yang tidak sama sekali mempedulikan keadaan kelasnya saat itu. 
“hey.. gue boleh duduk di sini gak?” Katanya, sambil cengegesan
“Ya udah duduk aja.” Singkat Luna menjawabnya
Suasana yang masih canggung karena tidak saling mengenal itu segera mencair setelah adanya guru memasuki kelas kami.
“eh kita belum kenalan, gue Floreta Kinaya Mathin, nama lo siapa?” Tanyanya
“Gue Aluna Ananda Zura.” Jawabnya.
“lo kenapa diem aja sih, lo lagi sakit ya? Gue panggilin guru aja ya.”
“ gue ga apa-apa, ga perlu panggil guru.” Jawabnya dengan lirih
            Floreta terlihat sedang mengakrabkan dirinya dengan Luna yang akan menjadi teman sebangkunya itu. Tidak membutuhkan waktu lama bagi Luna dan Floreta berteman dengan baik. Flo, itulah panggilan akrab Luna kepada Floreta. Mereka menemukan banyak kecocokan, cocok bukan dalam artian memiliki banyak kesamaan. Seperti Kopi dan gula mereka berdua memiliki rasa yang berbeda, namun saat digabungkan dapat menjadi minuman nikmat bagi para pencintanya. Luna dan Flo memiliki selera yang berbeda, tetapi keduanya jarang sekali berdebat meskipun berbeda pendapat, karena mereka saling memahami perasaan, pemikiran, dan sudut pandangnya satu sama lain. pertemanan mereka semakin erat ketika Floreta sering datang ke rumah Luna untuk sekedar menghabiskan waktu bersama, tak jarang Flo selalu pulang larut malam atau bahkan menginap di rumah Luna.
             Kekecewaan Luna bersekolah di tempat itu tak lagi dirasakannya, dia bahagia bersama orang-orang baru disekitarnya dan bonus seorang teman anehnya yang bernama Floreta tersebut. Semakin hari Luna dan Flo semakin mengetahui sifat dan kebiasanya masing masing. Luna seseorang yang senang memperhatikan hal yang menarik baginya. Ketertarikan itu salah satunya tertuju pada diri Flo. Baginya, Floreta adalah seseorang unik, Luna menyadari bahwa Flo selalu tertawa lepas, periang ketika berinteraksi dengan orang lain, entah hal bodoh apapun yang ia lakukan tanpa dosa ia meminta maaf dengan tertawa dan gaya khas cengegesannya tersebut, bila ditanya apa kesalahan yang dilakukannya, jawaban dia hanya satu, tidak tahu. Suatu ketika Flo menjadi sering tidak masuk sekolah dengan alasan yang tidak masuk akal.
“Flo, kemarin kenapa lo gak masuk?” Tanya Luna.
“Gue sakit.” Jawabnya
“wah manusia kayak lo bisa sakit juga? Padahal kemarin masih sehat wal a’fiat bgt deh! Serunya”.
“Ya tuhan. Gue juga manusia kali, bisa sakit.”  seraya berkata, “udah lo gak usah sinis gitu dong mukanya”.
Luna mulai menaruh rasa curiga dan rasa tidak percaya kepada teman sebangkunya tersebut, dia merasa ada suatu hal yang tidak ia ketahui dari Flo.
            Di rumah Luna, Floreta sering menghabiskan waktunya untuk berbincang dengan Luna. Bukan bergosip, atau membicarakan cowok keren yang ada di sekolah ala Anak Baru gede lainnya. Flo sering menceritakan hal-hal baru yang dirinya dapat dari buku/ artikel yang ia baca, tak heran ia di pilih menjadi ketua klub sains di sekolah. Tidak perlu khawatir kehabisan topik bila berdiskusi dengannya yang membuat Luna tidak merasa bosan saat bersamanya. Kerap kali mereka juga melantur membicarakan hal apa saja yang sebenarnya tidak penting.
“Lun, kemarin gue habis nemenin temen gue ke gereja.”
“terus, lo sholat di sana?” jawabnya ketus.
“Ya nggak lha, gila lo. Dia minta gue temenin ibadah, soalnya keluarga dia lagi keluar kota.” Deretan giginya terbuka lebar.
“oh begitu, berarti kalo gue ajak lo ke masjid mau dong?” Kata luna sambil memasang wajah seperti ingin menjebak seekor tikus masuk perangkap. Ia berkata “ eh Flo, lihat youtube yuk, siksaan di neraka.” Sambil menyodorkan layar laptop yang sedang menayangkan video yang dimaksud Luna.
“Ah, nggak mau, gue takut.” Tangan Flo Menyingkirkan layar dari hadapannya.
Luna dan Flo bukanlah seseorang yang memiliki sifat romantis, rasa peduli antar keduanya tidak ditunjukan berupa kata-kata melainkan tindakan nyata. Luna sering sekali meninggalkan Floreta tidur di kamarnya, dan Flo selalu memiliki bahan bacaan sambil menunggu Luna terbangun. Namun, disaat Luna sudah terbangun ia melihat Floreta tertidur lelap dengan buku yang masih di genggam olehnya.  Sementara Flo tertidur, Luna membereskan barang-barang yang ada di tempat tidurnya, agar tidur temannya itu lebih nyaman, ia juga menyiapkan santapan untuk mereka makan.  Tidak ada kecanggungan lagi di antara dua gadis belia itu, bahkan keluarga Luna sudah sangat akrab dengan Floreta.
Di penghujung semester genap, Luna baru menyadari bahwa ia belum pernah sama sekali di ajak ke rumah teman yang hampir setahun sebangku dengannya itu, tidak mengetahui keluarganya, bahkan kehidupan tentang dirinya. Flo sama sekali tidak pernah menceritakan tentang kehidupan pribadi, dan keluarganya. Sedangkan Flo sudah sangat mengenal Luna dan keluarganya. Sempat beberapa kali Luna meminta Flo untuk mengajaknya main ke rumah, namun selalu saja tidak digubris. Akhirnya, Luna mendiamkan temannya itu selama beberapa hari. Seperti biasa Flo tidak peka terhadap perasaan seseorang. Ia tetap bercengkrama seperti biasanya dengan tampang polos yang seakan-akan tidak tahu bahwa akan ada guncangan dahsyat gunung berapi yang meletus tepat berada di depannya.
“Flo! Gue kan lagi marah sama lo. Sahut luna dengan nada serta ekspresi menahan letusan emosi yang sedang meletup-letup dibenaknya tersebut.” 
“Oh, lo lagi marah sama gue, marah kenapa? Tanya luna dengan tertawa ringan.”
Tanpa menjelaskan apapun, Luna pergi mengabaikan Flo, setidaknya ia sudah memberi tahu Flo bahwa dirinya sedang kesal, meskipun tidak mendapatkan hal yang diinginkan dari Flo.
            Rerumputan hijau dan pepohonan yang rindang membuat sekolah itu terlihat begitu asri, Luna menarik nafas sedalam-dalamnya, udara yang begitu segar ikut membasuh wajahnya yang sedang terpejam menikmati keheningan suasana pagi kala itu. Memasuki awal Tahun ajaran baru, pertemanan kedua gadis itu masih terjalin baik, walaupun keduanya sudah tidak lagi bersama dalam satu kelas. Kini, keduanya memiliki penampilan yang berbeda dari sebelumnya, Luna mulai belajar mengenakan hijab yang entah darimana hidayah itu datang kepada dirinya. Sedangkan Flo memotong pendek rambut lurusnya yang menimbulkan kesan semakin tomboy pada perempuan itu. Flo semakin aktif beroganisasi di sekolahnya, ia banyak berinteraksi dengan orang-orang, bertemu dengan orang baru. Namun, temannya bisa dihitung dengan jari tangan saja, bukan karena Flo perempuan yang tidak layak memiliki teman, melainkan ia seorang yang pemilih. Sangat berbeda dengan Luna yang terbilang pendiam, tidak aktif beroganisasi, jangkauan pertemannya hanya sebatas teman-teman di kelasnya saja, kesamaan keduanya adalah tidak menyukai keramaian. Karena hal itulah membuat keduanya bisa memiliki pertemanan yang erat. Rumah Luna masih menjadi favorit bagi Flo menghabiskan waktunya untuk membaca novel dan tidur siang. Flo selalu menjadi teman Favorit luna untuk berbagi cerita. Ia merasa bisa menjadi dirinya dengan apa adanya, tidak perlu takut melukai perasaan Flo. Temannya itu dianggap sebagai manusia yang tak berperasaan, mungkin flo tidak mengerti apa itu yang dinamakan marah, benci, melukai, hatinya bagaikan memiliki perisai yang tidak pernah merasa dilukai, atau terlukai. Biarlah teman-temannya mencibir dirinya apapun itu, ia tidak peduli.
            Luna tidak mengetahui kehidupan seperti apa yang telah dialami Flo sehingga membuat dirinya menjadi seperti itu, kebal, tahan banting seperti Tupperware. Seorang gadis yang terlihat periang tetapi sangat menutupi tentang kehidupan pribadinya, seketika untuk pertama kalinya, Flo menarik tangan Luna, membawanya ke toilet perempuan. Ia mengunci rapat-rapat pintu itu, menciptakan suasana hening, dan terdengar suara isak tangis yang berasal dari Flo. Ini adalah pertama kali bagi Luna melihat Flo menangis, ia membiarkan seragamnya basah terkena air mata Flo hingga isak tangisnya perlahan mulai reda.
“Ada apa Flo? Tanya luna.”
“Gue gak dibolehin ikut UTS karena belum bayar bulanan sekolah, Lun.” Jawab Flo dengan sendu.”
“gue sering gak masuk sekolah karena gak ada ongkos, bukan karena sakit, lo tau sendiri kan gue sekuat apa, tenang aja lun, gue sekarang nangis cuma melepaskan beban aja kok, gak perlu khawatir. Maaf gue baru cerita sekarang.” Jawabnya dengan senyum yang merekah.
Pengakuannya tersebut membuat Luna merasa bersalah selama ini karena sering memarahi Flo sebab ia tidak pernah mau menceritakan apapun. “oh gitu ya Flo, terus kenapa sampai sekarang lo masih jomblo? Ah, boro-boro pacar, kayaknya lo juga nggak pernah cerita apapun tentang makhluk bernama ‘Cowok’, lo ini manusia kan Flo?” tangan Luna menyentuh keningnya, memeriksa dengan benar bahwa temannya itu tidak sedang sakit. “Duh, dasar ya temen lagi sedih juga masih aja lo jahat sama gue”. Balas Flo dengan menyunggingkan bibirnya. “Jajan yuk, lama-lama di sini bau juga, gue traktir lo, baik kan gue nggak jahat.” Tungkasnya. Mereka keluar dari toilet perempuan dengan wajah yang berseri, tidak ada lagi raut kesedihan.
            Waktu terasa begitu cepat, telah tiba akhir masa SMA Luna dan Flo, keduanya berhasil menyelesaikan sekolahnya dengan baik, dan bersiap menyongsong masa depan. Nyaris tidak pernah ada kabar dari Flo saat mereka sudah tidak bersama dalam satu sekolah. Tidak ada kontak satupun yang bisa menghubunginya, dirinya juga tidak aktif di media sosial, keberadaan gadis misterius itu tidak terdeteksi, bahkan saat satu per satu teman-teman SMA sudah mulai menikah pun Flo tidak pernah terlihat hadir di acara resepsinya. Namun, hal yang tidak pernah berubah adalah ia selalu ada di hari ulang tahun Luna. Moment langka itu tidak disia-siakan begitu saja oleh Luna, dirinya sering meminta pendapat dan masukan dari Flo yang memiliki pengetahuan luas untuk membantu menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan dosennya, lalu sepanjang hari itu ia akan banyak mengobrol banyak hal yang tidak penting untuk diceritakan dan tentunya Luna akan mengomel karena Flo sulit dihubungi yang hanya dijawab dengan tawa oleh gadis periang itu. “Udah sholat belum lo? Kalau belum cepetan, habis ini kita ke rumah gue ya.” Kata Flo seraya berkata seneng kan lo, jangan marah-marah mulu cepet tua nanti. “emang lo udah sholat juga?” Tungkasnya. “kalo gue mah nanti aja.” Jawab santai Flo dengan tertawa ringan. Sebelum sampai ke rumah Flo mereka singgah di tempat makan terlebih dahulu, mereka mengenyangkan perut dan membeli camilan  untuk dibawa pulang, semua itu ditraktir oleh Flo. Saat ini Flo sudah menjadi karyawan dan berpenghasilan, dirinya sudah terlihat makmur dengan tubuh yang semakin menggempal karena banyak lipatan dan perut yang mulai membuncit akibat keseringan makan namun, tidak berolahraga.
            Akhirnya setelah bertahun-tahun berteman dengan Flo, kini Luna mengenal keluarganya, tidak butuh waktu lama keluarganya bisa akrab dengan Luna. Semakin jelas bagi Luna, Flo ada sesosok teman yang luar biasa. Gadis periang dan banyak bicara yang sesungguhnya menyukai keheningan dan kepribabdian yang tertutup. Perempuan yang memiliki perjalanan hidup yang berat namun, mudah tersenyum, tidak mudah mengeluh, dan tidak suka membagi kesedihan.
            Kata orang, sahabat itu adalah cerminan diri. Perlahan-lahan kita akan sama seperti teman dekat kita karena merekalah yang dapat mudah memberikan pengaruh. Bagi Luna cukup binggung untuk menganggap Flo sebagai sahabatnya atau bukan, karena mereka tidak saling mempengaruhi. Perilaku, selera mereka berbeda dan tetap menjadi diri masing-masing. Namun, dalam hal pemikiran mereka sama. Mereka dua perempuan keras kepala yang saling mengerti, memahami perasaan dan karakternya masing-masing. Floreta memang manusia absurd yang pernah dikenal oleh Luna, mereka jarang bertemu namun, ia selalu ada disaat Luna membutuhkannya. Naluriah manusia itu egois, maka kemunafikan menjadi suatu cara untuk melanggengkan pertemanan seseorang, untuk saling menjaga perasaan satu sama yang lain. Terkadang manusia terpaksa menjadi bukan dirinya untuk diterima oleh lingkungannya. Floreta, adalah teman bagi Luna yang paling bisa membuat dirinya menjadi apa adanya. Lebih dari teman, ia bisa menjadi sahabat, kakak, ibu, ayah, dan lain-lain. Dirinya, tak terdefinisikan.