TAK TERDEFINISIKAN
Matahari
hampir berada tepat di atas kepala, cuaca yang begitu terik membuat pandangan
Luna menjadi kabur, juga kakinya yang semakin melemah menopang tubuh perempuan
itu. Luna baru saja menginjakan kakinya di sekolah, sejak pagi ia mengikuti
serangkaian acara penyambutan siswa baru. Ia terlihat muram, dan tidak
bersemangat seperti siswa baru lainnya, namun hal ini tidak hanya dialami oleh
Luna saja, tetapi juga pada Floreta. Sekolah itu bukan yang mereka inginkan.
Setelah berdiri lama di lapangan untuk pembagian kelas,
akhirnya terdengar nama Luna, dengan lemas ia menuju kelas yang sudah
disebutkan oleh panitia. Dirinya langsung menduduki bangku kosong paling depan dan
menundukan kepalanya di atas meja, tidak sempat baginya memikirkan untuk mencari
teman. Kelas pun telah penuh oleh siswa baru dan bangku di sebelahnya masih
tetap kosong tanpa ia pedulikan. Tiba-tiba datang seorang siswa, disetiap sudut
kelas telah dikitarinya, rupanya ia sedang kebingungan lantaran dirinya telat
masuk kelas, tidak ada teman yang dikenalinya, serta mencari kursi yang bisa ia
tempati. Siswa tersebut membangunkan Luna yang tidak sama sekali mempedulikan
keadaan kelasnya saat itu.
“hey.. gue boleh duduk
di sini gak?” Katanya, sambil cengegesan
“Ya udah duduk aja.”
Singkat Luna menjawabnya
Suasana yang masih
canggung karena tidak saling mengenal itu segera mencair setelah adanya guru
memasuki kelas kami.
“eh kita belum kenalan,
gue Floreta Kinaya Mathin, nama lo siapa?” Tanyanya
“Gue Aluna Ananda Zura.”
Jawabnya.
“lo kenapa diem aja
sih, lo lagi sakit ya? Gue panggilin guru aja ya.”
“ gue ga apa-apa, ga
perlu panggil guru.” Jawabnya dengan lirih
Floreta terlihat sedang mengakrabkan dirinya dengan Luna
yang akan menjadi teman sebangkunya itu. Tidak membutuhkan waktu lama bagi Luna
dan Floreta berteman dengan baik. Flo, itulah panggilan akrab Luna kepada
Floreta. Mereka menemukan banyak kecocokan, cocok bukan dalam artian memiliki
banyak kesamaan. Seperti Kopi dan gula mereka berdua memiliki rasa yang
berbeda, namun saat digabungkan dapat menjadi minuman nikmat bagi para
pencintanya. Luna dan Flo memiliki selera yang berbeda, tetapi keduanya jarang
sekali berdebat meskipun berbeda pendapat, karena mereka saling memahami
perasaan, pemikiran, dan sudut pandangnya satu sama lain. pertemanan mereka semakin
erat ketika Floreta sering datang ke rumah Luna untuk sekedar menghabiskan waktu
bersama, tak jarang Flo selalu pulang larut malam atau bahkan menginap di rumah
Luna.
Kekecewaan Luna
bersekolah di tempat itu tak lagi dirasakannya, dia bahagia bersama orang-orang
baru disekitarnya dan bonus seorang teman anehnya yang bernama Floreta
tersebut. Semakin hari Luna dan Flo semakin mengetahui sifat dan kebiasanya
masing masing. Luna seseorang yang senang memperhatikan hal yang menarik
baginya. Ketertarikan itu salah satunya tertuju pada diri Flo. Baginya, Floreta
adalah seseorang unik, Luna menyadari bahwa Flo selalu tertawa lepas, periang
ketika berinteraksi dengan orang lain, entah hal bodoh apapun yang ia lakukan tanpa
dosa ia meminta maaf dengan tertawa dan gaya khas cengegesannya tersebut, bila
ditanya apa kesalahan yang dilakukannya, jawaban dia hanya satu, tidak tahu.
Suatu ketika Flo menjadi sering tidak masuk sekolah dengan alasan yang tidak
masuk akal.
“Flo, kemarin kenapa lo
gak masuk?” Tanya Luna.
“Gue sakit.” Jawabnya
“wah manusia kayak lo
bisa sakit juga? Padahal kemarin masih sehat wal a’fiat bgt deh! Serunya”.
“Ya tuhan. Gue juga
manusia kali, bisa sakit.” seraya
berkata, “udah lo gak usah sinis gitu dong mukanya”.
Luna mulai menaruh rasa
curiga dan rasa tidak percaya kepada teman sebangkunya tersebut, dia merasa ada
suatu hal yang tidak ia ketahui dari Flo.
Di rumah Luna, Floreta sering menghabiskan waktunya untuk
berbincang dengan Luna. Bukan bergosip, atau membicarakan cowok keren yang ada
di sekolah ala Anak Baru gede lainnya. Flo sering menceritakan hal-hal baru
yang dirinya dapat dari buku/ artikel yang ia baca, tak heran ia di pilih
menjadi ketua klub sains di sekolah. Tidak perlu khawatir kehabisan topik bila
berdiskusi dengannya yang membuat Luna tidak merasa bosan saat bersamanya. Kerap kali mereka juga melantur membicarakan hal apa saja yang sebenarnya tidak penting.
“Lun, kemarin gue habis
nemenin temen gue ke gereja.”
“terus, lo sholat di
sana?” jawabnya ketus.
“Ya nggak lha, gila lo.
Dia minta gue temenin ibadah, soalnya keluarga dia lagi keluar kota.” Deretan
giginya terbuka lebar.
“oh begitu, berarti
kalo gue ajak lo ke masjid mau dong?” Kata luna sambil memasang wajah seperti
ingin menjebak seekor tikus masuk perangkap. Ia berkata “ eh Flo, lihat youtube
yuk, siksaan di neraka.” Sambil menyodorkan layar laptop yang sedang
menayangkan video yang dimaksud Luna.
“Ah, nggak mau, gue
takut.” Tangan Flo Menyingkirkan layar dari hadapannya.
Luna dan Flo bukanlah
seseorang yang memiliki sifat romantis, rasa peduli antar keduanya tidak ditunjukan
berupa kata-kata melainkan tindakan nyata. Luna sering sekali meninggalkan Floreta
tidur di kamarnya, dan Flo selalu memiliki bahan bacaan sambil menunggu Luna terbangun.
Namun, disaat Luna sudah terbangun ia melihat Floreta tertidur lelap dengan
buku yang masih di genggam olehnya. Sementara Flo tertidur, Luna membereskan
barang-barang yang ada di tempat tidurnya, agar tidur temannya itu lebih
nyaman, ia juga menyiapkan santapan untuk mereka makan. Tidak ada kecanggungan lagi di antara dua
gadis belia itu, bahkan keluarga Luna sudah sangat akrab dengan Floreta.
Di
penghujung semester genap, Luna baru menyadari bahwa ia belum pernah sama
sekali di ajak ke rumah teman yang hampir setahun sebangku dengannya itu, tidak mengetahui keluarganya, bahkan
kehidupan tentang dirinya. Flo sama sekali tidak pernah menceritakan tentang
kehidupan pribadi, dan keluarganya. Sedangkan Flo sudah sangat mengenal Luna
dan keluarganya. Sempat beberapa kali Luna meminta Flo untuk mengajaknya main
ke rumah, namun selalu saja tidak digubris. Akhirnya, Luna mendiamkan temannya
itu selama beberapa hari. Seperti biasa Flo tidak peka terhadap perasaan
seseorang. Ia tetap bercengkrama seperti biasanya dengan tampang polos yang
seakan-akan tidak tahu bahwa akan ada guncangan dahsyat gunung berapi yang
meletus tepat berada di depannya.
“Flo! Gue kan lagi
marah sama lo. Sahut luna dengan nada serta ekspresi menahan letusan emosi yang
sedang meletup-letup dibenaknya tersebut.”
“Oh, lo lagi marah sama
gue, marah kenapa? Tanya luna dengan tertawa ringan.”
Tanpa menjelaskan
apapun, Luna pergi mengabaikan Flo, setidaknya ia sudah memberi tahu Flo bahwa
dirinya sedang kesal, meskipun tidak mendapatkan hal yang diinginkan dari Flo.
Rerumputan hijau dan pepohonan yang rindang membuat
sekolah itu terlihat begitu asri, Luna menarik nafas sedalam-dalamnya, udara
yang begitu segar ikut membasuh wajahnya yang sedang terpejam menikmati
keheningan suasana pagi kala itu. Memasuki awal Tahun ajaran baru, pertemanan
kedua gadis itu masih terjalin baik, walaupun keduanya sudah tidak lagi bersama
dalam satu kelas. Kini, keduanya memiliki penampilan yang berbeda dari
sebelumnya, Luna mulai belajar mengenakan hijab yang entah darimana hidayah itu
datang kepada dirinya. Sedangkan Flo memotong pendek rambut lurusnya yang
menimbulkan kesan semakin tomboy pada perempuan itu. Flo semakin aktif
beroganisasi di sekolahnya, ia banyak berinteraksi dengan orang-orang, bertemu
dengan orang baru. Namun, temannya bisa dihitung dengan jari tangan saja, bukan
karena Flo perempuan yang tidak layak memiliki teman, melainkan ia seorang yang
pemilih. Sangat berbeda dengan Luna yang terbilang pendiam, tidak aktif
beroganisasi, jangkauan pertemannya hanya sebatas teman-teman di kelasnya saja,
kesamaan keduanya adalah tidak menyukai keramaian. Karena hal itulah membuat
keduanya bisa memiliki pertemanan yang erat. Rumah Luna masih menjadi favorit
bagi Flo menghabiskan waktunya untuk membaca novel dan tidur siang. Flo selalu
menjadi teman Favorit luna untuk berbagi cerita. Ia merasa bisa menjadi dirinya
dengan apa adanya, tidak perlu takut melukai perasaan Flo. Temannya itu
dianggap sebagai manusia yang tak berperasaan, mungkin flo tidak mengerti apa
itu yang dinamakan marah, benci, melukai, hatinya bagaikan memiliki perisai
yang tidak pernah merasa dilukai, atau terlukai. Biarlah teman-temannya
mencibir dirinya apapun itu, ia tidak peduli.
Luna tidak mengetahui kehidupan seperti apa yang telah
dialami Flo sehingga membuat dirinya menjadi seperti itu, kebal, tahan banting
seperti Tupperware. Seorang gadis yang terlihat periang tetapi sangat menutupi
tentang kehidupan pribadinya, seketika untuk pertama kalinya, Flo menarik
tangan Luna, membawanya ke toilet perempuan. Ia mengunci rapat-rapat pintu itu,
menciptakan suasana hening, dan terdengar suara isak tangis yang berasal dari
Flo. Ini adalah pertama kali bagi Luna melihat Flo menangis, ia membiarkan seragamnya
basah terkena air mata Flo hingga isak tangisnya perlahan mulai reda.
“Ada apa Flo? Tanya
luna.”
“Gue gak dibolehin ikut
UTS karena belum bayar bulanan sekolah, Lun.” Jawab Flo dengan sendu.”
“gue sering gak masuk
sekolah karena gak ada ongkos, bukan karena sakit, lo tau sendiri kan gue
sekuat apa, tenang aja lun, gue sekarang nangis cuma melepaskan beban aja kok,
gak perlu khawatir. Maaf gue baru cerita sekarang.” Jawabnya dengan senyum yang
merekah.
Pengakuannya tersebut
membuat Luna merasa bersalah selama ini karena sering memarahi Flo sebab ia tidak
pernah mau menceritakan apapun. “oh gitu ya Flo, terus kenapa sampai sekarang
lo masih jomblo? Ah, boro-boro pacar, kayaknya lo juga nggak pernah cerita
apapun tentang makhluk bernama ‘Cowok’, lo ini manusia kan Flo?” tangan Luna
menyentuh keningnya, memeriksa dengan benar bahwa temannya itu tidak sedang
sakit. “Duh, dasar ya temen lagi sedih juga masih aja lo jahat sama gue”. Balas
Flo dengan menyunggingkan bibirnya. “Jajan yuk, lama-lama di sini bau juga, gue
traktir lo, baik kan gue nggak jahat.” Tungkasnya. Mereka keluar dari toilet
perempuan dengan wajah yang berseri, tidak ada lagi raut kesedihan.
Waktu terasa begitu cepat, telah tiba akhir masa SMA Luna
dan Flo, keduanya berhasil menyelesaikan sekolahnya dengan baik, dan bersiap
menyongsong masa depan. Nyaris tidak pernah ada kabar dari Flo saat mereka
sudah tidak bersama dalam satu sekolah. Tidak ada kontak satupun yang bisa
menghubunginya, dirinya juga tidak aktif di media sosial, keberadaan gadis misterius itu tidak terdeteksi, bahkan saat
satu per satu teman-teman SMA sudah mulai menikah pun Flo tidak pernah terlihat
hadir di acara resepsinya. Namun, hal yang tidak pernah berubah adalah ia
selalu ada di hari ulang tahun Luna. Moment
langka itu tidak disia-siakan
begitu saja oleh Luna, dirinya sering meminta pendapat dan masukan dari Flo
yang memiliki pengetahuan luas untuk membantu menyelesaikan tugas-tugas yang
diberikan dosennya, lalu sepanjang hari itu ia akan banyak mengobrol banyak hal
yang tidak penting untuk diceritakan dan tentunya Luna akan mengomel karena Flo
sulit dihubungi yang hanya dijawab dengan tawa oleh gadis periang itu. “Udah sholat
belum lo? Kalau belum cepetan, habis ini kita ke rumah gue ya.” Kata Flo seraya
berkata seneng kan lo, jangan marah-marah mulu cepet tua nanti. “emang lo udah
sholat juga?” Tungkasnya. “kalo gue mah nanti aja.” Jawab santai Flo dengan
tertawa ringan. Sebelum sampai ke rumah Flo mereka singgah di tempat makan
terlebih dahulu, mereka mengenyangkan perut dan membeli camilan untuk dibawa pulang, semua itu ditraktir oleh
Flo. Saat ini Flo sudah menjadi karyawan dan berpenghasilan, dirinya sudah
terlihat makmur dengan tubuh yang semakin menggempal karena banyak lipatan dan
perut yang mulai membuncit akibat keseringan makan namun, tidak berolahraga.
Akhirnya setelah bertahun-tahun berteman dengan Flo, kini
Luna mengenal keluarganya, tidak butuh waktu lama keluarganya bisa akrab dengan
Luna. Semakin jelas bagi Luna, Flo ada sesosok teman yang luar biasa. Gadis
periang dan banyak bicara yang sesungguhnya menyukai keheningan dan
kepribabdian yang tertutup. Perempuan yang memiliki perjalanan hidup yang berat
namun, mudah tersenyum, tidak mudah mengeluh, dan tidak suka membagi kesedihan.
Kata orang, sahabat itu adalah cerminan diri.
Perlahan-lahan kita akan sama seperti teman dekat kita karena merekalah yang
dapat mudah memberikan pengaruh. Bagi Luna cukup binggung untuk menganggap Flo
sebagai sahabatnya atau bukan, karena mereka tidak saling mempengaruhi.
Perilaku, selera mereka berbeda dan tetap menjadi diri masing-masing. Namun,
dalam hal pemikiran mereka sama. Mereka dua perempuan keras kepala yang saling
mengerti, memahami perasaan dan karakternya masing-masing. Floreta memang
manusia absurd yang pernah dikenal oleh Luna, mereka jarang bertemu namun, ia
selalu ada disaat Luna membutuhkannya. Naluriah manusia itu egois, maka
kemunafikan menjadi suatu cara untuk melanggengkan pertemanan seseorang, untuk
saling menjaga perasaan satu sama yang lain. Terkadang manusia terpaksa menjadi
bukan dirinya untuk diterima oleh lingkungannya. Floreta, adalah teman bagi
Luna yang paling bisa membuat dirinya menjadi apa adanya. Lebih dari teman, ia
bisa menjadi sahabat, kakak, ibu, ayah, dan lain-lain. Dirinya, tak
terdefinisikan.