Selasa, 22 Juni 2021

Arti Kampus Untuk Seorang Mahasiswa

Kampus adalah wadah menuntut ilmu, tempat untuk melakukan kegiatan belajar mengajar. Dosen sebutan bagi seorang pengajar dan sebutan mahasiswa bagi orang-orang yang sedang menggali ilmu di dalam kampus. Sebagai mahasiswa pembelajaran tidak hanya sebatas dilakukan di dalam kelas. Dalam ruang lingkup kampus mahasiswa dapat menyalurkan bakat, hobi, melatih diri dalam berorganisasi, tempat berkumpul dengan teman, maupun tempat untuk melakukan kegiatan, yang menyenangkan lainnya. Mungkin salah satu dari kita kampus adalah tempat kita menemukan jati diri kita sesungguhnya. Kampus juga berkontribusi membentuk karakter pada diri seorang mahasiswa yang sebelumnya belum ia dapatkan.

Setiap universitas memiliki identitas yg mencirikhas kan masing-masing sebuah kampus. Seperti hal nya negara tercinta kita Indonesia, dengan lambangnya burung garuda sebagai identitas tanah air. Merubah lambang garuda tersebut merupakan suatu bentuk penghinaan. Identitas tersebut adalah harga diri dari suatu bangsa. Bila harga diri itu hilang, tandanya kita telah dipandang sebelah mata sama dengan artinya direndahkan. 

                                      

Miris rasanya ketika tugu dengan nama dan logo kampus kita yg berdiri kokoh diubah dgn seenaknya untuk suatu kegiatan yg komersial. Harga diri merupakan harga mati yang tidak bisa dibeli dengan uang. angka-angka tidak mampu sebagai takarannya

Sabtu, 16 September 2017

TAK TERDEFINISIKAN

TAK TERDEFINISIKAN    

Matahari hampir berada tepat di atas kepala, cuaca yang begitu terik membuat pandangan Luna menjadi kabur, juga kakinya yang semakin melemah menopang tubuh perempuan itu. Luna baru saja menginjakan kakinya di sekolah, sejak pagi ia mengikuti serangkaian acara penyambutan siswa baru. Ia terlihat muram, dan tidak bersemangat seperti siswa baru lainnya, namun hal ini tidak hanya dialami oleh Luna saja, tetapi juga pada Floreta. Sekolah itu bukan yang mereka inginkan.
            Setelah berdiri lama di lapangan untuk pembagian kelas, akhirnya terdengar nama Luna, dengan lemas ia menuju kelas yang sudah disebutkan oleh panitia. Dirinya langsung menduduki bangku kosong paling depan dan menundukan kepalanya di atas meja, tidak sempat baginya memikirkan untuk mencari teman. Kelas pun telah penuh oleh siswa baru dan bangku di sebelahnya masih tetap kosong tanpa ia pedulikan. Tiba-tiba datang seorang siswa, disetiap sudut kelas telah dikitarinya, rupanya ia sedang kebingungan lantaran dirinya telat masuk kelas, tidak ada teman yang dikenalinya, serta mencari kursi yang bisa ia tempati. Siswa tersebut membangunkan Luna yang tidak sama sekali mempedulikan keadaan kelasnya saat itu. 
“hey.. gue boleh duduk di sini gak?” Katanya, sambil cengegesan
“Ya udah duduk aja.” Singkat Luna menjawabnya
Suasana yang masih canggung karena tidak saling mengenal itu segera mencair setelah adanya guru memasuki kelas kami.
“eh kita belum kenalan, gue Floreta Kinaya Mathin, nama lo siapa?” Tanyanya
“Gue Aluna Ananda Zura.” Jawabnya.
“lo kenapa diem aja sih, lo lagi sakit ya? Gue panggilin guru aja ya.”
“ gue ga apa-apa, ga perlu panggil guru.” Jawabnya dengan lirih
            Floreta terlihat sedang mengakrabkan dirinya dengan Luna yang akan menjadi teman sebangkunya itu. Tidak membutuhkan waktu lama bagi Luna dan Floreta berteman dengan baik. Flo, itulah panggilan akrab Luna kepada Floreta. Mereka menemukan banyak kecocokan, cocok bukan dalam artian memiliki banyak kesamaan. Seperti Kopi dan gula mereka berdua memiliki rasa yang berbeda, namun saat digabungkan dapat menjadi minuman nikmat bagi para pencintanya. Luna dan Flo memiliki selera yang berbeda, tetapi keduanya jarang sekali berdebat meskipun berbeda pendapat, karena mereka saling memahami perasaan, pemikiran, dan sudut pandangnya satu sama lain. pertemanan mereka semakin erat ketika Floreta sering datang ke rumah Luna untuk sekedar menghabiskan waktu bersama, tak jarang Flo selalu pulang larut malam atau bahkan menginap di rumah Luna.
             Kekecewaan Luna bersekolah di tempat itu tak lagi dirasakannya, dia bahagia bersama orang-orang baru disekitarnya dan bonus seorang teman anehnya yang bernama Floreta tersebut. Semakin hari Luna dan Flo semakin mengetahui sifat dan kebiasanya masing masing. Luna seseorang yang senang memperhatikan hal yang menarik baginya. Ketertarikan itu salah satunya tertuju pada diri Flo. Baginya, Floreta adalah seseorang unik, Luna menyadari bahwa Flo selalu tertawa lepas, periang ketika berinteraksi dengan orang lain, entah hal bodoh apapun yang ia lakukan tanpa dosa ia meminta maaf dengan tertawa dan gaya khas cengegesannya tersebut, bila ditanya apa kesalahan yang dilakukannya, jawaban dia hanya satu, tidak tahu. Suatu ketika Flo menjadi sering tidak masuk sekolah dengan alasan yang tidak masuk akal.
“Flo, kemarin kenapa lo gak masuk?” Tanya Luna.
“Gue sakit.” Jawabnya
“wah manusia kayak lo bisa sakit juga? Padahal kemarin masih sehat wal a’fiat bgt deh! Serunya”.
“Ya tuhan. Gue juga manusia kali, bisa sakit.”  seraya berkata, “udah lo gak usah sinis gitu dong mukanya”.
Luna mulai menaruh rasa curiga dan rasa tidak percaya kepada teman sebangkunya tersebut, dia merasa ada suatu hal yang tidak ia ketahui dari Flo.
            Di rumah Luna, Floreta sering menghabiskan waktunya untuk berbincang dengan Luna. Bukan bergosip, atau membicarakan cowok keren yang ada di sekolah ala Anak Baru gede lainnya. Flo sering menceritakan hal-hal baru yang dirinya dapat dari buku/ artikel yang ia baca, tak heran ia di pilih menjadi ketua klub sains di sekolah. Tidak perlu khawatir kehabisan topik bila berdiskusi dengannya yang membuat Luna tidak merasa bosan saat bersamanya. Kerap kali mereka juga melantur membicarakan hal apa saja yang sebenarnya tidak penting.
“Lun, kemarin gue habis nemenin temen gue ke gereja.”
“terus, lo sholat di sana?” jawabnya ketus.
“Ya nggak lha, gila lo. Dia minta gue temenin ibadah, soalnya keluarga dia lagi keluar kota.” Deretan giginya terbuka lebar.
“oh begitu, berarti kalo gue ajak lo ke masjid mau dong?” Kata luna sambil memasang wajah seperti ingin menjebak seekor tikus masuk perangkap. Ia berkata “ eh Flo, lihat youtube yuk, siksaan di neraka.” Sambil menyodorkan layar laptop yang sedang menayangkan video yang dimaksud Luna.
“Ah, nggak mau, gue takut.” Tangan Flo Menyingkirkan layar dari hadapannya.
Luna dan Flo bukanlah seseorang yang memiliki sifat romantis, rasa peduli antar keduanya tidak ditunjukan berupa kata-kata melainkan tindakan nyata. Luna sering sekali meninggalkan Floreta tidur di kamarnya, dan Flo selalu memiliki bahan bacaan sambil menunggu Luna terbangun. Namun, disaat Luna sudah terbangun ia melihat Floreta tertidur lelap dengan buku yang masih di genggam olehnya.  Sementara Flo tertidur, Luna membereskan barang-barang yang ada di tempat tidurnya, agar tidur temannya itu lebih nyaman, ia juga menyiapkan santapan untuk mereka makan.  Tidak ada kecanggungan lagi di antara dua gadis belia itu, bahkan keluarga Luna sudah sangat akrab dengan Floreta.
Di penghujung semester genap, Luna baru menyadari bahwa ia belum pernah sama sekali di ajak ke rumah teman yang hampir setahun sebangku dengannya itu, tidak mengetahui keluarganya, bahkan kehidupan tentang dirinya. Flo sama sekali tidak pernah menceritakan tentang kehidupan pribadi, dan keluarganya. Sedangkan Flo sudah sangat mengenal Luna dan keluarganya. Sempat beberapa kali Luna meminta Flo untuk mengajaknya main ke rumah, namun selalu saja tidak digubris. Akhirnya, Luna mendiamkan temannya itu selama beberapa hari. Seperti biasa Flo tidak peka terhadap perasaan seseorang. Ia tetap bercengkrama seperti biasanya dengan tampang polos yang seakan-akan tidak tahu bahwa akan ada guncangan dahsyat gunung berapi yang meletus tepat berada di depannya.
“Flo! Gue kan lagi marah sama lo. Sahut luna dengan nada serta ekspresi menahan letusan emosi yang sedang meletup-letup dibenaknya tersebut.” 
“Oh, lo lagi marah sama gue, marah kenapa? Tanya luna dengan tertawa ringan.”
Tanpa menjelaskan apapun, Luna pergi mengabaikan Flo, setidaknya ia sudah memberi tahu Flo bahwa dirinya sedang kesal, meskipun tidak mendapatkan hal yang diinginkan dari Flo.
            Rerumputan hijau dan pepohonan yang rindang membuat sekolah itu terlihat begitu asri, Luna menarik nafas sedalam-dalamnya, udara yang begitu segar ikut membasuh wajahnya yang sedang terpejam menikmati keheningan suasana pagi kala itu. Memasuki awal Tahun ajaran baru, pertemanan kedua gadis itu masih terjalin baik, walaupun keduanya sudah tidak lagi bersama dalam satu kelas. Kini, keduanya memiliki penampilan yang berbeda dari sebelumnya, Luna mulai belajar mengenakan hijab yang entah darimana hidayah itu datang kepada dirinya. Sedangkan Flo memotong pendek rambut lurusnya yang menimbulkan kesan semakin tomboy pada perempuan itu. Flo semakin aktif beroganisasi di sekolahnya, ia banyak berinteraksi dengan orang-orang, bertemu dengan orang baru. Namun, temannya bisa dihitung dengan jari tangan saja, bukan karena Flo perempuan yang tidak layak memiliki teman, melainkan ia seorang yang pemilih. Sangat berbeda dengan Luna yang terbilang pendiam, tidak aktif beroganisasi, jangkauan pertemannya hanya sebatas teman-teman di kelasnya saja, kesamaan keduanya adalah tidak menyukai keramaian. Karena hal itulah membuat keduanya bisa memiliki pertemanan yang erat. Rumah Luna masih menjadi favorit bagi Flo menghabiskan waktunya untuk membaca novel dan tidur siang. Flo selalu menjadi teman Favorit luna untuk berbagi cerita. Ia merasa bisa menjadi dirinya dengan apa adanya, tidak perlu takut melukai perasaan Flo. Temannya itu dianggap sebagai manusia yang tak berperasaan, mungkin flo tidak mengerti apa itu yang dinamakan marah, benci, melukai, hatinya bagaikan memiliki perisai yang tidak pernah merasa dilukai, atau terlukai. Biarlah teman-temannya mencibir dirinya apapun itu, ia tidak peduli.
            Luna tidak mengetahui kehidupan seperti apa yang telah dialami Flo sehingga membuat dirinya menjadi seperti itu, kebal, tahan banting seperti Tupperware. Seorang gadis yang terlihat periang tetapi sangat menutupi tentang kehidupan pribadinya, seketika untuk pertama kalinya, Flo menarik tangan Luna, membawanya ke toilet perempuan. Ia mengunci rapat-rapat pintu itu, menciptakan suasana hening, dan terdengar suara isak tangis yang berasal dari Flo. Ini adalah pertama kali bagi Luna melihat Flo menangis, ia membiarkan seragamnya basah terkena air mata Flo hingga isak tangisnya perlahan mulai reda.
“Ada apa Flo? Tanya luna.”
“Gue gak dibolehin ikut UTS karena belum bayar bulanan sekolah, Lun.” Jawab Flo dengan sendu.”
“gue sering gak masuk sekolah karena gak ada ongkos, bukan karena sakit, lo tau sendiri kan gue sekuat apa, tenang aja lun, gue sekarang nangis cuma melepaskan beban aja kok, gak perlu khawatir. Maaf gue baru cerita sekarang.” Jawabnya dengan senyum yang merekah.
Pengakuannya tersebut membuat Luna merasa bersalah selama ini karena sering memarahi Flo sebab ia tidak pernah mau menceritakan apapun. “oh gitu ya Flo, terus kenapa sampai sekarang lo masih jomblo? Ah, boro-boro pacar, kayaknya lo juga nggak pernah cerita apapun tentang makhluk bernama ‘Cowok’, lo ini manusia kan Flo?” tangan Luna menyentuh keningnya, memeriksa dengan benar bahwa temannya itu tidak sedang sakit. “Duh, dasar ya temen lagi sedih juga masih aja lo jahat sama gue”. Balas Flo dengan menyunggingkan bibirnya. “Jajan yuk, lama-lama di sini bau juga, gue traktir lo, baik kan gue nggak jahat.” Tungkasnya. Mereka keluar dari toilet perempuan dengan wajah yang berseri, tidak ada lagi raut kesedihan.
            Waktu terasa begitu cepat, telah tiba akhir masa SMA Luna dan Flo, keduanya berhasil menyelesaikan sekolahnya dengan baik, dan bersiap menyongsong masa depan. Nyaris tidak pernah ada kabar dari Flo saat mereka sudah tidak bersama dalam satu sekolah. Tidak ada kontak satupun yang bisa menghubunginya, dirinya juga tidak aktif di media sosial, keberadaan gadis misterius itu tidak terdeteksi, bahkan saat satu per satu teman-teman SMA sudah mulai menikah pun Flo tidak pernah terlihat hadir di acara resepsinya. Namun, hal yang tidak pernah berubah adalah ia selalu ada di hari ulang tahun Luna. Moment langka itu tidak disia-siakan begitu saja oleh Luna, dirinya sering meminta pendapat dan masukan dari Flo yang memiliki pengetahuan luas untuk membantu menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan dosennya, lalu sepanjang hari itu ia akan banyak mengobrol banyak hal yang tidak penting untuk diceritakan dan tentunya Luna akan mengomel karena Flo sulit dihubungi yang hanya dijawab dengan tawa oleh gadis periang itu. “Udah sholat belum lo? Kalau belum cepetan, habis ini kita ke rumah gue ya.” Kata Flo seraya berkata seneng kan lo, jangan marah-marah mulu cepet tua nanti. “emang lo udah sholat juga?” Tungkasnya. “kalo gue mah nanti aja.” Jawab santai Flo dengan tertawa ringan. Sebelum sampai ke rumah Flo mereka singgah di tempat makan terlebih dahulu, mereka mengenyangkan perut dan membeli camilan  untuk dibawa pulang, semua itu ditraktir oleh Flo. Saat ini Flo sudah menjadi karyawan dan berpenghasilan, dirinya sudah terlihat makmur dengan tubuh yang semakin menggempal karena banyak lipatan dan perut yang mulai membuncit akibat keseringan makan namun, tidak berolahraga.
            Akhirnya setelah bertahun-tahun berteman dengan Flo, kini Luna mengenal keluarganya, tidak butuh waktu lama keluarganya bisa akrab dengan Luna. Semakin jelas bagi Luna, Flo ada sesosok teman yang luar biasa. Gadis periang dan banyak bicara yang sesungguhnya menyukai keheningan dan kepribabdian yang tertutup. Perempuan yang memiliki perjalanan hidup yang berat namun, mudah tersenyum, tidak mudah mengeluh, dan tidak suka membagi kesedihan.
            Kata orang, sahabat itu adalah cerminan diri. Perlahan-lahan kita akan sama seperti teman dekat kita karena merekalah yang dapat mudah memberikan pengaruh. Bagi Luna cukup binggung untuk menganggap Flo sebagai sahabatnya atau bukan, karena mereka tidak saling mempengaruhi. Perilaku, selera mereka berbeda dan tetap menjadi diri masing-masing. Namun, dalam hal pemikiran mereka sama. Mereka dua perempuan keras kepala yang saling mengerti, memahami perasaan dan karakternya masing-masing. Floreta memang manusia absurd yang pernah dikenal oleh Luna, mereka jarang bertemu namun, ia selalu ada disaat Luna membutuhkannya. Naluriah manusia itu egois, maka kemunafikan menjadi suatu cara untuk melanggengkan pertemanan seseorang, untuk saling menjaga perasaan satu sama yang lain. Terkadang manusia terpaksa menjadi bukan dirinya untuk diterima oleh lingkungannya. Floreta, adalah teman bagi Luna yang paling bisa membuat dirinya menjadi apa adanya. Lebih dari teman, ia bisa menjadi sahabat, kakak, ibu, ayah, dan lain-lain. Dirinya, tak terdefinisikan.

Jumat, 04 Agustus 2017

MY HERO



MY HERO
 
Superhero. Mendengar kata itu kita pasti terbayang sosok Spiderman, Superman, Batman, maupun para The Avengers. Mereka adalah sosok yang terkenal dan menerima banyak pujian dari khalayak karena banyak menolong dan membantu orang, karena itu mereka disebut sebagai Pahlawan. Pahlawan identik dengan paras tampan nan menawan, memiliki kekuatan yang besar, berjiwa lapang, dan dapat menolong banyak orang, namun itu hanya ada di negeri khayalan.  Bagiku, pahlawan sejati adalah ayah. Ia rela mengorbankan seluruh jiwa dan raga demi keluarganya bukan untuk sekali, dua kali, tiga kali, tapi untuk sepanjang hayatnya. Tidak hanya rela untuk selalu memberikan harta yang didapatkan melalui cucuran keringatnya namun, perhatian, perlindungan, sehingga rasa aman dan nyaman selalu dihadirkan setiap ada disisinya. Pahlawan sekaligus pemimpin, pemimpin hakikatnya dipegang oleh seorang laki-laki. Ada pepatah yang biasa kita dengar bahwa dibalik sesosok laki-laki hebat terdapat wanita hebat yang mendukungnya dan yang menjadikannya hebat, maka dari itu peran wanita pun tak kalah sangat penting, kasih sayang dan kelembutannya adalah sumber kekuatan bagi keluarga, pabila sumber kekuatan tersebut melemah yang lainpun akan menjadi rapuh. Begitulah pentingnya keluarga saling melengkapi satu sama yang lain. Ayah kuanggap sebagai Pahlawan tapi ibu adalah segalanya bagiku.
Bapak, itulah panggilan untuk seseorang yang aku anggap sebagai pahlawan hidupku. Bapaku adalah anak ke-3 dari 11 bersaudara, sejak kecil bapaku terbiasa menjalani hidup yang keras. Ia membiayai sendiri untuk bisa sekolah hingga tamat SMEA (sekolah menegah ekonomi atas). Dari berjualan Koran sampai menjadi orang kantoran, mencari uang di jalanan sampai kerja di dalam ruangan semua pernah dilakoninya, itulah yang membuatnya menjadi sesosok yang tangguh, mandiri, bertanggung jawab, penyabar, sangat disiplin, dan pekerja keras.


Orang bilang ayah adalah seorang nahkoda yang mengendalikan lajunya arah kapal dan menjadi seorang di garda terdepan setiap bahaya yang menghadang. Itulah mengapa aku sebut bapak adalah pahlawan karena ia adalah orang yang pertama kali memasang badannya dan menggunakan tubuhnya untuk melindungi anggota keluarganya dengan segala rasa kesakitan, keletihan, dan ketidakberdayaannya, agar anggota yang lain tidak merasakan sakit. Ia tidak pernah mengeluh, hanya selalu membagi kebahagian tanpa memberi kesedihannya meski ujian hidup bagai angin topan yang memporapondakan rumah menjadi runtuhan, pohon menjadi tumbang, dan ia tetap tegar itulah mengapa aku sebut bapak seorang yang tangguh.
Sisi lain bapak sebagai pahlawan dia seperti satpam yang selalu memastikan anak-anaknya sudah makan dengan teratur, ia lakukan setiap hari dengan rutin hingga saat ini. Setiap kali malam selalu mengecek ke kamar anak-anaknya yang sedang tertidur, sebuah bentuk perhatian yang tidak ingin ditunjukan. Kala anaknya sakit memang ibu yang merawat, tetapi beban pikiran bapak 2x lipat memikirkan anaknya yang sedang sakit, memastikan semua yang diperlukan agar memulihkan kesehatan anaknya harus terpenuhi. Selain itu, bapak juga adalah seorang suami yang tidak pernah memarahi istrinya, hingga umurku 21 tahun, tidak pernah sekalipun bapak pernah memarahi, membentak, atau meninggikan suara kepada mama. Sekalipun mama sering kali mengeluarkan keluh kesahya kepada bapak, membuat bapak kesal, ataupun membuat kesalahan, tak pernah sekalipun aku dengar bapak memarahi mama, ia hanya melemparkan senyuman dan tawa sebagai balasan dari ocehannya. sosok berjiwa besar terdapat pada dirinya. Sering kali ingin aku katakan bahwa aku sayang bapak, tetapi kerap kali lidah ini kelu dan kaku ketika teringiang sifat dingin dan cuekmu yang sebenarnya penyayang, namun membuatku enggan dan canggung untuk mengungkapkannya bahkan sampai detik ini aku belum pernah mengucapkan bahwa diriku amat menyayangimu tapi kasihmu selalu kau berikan. Dalam tulisan ini aku ingin mengatakan.
Terima kasih pak atas kebahagiaanku yang berasal dari keringatmu mencari rezeki siang dan malam, aku sayang bapak. Sosokmu tak akan terganti. I Love you.. MY HERO IN MY LIFE.

Bijak Menghukum Siswa



Judul Buku      : Bijak Menghukum Siswa
Penulis             : Mamiq Gaza
Penerbit           : Ar-Ruz Media

      Disini saya ingin membedah dan mereview buku tentang Bijak Menghukum Siswa, buku ini bagus dibaca bagi seorang guru maupun calon guru. yuks langsung aja yaa...

   Seorang pendidik memiliki tugas untuk mencerdaskan anak bangsa. Dalam melakukan proses pembelajaran sebagai seorang pendidik tidak hanya memberikan ilmunya kepada murid, tetapi juga berperan sebagai orang tua di sekolah yang tugasnya mendidik dan membimbing untuk memanusiakan manusia namun, dalam menjalankan tugasnya sering sekali ditemukan seorang pendidik memberikan hukuman kepada murid yang melakukan kesalahan. Buku ini membahas hukuman seperti apa yang pantas dan bijak kepada seseorang murid yang melakukan kesalahan untuk memberikan efek jera agar tidak melakukan kesalahan yang sama lagi. Hukuman yang diberikan itu pas dan sesuai kebutuhan yang diperlukan seorang anak untuk mengubah kesalahan itu menjadi prilaku yang positif bukan merusak psikologis si anak. Beberapa pendapat yang menyatakan bahwa perilaku menghukum itu sama dengan tindakan kekerasan yang dilakukan guru pada siswanya ataupun orangtua terhadap anaknya. menurut penulis, hal ini tidak sepenuhnya benar karena hukuman bisa jadi sebuah metode yang harus dilakukan dalam mengendalikan anak agar menjadi lebih baik. Perilaku menghukum itu bisa jadi dinamai aksi kekerasan ketika ia berorientasi pada hasil yang membuat anak “sakit” bukan terdidik. Menghukum bisa memberikan dampak yang diharapkan. Namun, jika mekanismenya salah bisa berdampak terbalik dari yang diharapkan. .
            Dalam buku ini terdapat penjelasan tentang berbagai komponen, faktor penyebab serta pengaruh, dan macam-macam cara (teknik) dalam pembentukan perilaku positif pada anak baik melalui hukuman ataupun penguatan. Dalam berbagai sub bab penjelasan dapat disimpulkan bahwa dalam memperbaiki perilaku anak harus memiliki dasar yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan, dapat diukur, dan dapat dievaluasi.
Tindakan menghukum sudah menjadi hal yang biasa dalam seluruh lapisan masyarakat. Sebagian masyarakat berpendapat bahwa memberi hukuman pada anak merupakan sesuatu yang perlu bahkan harus dilakukan, disisi lain banyak masyarakat yang berpendapat sebaliknya. Menghukum disini dimaksudkan untuk menghilangkan perilaku yang menyimpang dan tidak baik pada diri anak. Namun hukuman sering mengarah pada kekerasan sehingga menjadikan trauma pada anak, bukan memperbaiki sifat pada anak tetapi malah membuat anak tidak jera dengan perbuatan negatifnya.
Untuk mengubah perilaku pada anak dapat dilakukan langkah penguatan (Reindorcement), penghargaan (Reward) untuk perilaku positif anak dan hukuman (punishment)untuk perilaku negatif anak. Untuk itu ditetapkan respon yang tepat pada setiap perilaku baru yang muncul pada anak. Menurut skinner ada dua macam respon, yakni respondent response (Reflexive Response) dan operant resonse (Instrumental Response)
Prinsip reinforcement adalah memunculkan perilaku yang dikendaki sehingga ada kecenderungan bagi anak untuk mengulangi prilaku itu kembali. Menurut walker (1996), jenis reinforcement dibedakan dalam primary enforces, secondary reinforces, contingent reinforces, dan positive reinforces. Ada empat cara menentukan kapan jadwal reinforcement diberikan yakni fixed ratio schedule (FR), variable ratio schedule (VR), fixed interval schedule, dan variable interval schedule.
Ada empat kategori kekerasan yang sering terjadi pada anak (komisi nasional perlindungan Anak, 2006) yaitu kekerasan seksual, kekerasan fisik, kekerasan emosional, dan kekersan dalam bentuk penelataran. Sedangkan menurut Riauskina, Djuwita, dan Soesitio (2001) mengelompokan kekerasan dalam lima kategori yaitu kontak fisik langsung (memukul, mendorong, mencubit, mencakar juga termasuk memeras dan merusak barang-barang milik orang lain), kontak verbal langsung(mengancam, mempermalukan, merendahkan, menganggu, memberikan panggilan nama buruk, mencela, mengintimidasi, dan mengejek), perilaku nonverbal langsung (melihat dengan sinis, menjulurkan lidah, menampilkan ekspresi muka yang merendahkan atau mengancam), perilaku non verbal tidak langsung (mendiamkan seseorang, sengaja mengucilkan atau mengabaikan, membiarkan anak tanpa pengawasan), dan pelecehan seksual.
Prinsip belajar efektif dengan suasana menyenangkan merupakan prinsip belajar yang sangat diharapkan oleh semua pelajar. Quantum learning adalah salah satu ikon belajar menyenangkan. Salah satunya adalah prinsip Fun Learning mengandung beragam kegiatan belajar yang menyenangkan dan menghidupkan misalnya belajar dnegan music, belajar denagn aneka warna, belajar dengan teknik bermain. Disamping memperhatikan prinsip pembelajaran juga harus memahami gelombang otak manusia dalam kemampuan belajar, dimana pada otak manusia pada gelombang-gelombang tertentu individu tidak dapat belajar dengan baik. diantaranya gelombang delta 1-3 Cps (contohnya : aktivitas tidur, produksi hormon pertumbahan. Pada kondisi ini anak tidak bisa belajar dengan baik). Gelombang teta 4-7 Cps (contohnya : aktivitas doa, berada dalam kondisi hening, khusuk dan cenderung inspiratif. Gelombang ini cenderung melahirkan banyak ide dan gagasan kreativitas), gelombang alpha 8-12 Cps(suasana otak cenderung rileks, suasana meditative, dan merasa nyaman. Pada kondisi inilah belajar dapat optimal), dan gelombang betha 18-40 Cps (otak anak cenderung di dominasi logika, dikendalikan oleh alam sadar dan keadaan apa saja yang terjadi dihadapannya. Gelobang ini dipicu rasa takut, khawatir dan merasa terancam yang cenderung berujung stress. Pada kondisi ini anak tidak mungkin bisa belajar karena mengalami blocking.)
Dampak pemberian hukuman yang tidak sehat bukan hanya beresiko pada anak namun juga pada si pemberi hukuman. Hukuman yang ditujukan agar berdampak trauma pada anak harus benar-benar difikirkan dengan matang mulai dari alat yang digunakan, siapa yang paling pantas memberi hukuman, seberapa besar intensitas hukuman yang harus diberikan , dan bagaimana hukuman tersebut diberikan. Hukuman dibagi kedalam hukuman langsung dan hukuman tidak langsung. Memberi hukuman pada anak harus mematuhi prosedur dan mengevaluasi efektifitasnya.
Ada banyak faktor (internal/eksternal) mengapa guru menghukum siswanya, diantaranya adalah warisan generasi sebelumnya(guru dan orang tua merasa kesulitan melepaskan diri dari perilaku yang telah terstruktur sejak dulunya), tidak tertancapnya tujuan pengembangan siswa(guru yang memiliki pengetahuan psikologis siswa akan berpikir sekian kali untuk memberikan perlakuan negative, karena ilmu berbanding lurus dengan perilaku), keterbatasan pengetahuan guru pada psikologi perkembangan anak, minimnya kretivitas pendekatan guru(guru yang kreatif memliki beragam cara agar siswanya dapat belajar dengan baik tanpa harus cepat-cepat memberikan hukuman), dan sistem sekolah(jika system sekolah yang digunakan sejak awalnya membangun sistem mendidik tanpa menghardik kemungkinan lanjutannya adalah para guru dan semua orng yang terlibat dalam sekolah akan memberikan layanan terbaik untuk siswanya) serta pengaruh alam bawah sadar. Untuk menghindari perilaku memberi hukuman dapat dilakukan dengan menciptakan suasana sekolah yang bersahabat, guru yang bersahabat, teman sekolah yang bersahabat, suasana sekolah yang sehat, suasana keakraban anatar warga sekolah, suasana kelas yang nyaman, proses pembelajaran yang nyaman, serta aturan dan kewajiban positif yang harus dipatuhi semua warga sekolah.
Prosedur memberikan hukuman : 1.)jenis hukuman yang diberikan perlu disepakati diawal bersama anak. 2.)jenis hukuman yang diberikan harus jelas sehingga anak dapat memahami dengan baik konsekuensi kesalahan yang dilakukan. 3.)hukuman harus dapat terukur sejauh mana efektivitas dan keberhasilan dalam mengubah perilaku anak. 4.)hukuman harus disampaikan dengan cara yang menyenangkan, tidak disampaikan dengan cara menakutkan apalagi memunculkan trauma berkepanjangan. 5.)hukuman tidak berlaku jika ada stimulus diluar control. Artinya siswa yang melakukan kesalahan yang tidak ia ketahui atau belum disepakati sebelumnya. 6.) Hukuman dilakukan secara konsisten. 7.) hukuman segera diberikan jika perilaku yang tidak diinginkan muncul. Penundaan akan mengakibatkan biasnya tujuan hukuman yang diberikan.
Memodifkasi perilaku sebagai penguatan dapat diimplementasikan dalam bentuk perilaku positif siswa, diantaranya melalui teknik peta cerita, teknik voucher untuk individu/ kelompok, teknik form amal, teknik pendekatan individual, teknik penugasan evaluatif, teknik pemujian efektif, teknik bonus belajar, teknik super visi kelas, teknik waktu bebas, teknik papan bintang, teknik school award, teknik pajang foto, teknik repetisi kata, teknik bercerita, teknik tepuk kreatif, teknik janji, dan teknik papan kejut.
Hukuman yang diberikan pada anak harus bersifat positif, tidak membuat trauma, tidak membuat sakit hati, mampu memberi efek jera, dan bersifat pembelajaran jenis-jenis hukuman yang positif diantaranya istigfar dan komitmen ulang, isolasi, penghilangan hak istimewa, moving, lingkaran merah, pengalihan (tidak menghiraukan), penyekapan, skorsing, penugasan tulisan, penugasan komitmen dan bantuan pihak luar, line sircle, infaq, sedekah amal saleh, menghapus bintang, komentar buku penghubung, SMS laporan orang tua, tambahan tugas (hafalan), penundaan hak, dan tembok ratapan.
Untuk menghindari dari prilaku menghukum yang salah (teori belajar sosial bandura) dapat mengikuti langkah sebagai berikut : pertama self control therapy (terapi control diri: tindakan yang dilakukan guru untuk memiliki control diri yang tinggi sehingga tidak cepat memutuskan untuk memberi hukuman sebelum ada pertimbangan yang matang dan tepat sasaran.) meliputi removing/avoiding : menghindari suasana keinginan untuk menghukum, emosi harus benar-benar stabil, aversive stimuli: publikasi sebagai guru yang santun, reinforce oneself : member reinforcement kepada diri setelah berhasil mendidik siswa tanpa hukuman dan kekerasan, Successive approximation : menyusun langkah-langkah khusus menuju tujuan secara bertahap. Misalnya hari Senin adalah hari tanpa marah, hari selasa adalah hari mengajar yang menyenangkan, rabu adalah hari berbagi hadiah kepada siswa yang terbaik, Kamis adalah hari memuji siswa, Jumat adalah hari belajar penuh bahagia dengan makan kecil seharga Rp 500,00 bersama siswa di dalam kelas, dan desensitisiasi, kedua behavioral chart : membuat daftar perilaku menghukum yang sering dilakukan, berapa kali munculnya, pada saat kapan saja, pada situasi seperti apa dan apa yang harus dilakukan untuk mencegah terjadinya perilaku menghukum tersebut, ketiga self commitment: Membuat komitmen diri untuk tidak member hukuman dengan kekerasan kepada siswa, keempat environmental planning: Membuat setting lingkungan sekolah yang kondusif dan terbebas dari keinginan untuk menghukum, kelima self contract: Membuat kontrak untuk tidak member hukuman dengan kekerasan, keenam self regulation: Tindakan yang dilakukan untuk mengontrol diri dengan melakukan perbandingan, dan yang ketujuh modeling therapy: Pemunculan figur tokoh guru sebagai model guru yang mampu mendidik dengan mengedepankan sisi-sisi positif siswa.
Prinsip hukuman dalam islam lebih bersifat padat a’dib (meluruskan prilaku), bukan memberikan hukumam. Allah menjadikan surga sebagai reward dan ancaman azab neraka sebagai punishment. Suwaid menyebutkan beberapa tahapan dalam islam untuk meluruskan prilaku anak, yang pertama diperlihatkan cemeti dan yang kedua hukuman fisik (memukul dan menjewer). Memberikan hukuman fisik harus mematuhi beberapa kaidah, yakni memukul anak setelah berusia 10 tahun, maksimal memukul tiga kali, dan memukul hanya untuk kesalahan tertentu. Keteladanan merupakan salah satu hal yang sangat berperan dalam pembentukan perilaku pada anak.
Kelebihan buku ini telah mencakup semua aspek dalam tindakan menghukum, mulai dari faktor penyebab tindakan menghukum, pengaruh hukuman yang diberikan, bagaimana prosedur dan teknik pemberian hukuman, tips dalam menciptakan perilaku positif pada anak serta cara menghindarkan diri perbuatan menghukum yang salah. Selain itu juga terdapat pandangan dalam islam terhadap hukuman dan keteladanan, yang dilengkapi contoh-contoh konkrit serta indeks. Kelemahan dalam buku ini yakni penggunaan kata asing yang tidak begitu popular dalam masyarakat luas serta terdapat beberapa kata dan kalimat yang rancu.