Judul Buku
: Bijak Menghukum Siswa
Penulis : Mamiq
Gaza
Penerbit : Ar-Ruz
Media
Disini saya ingin membedah dan mereview buku tentang Bijak Menghukum Siswa, buku ini bagus dibaca bagi seorang guru maupun calon guru. yuks langsung aja yaa...
Seorang pendidik memiliki
tugas untuk mencerdaskan anak bangsa. Dalam melakukan proses pembelajaran sebagai seorang pendidik tidak hanya
memberikan ilmunya kepada murid, tetapi juga berperan sebagai orang tua di
sekolah yang tugasnya mendidik dan membimbing untuk memanusiakan manusia namun,
dalam menjalankan tugasnya sering sekali ditemukan seorang pendidik memberikan
hukuman kepada murid yang melakukan kesalahan. Buku ini membahas hukuman
seperti apa yang pantas dan bijak kepada seseorang murid yang melakukan
kesalahan untuk memberikan efek jera agar tidak melakukan kesalahan yang sama
lagi. Hukuman yang diberikan itu pas dan sesuai kebutuhan yang diperlukan
seorang anak untuk mengubah kesalahan itu menjadi prilaku yang positif bukan
merusak psikologis si anak. Beberapa pendapat yang menyatakan bahwa perilaku
menghukum itu sama dengan tindakan kekerasan yang dilakukan guru pada siswanya
ataupun orangtua terhadap anaknya. menurut penulis, hal ini tidak sepenuhnya
benar karena hukuman bisa jadi sebuah metode yang harus dilakukan dalam mengendalikan
anak agar menjadi lebih baik. Perilaku menghukum itu bisa jadi dinamai aksi
kekerasan ketika ia berorientasi pada hasil yang membuat anak “sakit” bukan
terdidik. Menghukum bisa memberikan dampak yang diharapkan. Namun, jika
mekanismenya salah bisa berdampak terbalik dari yang diharapkan. .
Dalam buku ini terdapat penjelasan tentang berbagai
komponen, faktor penyebab serta pengaruh, dan macam-macam cara (teknik) dalam
pembentukan perilaku positif pada anak baik melalui hukuman ataupun penguatan.
Dalam berbagai sub bab penjelasan dapat disimpulkan bahwa dalam memperbaiki
perilaku anak harus memiliki dasar yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan,
dapat diukur, dan dapat dievaluasi.
Tindakan
menghukum sudah menjadi hal yang biasa dalam seluruh lapisan masyarakat.
Sebagian masyarakat berpendapat bahwa memberi hukuman pada anak merupakan
sesuatu yang perlu bahkan harus dilakukan, disisi lain banyak masyarakat yang
berpendapat sebaliknya. Menghukum disini dimaksudkan untuk menghilangkan
perilaku yang menyimpang dan tidak baik pada diri anak. Namun hukuman sering
mengarah pada kekerasan sehingga menjadikan trauma pada anak, bukan memperbaiki
sifat pada anak tetapi malah membuat anak tidak jera dengan perbuatan
negatifnya.
Untuk
mengubah perilaku pada anak dapat dilakukan langkah penguatan (Reindorcement),
penghargaan (Reward) untuk perilaku positif anak dan hukuman (punishment)untuk
perilaku negatif anak. Untuk itu ditetapkan respon yang tepat pada setiap
perilaku baru yang muncul pada anak. Menurut skinner ada dua macam respon,
yakni respondent response (Reflexive Response) dan operant resonse
(Instrumental Response)
Prinsip reinforcement adalah memunculkan
perilaku yang dikendaki sehingga ada kecenderungan bagi anak untuk mengulangi
prilaku itu kembali. Menurut walker (1996), jenis reinforcement dibedakan dalam
primary enforces, secondary reinforces, contingent reinforces, dan positive
reinforces. Ada empat cara menentukan kapan jadwal reinforcement diberikan
yakni fixed ratio schedule (FR), variable ratio schedule (VR), fixed interval
schedule, dan variable interval schedule.
Ada empat
kategori kekerasan yang sering terjadi pada anak (komisi nasional perlindungan
Anak, 2006) yaitu kekerasan seksual, kekerasan fisik, kekerasan emosional, dan
kekersan dalam bentuk penelataran. Sedangkan menurut Riauskina, Djuwita, dan
Soesitio (2001) mengelompokan kekerasan dalam lima kategori yaitu kontak fisik
langsung (memukul, mendorong, mencubit, mencakar
juga termasuk memeras dan merusak barang-barang milik orang lain), kontak verbal langsung(mengancam, mempermalukan, merendahkan, menganggu, memberikan
panggilan nama buruk, mencela, mengintimidasi, dan mengejek), perilaku nonverbal langsung (melihat dengan sinis,
menjulurkan lidah, menampilkan ekspresi muka yang merendahkan atau mengancam), perilaku non verbal tidak langsung (mendiamkan
seseorang, sengaja mengucilkan atau mengabaikan, membiarkan anak tanpa
pengawasan), dan pelecehan seksual.
Prinsip
belajar efektif dengan suasana menyenangkan merupakan prinsip belajar yang
sangat diharapkan oleh semua pelajar. Quantum learning adalah salah satu ikon
belajar menyenangkan. Salah satunya adalah prinsip Fun Learning mengandung
beragam kegiatan belajar yang menyenangkan dan menghidupkan misalnya belajar
dnegan music, belajar denagn aneka warna, belajar dengan teknik bermain. Disamping
memperhatikan prinsip pembelajaran juga harus memahami gelombang otak manusia
dalam kemampuan belajar, dimana pada otak manusia pada gelombang-gelombang
tertentu individu tidak dapat belajar dengan baik. diantaranya gelombang delta
1-3 Cps (contohnya : aktivitas tidur, produksi hormon pertumbahan. Pada kondisi
ini anak tidak bisa belajar dengan baik). Gelombang teta 4-7 Cps (contohnya :
aktivitas doa, berada dalam kondisi hening, khusuk dan cenderung inspiratif.
Gelombang ini cenderung melahirkan banyak ide dan gagasan kreativitas), gelombang
alpha 8-12 Cps(suasana otak cenderung rileks, suasana meditative, dan merasa
nyaman. Pada kondisi inilah belajar dapat optimal), dan gelombang betha 18-40
Cps (otak anak cenderung di dominasi logika, dikendalikan oleh alam sadar dan
keadaan apa saja yang terjadi dihadapannya. Gelobang ini dipicu rasa takut,
khawatir dan merasa terancam yang cenderung berujung stress. Pada kondisi ini
anak tidak mungkin bisa belajar karena mengalami blocking.)
Dampak
pemberian hukuman yang tidak sehat bukan hanya beresiko pada anak namun juga
pada si pemberi hukuman. Hukuman yang ditujukan agar berdampak trauma pada anak
harus benar-benar difikirkan dengan matang mulai dari alat yang digunakan,
siapa yang paling pantas memberi hukuman, seberapa besar intensitas hukuman
yang harus diberikan , dan bagaimana hukuman tersebut diberikan. Hukuman dibagi
kedalam hukuman langsung dan hukuman tidak langsung. Memberi hukuman pada anak
harus mematuhi prosedur dan mengevaluasi efektifitasnya.
Ada banyak faktor
(internal/eksternal) mengapa guru menghukum siswanya, diantaranya adalah
warisan generasi sebelumnya(guru dan orang tua merasa kesulitan melepaskan diri
dari perilaku yang telah terstruktur sejak dulunya), tidak tertancapnya tujuan
pengembangan siswa(guru yang memiliki pengetahuan psikologis siswa akan
berpikir sekian kali untuk memberikan perlakuan negative, karena ilmu
berbanding lurus dengan perilaku), keterbatasan pengetahuan guru pada psikologi
perkembangan anak, minimnya kretivitas pendekatan guru(guru yang kreatif
memliki beragam cara agar siswanya dapat belajar dengan baik tanpa harus
cepat-cepat memberikan hukuman), dan sistem sekolah(jika system sekolah yang
digunakan sejak awalnya membangun sistem mendidik tanpa menghardik kemungkinan
lanjutannya adalah para guru dan semua orng yang terlibat dalam sekolah akan
memberikan layanan terbaik untuk siswanya) serta pengaruh alam bawah sadar.
Untuk menghindari perilaku memberi hukuman dapat dilakukan dengan menciptakan
suasana sekolah yang bersahabat, guru yang bersahabat, teman sekolah yang
bersahabat, suasana sekolah yang sehat, suasana keakraban anatar warga sekolah,
suasana kelas yang nyaman, proses pembelajaran yang nyaman, serta aturan dan
kewajiban positif yang harus dipatuhi semua warga sekolah.
Prosedur
memberikan hukuman : 1.)jenis hukuman yang diberikan perlu disepakati diawal
bersama anak. 2.)jenis hukuman yang diberikan harus jelas sehingga anak dapat
memahami dengan baik konsekuensi kesalahan yang dilakukan. 3.)hukuman harus
dapat terukur sejauh mana efektivitas dan keberhasilan dalam mengubah perilaku
anak. 4.)hukuman harus disampaikan dengan cara yang menyenangkan, tidak
disampaikan dengan cara menakutkan apalagi memunculkan trauma berkepanjangan.
5.)hukuman tidak berlaku jika ada stimulus diluar control. Artinya siswa yang
melakukan kesalahan yang tidak ia ketahui atau belum disepakati sebelumnya. 6.)
Hukuman dilakukan secara konsisten. 7.) hukuman segera diberikan jika perilaku
yang tidak diinginkan muncul. Penundaan akan mengakibatkan biasnya tujuan
hukuman yang diberikan.
Memodifkasi
perilaku sebagai penguatan dapat diimplementasikan dalam bentuk perilaku
positif siswa, diantaranya melalui teknik peta cerita, teknik voucher untuk
individu/ kelompok, teknik form amal, teknik pendekatan individual, teknik
penugasan evaluatif, teknik pemujian efektif, teknik bonus belajar, teknik
super visi kelas, teknik waktu bebas, teknik papan bintang, teknik school
award, teknik pajang foto, teknik repetisi kata, teknik bercerita, teknik tepuk
kreatif, teknik janji, dan teknik papan kejut.
Hukuman yang
diberikan pada anak harus bersifat positif, tidak membuat trauma, tidak membuat
sakit hati, mampu memberi efek jera, dan bersifat pembelajaran jenis-jenis
hukuman yang positif diantaranya istigfar dan komitmen ulang, isolasi,
penghilangan hak istimewa, moving, lingkaran merah, pengalihan (tidak
menghiraukan), penyekapan, skorsing, penugasan tulisan, penugasan komitmen dan
bantuan pihak luar, line sircle, infaq, sedekah amal saleh, menghapus bintang,
komentar buku penghubung, SMS laporan orang tua, tambahan tugas (hafalan),
penundaan hak, dan tembok ratapan.
Untuk
menghindari dari prilaku menghukum yang salah (teori belajar sosial bandura)
dapat mengikuti langkah sebagai berikut : pertama self control therapy (terapi control diri: tindakan
yang dilakukan guru untuk memiliki control diri yang tinggi sehingga tidak
cepat memutuskan untuk memberi hukuman sebelum ada pertimbangan yang matang dan
tepat sasaran.) meliputi removing/avoiding
: menghindari suasana keinginan untuk menghukum, emosi harus benar-benar stabil,
aversive stimuli: publikasi sebagai
guru yang santun, reinforce oneself :
member reinforcement kepada diri setelah berhasil
mendidik siswa tanpa hukuman dan kekerasan, Successive approximation :
menyusun langkah-langkah khusus menuju tujuan secara bertahap. Misalnya hari
Senin adalah hari tanpa marah, hari selasa adalah hari mengajar yang
menyenangkan, rabu adalah hari berbagi hadiah kepada siswa yang terbaik, Kamis
adalah hari memuji siswa, Jumat adalah hari belajar penuh bahagia dengan makan
kecil seharga Rp 500,00 bersama siswa di dalam kelas, dan desensitisiasi, kedua behavioral
chart : membuat daftar perilaku menghukum yang
sering dilakukan, berapa kali munculnya, pada saat kapan saja, pada situasi
seperti apa dan apa yang harus dilakukan untuk mencegah terjadinya perilaku
menghukum tersebut, ketiga self commitment: Membuat komitmen diri
untuk tidak member hukuman dengan kekerasan kepada siswa, keempat environmental planning:
Membuat setting lingkungan sekolah yang kondusif dan terbebas dari keinginan
untuk menghukum, kelima self contract: Membuat kontrak untuk
tidak member hukuman dengan kekerasan, keenam self regulation:
Tindakan yang dilakukan untuk mengontrol diri dengan melakukan perbandingan, dan yang ketujuh modeling therapy:
Pemunculan figur tokoh guru sebagai model guru yang mampu mendidik dengan
mengedepankan sisi-sisi positif siswa.
Prinsip
hukuman dalam islam lebih bersifat padat a’dib (meluruskan prilaku), bukan
memberikan hukumam. Allah menjadikan surga sebagai reward dan ancaman azab
neraka sebagai punishment. Suwaid menyebutkan beberapa tahapan dalam islam
untuk meluruskan prilaku anak, yang pertama diperlihatkan cemeti dan yang kedua
hukuman fisik (memukul dan menjewer). Memberikan hukuman fisik harus mematuhi
beberapa kaidah, yakni memukul anak setelah berusia 10 tahun, maksimal memukul
tiga kali, dan memukul hanya untuk kesalahan tertentu. Keteladanan merupakan
salah satu hal yang sangat berperan dalam pembentukan perilaku pada anak.
Kelebihan buku ini telah mencakup semua aspek dalam tindakan menghukum,
mulai dari faktor penyebab tindakan menghukum, pengaruh hukuman yang diberikan,
bagaimana prosedur dan teknik pemberian hukuman, tips dalam menciptakan
perilaku positif pada anak serta cara menghindarkan diri perbuatan menghukum
yang salah. Selain itu juga terdapat pandangan dalam islam terhadap hukuman dan
keteladanan, yang dilengkapi contoh-contoh konkrit serta indeks. Kelemahan
dalam buku ini yakni penggunaan kata asing yang tidak begitu popular dalam
masyarakat luas serta terdapat beberapa kata dan kalimat yang rancu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar