Selasa, 25 April 2017

PERAN KELUARGA DALAM MEMPERTAHANKAN EKSISTENSI INDIVIDU YANG MENGALAMI GANGGUAN JIWA


Modernitas dengan hasil kemajuannya diharapkan membawa kebahagiaan bagi manusia dan kehidupannya, akan tetapi suatu kenyataan yang menyedihkan ialah bahwa kebahagiaan itu ternyata semakin jauh, hidup semakin sukar dan kesukaran-kesukaran material berganti dengan kesukaran mental. Seperti yang diungkapkan Sederet psikolog Erich Fromm, Carl Gustav Jung, dan Rollo May jauh hari memperingatkan bahwa kehidupan di era modern akan menghancurkan tatanan kejiwaan. Beban jiwa semakin berat, kegelisahan, ketegangan dan ketertekanan menimbulkan problem-problem kejiwaan yang bervariasi. Selain meningkatnya jumlah penderita gangguan jiwa, dampak yang ditimbulkan pun menjadi problem yang penting untuk dilihat dalam masalah kesehatan mental. Menurut data World Health Organisasi (WHO) dalam Yosep (2007), masalah gangguan kesehatan jiwa diseluruh dunia memang sudah menjadi masalah yang sangat serius. WHO (2001) menyatakan, paling tidak, ada satu dari empat orang didunia mengalami masalah mental. WHO memperkirakan ada sekitar 450 juta orang didunia yang mengalami gangguan kesehatan jiwa. Selain itu dari data riset kesehatan dasar (riskesdas) Departemen Kesehatan tahun 2014 menyebutkan, terdapat 1 juta jiwa pasien gangguan jiwa berat dan 19 juta pasien gangguan jiwa ringan di Indonesia. mulai usia 15 tahun.  Dari jumlah itu, sebanyak 385.700 jiwa atau sebesar 2,03 persen pasien gangguan jiwa terdapat di Jakarta dan berada di peringkat pertama nasional. 
Beban akibat gangguan jiwa yang dipikul oleh penderita membuat mereka tak mampu menikmati kehidupannya secara normal, sosial, baik secara individu maupun sosial. Beban ini ditambah oleh adanya stigma negatif masyarakat terhadap penderita gangguan jiwa. Stigma yang paling umum terjadi, ditimbulkan oleh pandangan sebagian masyarakat yang mengidentikkan gangguan jiwa dengan “orang gila”. Oleh karena gejala-gejala yang dianggap aneh dan berbeda dengan orang normal, masih banyak orang yang menanggapi penderita gangguan jiwa yang menjadi permasalahan saat ini kesadaran masyarakat kurang sekali, bahkan ada yang sampai tidak peduli dengan para penderita gangguan jiwa. malah banyak diantara mereka bahwa itu adalah aib, menjelek-jelekan mereka, memaki-maki mereka. Karena itu masyarakat menanggapi para penderita mental dengan rasa takut atau rasa jijik. Oleh sikap yang keliru tersebut. Selain itu banyak yang menganggap orang mengidap gangguan kesehatan jiwa sulit untuk disembuhkan dan sewaktu-waktu dapat kambuh lagi sehingga dianggap sebagai beban bagi keluarganya maka dari itu kurang diperhatikan lagi. Penderita memerlukan bantuan orang lain yang mendorong dan memotivasi agar dapat mandiri. Oleh karena itu, penerimaan dan dukungan sosial dari keluarga sangat diperlukan.
Keluarga adalah dua atau lebih individu dalam satu rumah tangga karena adanya hubungan darah, perkawinan atau adopsi. Mereka saling berinteraksi satu  dengan yang lain, mempunyai peran masing-masing dan menciptakan serta mempertahankan suatu budaya (Baylon and Maglaya, 1978). Keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri atas kepala keluarga dan beberapa orang yang berkumpul dan tinggal di suatu tempat di bawah suatu atap dalam keadaan saling ketergantungan (Depkes, cit Nasrul Effendy, 1998). Sedangkan menurut Salvicion G Bailon dalam Nasrul Effendy, (1998) menyatakan bahwa keluarga adalah dua atau lebih dari dua individu yang tergabung karena hubungan darah, hubungan perkawinan atau pengangkatan dan mereka hidup dalam suatu rumah tangga, berinteraksi satu sama lain, dan di dalam perannya masing-masing menciptakan serta mempertahankan kebudayaan. Dari uraian di atas dapat menunjukkan bahwa keluarga juga merupakan suatu sistem. Suatu sistem adalah serangkaian bagian-bagian yang saling berhubungan, bekerja dengan bebas dan bersama-sama dalam pencapaian tujuan umum keseluruhan, dalam suatu lingkungan yang kompleks. Sebagai sistem, keluarga mempunyai anggota yaitu : ayah, ibu dan anak atau semua individu yang tinggal di dalam rumah tangga tersebut. Anggota keluarga tersebut saling berinteraksi, inteleransi dan interdependensi untuk mencapai tujuan bersama. Keluarga merupakan sistem yang terbuka sehingga dapat dipengaruhi oleh supra sistemnya, yaitu lingkungannya (masyarakat), keluarga dapat mempengaruhi masyarakat (supra sistem). Oleh karena itu betapa pentingnya peran dan fungsi keluarga dalam membentuk manusia sebagai anggota masyarakat yang sehat bio-psiko-sosial-spiritual.
Faktor keluarga dapat menjadi penyebab terbesar gangguan jiwa. Namun faktor dukungan dan penerimaan keluarga juga menentukan kesembuhan Seorang yang sakit jiwa. Intinya, kesembuhan pengidap gangguan jiwa tergantung sikap dan perilaku keluarga. Pentingnya perawatan dilingkungan keluarga dapat dipandang dari berbagai segi yaitu: keluarga merupakan suatu konteks individu memulai hubungan interpersonal. Keluarga mempengaruhi nilai, kepercayaan, sikap, dan prilakuklien. Menurut spradey (1985) mengemukakan bahwa keluarga mempunyai fungsi dasar seperti memberi kasih sayang, rasa aman, rasa dimiliki, dan menyiapkan peran dewasa individu di masyarakat. Menurut Friedman (1998) keluarga dipandang sebagai suatu sistem, maka gangguan yang terjadi pada salah satu anggota keluarga dapat mempengaruhi seluruh sistem. Keluarga juga sebagai suatu kelompok dapat menimbulkan, mencegah, mengabaikan atau memperbaiki masalah-masalah kesehatan dalam kelompoknya. Jika keluarga dipandang sebagai suatu sistem, maka gangguan jiwa pada satu anggota keluarga akan menganggu semua sistem atau keadaan keluarga. Hal ini merupakan salah satu faktor penyebab terjadinya gangguan jiwa pada anggota keluarga. Manusia sebagai mahluk sosial tidak dapat dipisahkan dari masyarakat. Untuk mempertahankan eksistensinya manusia perlu berada bersama orang lain dan mengadakan interaksi sosial di dalam kelompoknya. Kelompok ini dibedakan menjadi kelompok kecil (keluarga) dan kelompok yang lebih luas (masyarakat). Masyarakat merupakan sekelompok orang yang memiliki identitas sendiri dan mendiami wilayah atau daerah tertentu ,serta mengembangkan norma-norma yang harus dipatuhi oleh para anggotanya. Seseorang yang mengalami ganggguan kejiwaan sekalipun membutuhkan eksistensi dari keluarga dengan adanya dukungan sosial keluarga.  Menurut Smith (1994), dukungan keluarga adalah pertolongan dan semangat yang diberikan oleh keluarga terhadap anggotanya dimana dukungan tersebut sebagai variabel mediator yang menunjukkan fasilitas koping selama waktu krisis.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar