Modernitas dengan hasil kemajuannya
diharapkan membawa kebahagiaan bagi manusia dan kehidupannya, akan tetapi suatu
kenyataan yang menyedihkan ialah bahwa kebahagiaan itu ternyata semakin jauh,
hidup semakin sukar dan kesukaran-kesukaran material berganti dengan kesukaran
mental. Seperti yang diungkapkan Sederet psikolog Erich Fromm, Carl Gustav Jung, dan Rollo May jauh hari
memperingatkan bahwa kehidupan di era modern akan menghancurkan tatanan
kejiwaan. Beban jiwa
semakin berat, kegelisahan, ketegangan dan ketertekanan menimbulkan
problem-problem kejiwaan yang bervariasi. Selain meningkatnya jumlah penderita
gangguan jiwa, dampak yang ditimbulkan pun menjadi problem yang penting untuk
dilihat dalam masalah kesehatan mental. Menurut data World Health Organisasi
(WHO) dalam Yosep (2007), masalah gangguan kesehatan jiwa diseluruh dunia
memang sudah menjadi masalah yang sangat serius. WHO (2001) menyatakan, paling
tidak, ada satu dari empat orang didunia mengalami masalah mental. WHO
memperkirakan ada sekitar 450 juta orang didunia yang mengalami gangguan
kesehatan jiwa. Selain itu dari data riset kesehatan dasar
(riskesdas) Departemen Kesehatan tahun 2014 menyebutkan, terdapat 1 juta jiwa
pasien gangguan jiwa berat dan 19 juta pasien gangguan jiwa ringan di
Indonesia. mulai usia 15 tahun. Dari
jumlah itu, sebanyak 385.700 jiwa atau sebesar 2,03 persen pasien gangguan jiwa
terdapat di Jakarta dan berada di peringkat pertama nasional.
Beban akibat gangguan jiwa yang
dipikul oleh penderita membuat mereka tak mampu menikmati kehidupannya secara
normal, sosial, baik secara individu maupun sosial. Beban ini ditambah oleh
adanya stigma negatif masyarakat terhadap penderita gangguan jiwa. Stigma yang
paling umum terjadi, ditimbulkan oleh pandangan sebagian masyarakat yang
mengidentikkan gangguan jiwa dengan “orang gila”. Oleh karena gejala-gejala
yang dianggap aneh dan berbeda dengan orang normal, masih banyak orang yang
menanggapi penderita gangguan jiwa yang menjadi permasalahan saat ini kesadaran
masyarakat kurang sekali, bahkan ada yang sampai tidak peduli dengan para
penderita gangguan jiwa. malah banyak diantara mereka bahwa itu adalah aib,
menjelek-jelekan mereka, memaki-maki mereka. Karena itu masyarakat menanggapi
para penderita mental dengan rasa takut atau rasa jijik. Oleh sikap yang keliru
tersebut. Selain itu banyak yang menganggap orang mengidap gangguan kesehatan
jiwa sulit untuk disembuhkan dan sewaktu-waktu dapat kambuh lagi sehingga
dianggap sebagai beban bagi keluarganya maka dari itu kurang diperhatikan lagi.
Penderita memerlukan bantuan orang lain yang mendorong dan memotivasi agar
dapat mandiri. Oleh karena itu, penerimaan dan dukungan sosial dari keluarga
sangat diperlukan.
Keluarga adalah dua atau lebih
individu dalam satu rumah tangga karena adanya hubungan darah, perkawinan atau
adopsi. Mereka saling berinteraksi satu dengan
yang lain, mempunyai peran masing-masing dan menciptakan serta mempertahankan
suatu budaya (Baylon and Maglaya, 1978). Keluarga adalah unit terkecil dari
masyarakat yang terdiri atas kepala keluarga dan beberapa orang yang berkumpul
dan tinggal di suatu tempat di bawah suatu atap dalam keadaan saling
ketergantungan (Depkes, cit Nasrul Effendy, 1998). Sedangkan menurut Salvicion
G Bailon dalam Nasrul Effendy, (1998) menyatakan bahwa keluarga adalah dua atau
lebih dari dua individu yang tergabung karena hubungan darah, hubungan
perkawinan atau pengangkatan dan mereka hidup dalam suatu rumah tangga,
berinteraksi satu sama lain, dan di dalam perannya masing-masing menciptakan
serta mempertahankan kebudayaan. Dari uraian di atas dapat menunjukkan bahwa
keluarga juga merupakan suatu sistem. Suatu sistem adalah serangkaian
bagian-bagian yang saling berhubungan, bekerja dengan bebas dan bersama-sama
dalam pencapaian tujuan umum keseluruhan, dalam suatu lingkungan yang kompleks.
Sebagai sistem, keluarga mempunyai anggota yaitu : ayah, ibu dan anak atau
semua individu yang tinggal di dalam rumah tangga tersebut. Anggota keluarga
tersebut saling berinteraksi, inteleransi dan interdependensi untuk mencapai
tujuan bersama. Keluarga merupakan sistem yang terbuka sehingga dapat
dipengaruhi oleh supra sistemnya, yaitu lingkungannya (masyarakat), keluarga
dapat mempengaruhi masyarakat (supra sistem). Oleh karena itu betapa pentingnya
peran dan fungsi keluarga dalam membentuk manusia sebagai anggota masyarakat
yang sehat bio-psiko-sosial-spiritual.
Faktor keluarga dapat menjadi penyebab terbesar gangguan
jiwa. Namun faktor dukungan dan penerimaan keluarga juga menentukan kesembuhan
Seorang yang sakit jiwa. Intinya, kesembuhan pengidap gangguan jiwa tergantung
sikap dan perilaku keluarga. Pentingnya perawatan dilingkungan keluarga dapat
dipandang dari berbagai segi yaitu: keluarga merupakan suatu konteks individu
memulai hubungan interpersonal. Keluarga mempengaruhi nilai, kepercayaan,
sikap, dan prilakuklien. Menurut spradey (1985) mengemukakan bahwa keluarga
mempunyai fungsi dasar seperti memberi kasih sayang, rasa aman, rasa dimiliki,
dan menyiapkan peran dewasa individu di masyarakat. Menurut Friedman (1998)
keluarga dipandang sebagai suatu sistem, maka gangguan yang terjadi pada salah
satu anggota keluarga dapat mempengaruhi seluruh sistem. Keluarga juga sebagai
suatu kelompok dapat menimbulkan, mencegah, mengabaikan atau memperbaiki
masalah-masalah kesehatan dalam kelompoknya. Jika keluarga dipandang sebagai
suatu sistem, maka gangguan jiwa pada satu anggota keluarga akan menganggu
semua sistem atau keadaan keluarga. Hal ini merupakan salah satu faktor
penyebab terjadinya gangguan jiwa pada anggota keluarga. Manusia sebagai mahluk
sosial tidak dapat dipisahkan dari masyarakat. Untuk mempertahankan
eksistensinya manusia perlu berada bersama orang lain dan mengadakan interaksi
sosial di dalam kelompoknya. Kelompok ini dibedakan menjadi kelompok kecil
(keluarga) dan kelompok yang lebih luas (masyarakat). Masyarakat merupakan
sekelompok orang yang memiliki identitas sendiri dan mendiami wilayah atau
daerah tertentu ,serta mengembangkan norma-norma yang harus dipatuhi oleh para
anggotanya. Seseorang yang mengalami ganggguan kejiwaan sekalipun membutuhkan
eksistensi dari keluarga dengan adanya dukungan sosial keluarga. Menurut Smith (1994), dukungan keluarga adalah
pertolongan dan semangat yang diberikan oleh keluarga terhadap anggotanya
dimana dukungan tersebut sebagai variabel mediator yang menunjukkan fasilitas
koping selama waktu krisis.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar