Rabu, 26 April 2017

ISRA MI'RAJ (Tatkala Akal Harus Tunduk Dengan Iman)



Filsafat selalu mempertanyakan hal-hal yang mendasar dalam dirinya. manusia dituntut untuk merenungi dan menganalisis semua yang ada disekitarnya dalam bentuk pengamatan ataupun pengetahuan yang ia peroleh. Di dalam filsafat kita dituntut menggunakan akal dan berfikir rasional namun, ada hal yang perlu diperhatikan tentang perasaan yang dimiliki oleh setiap manusia. Perasaan itu erat kaitannya dengan keyakinan. Keyakinan itu berasal dari perasaan yang dimiliki seseorang dan hatilah yang membenarkannya.  Ada saat nya sesuatu hal yang tidak bisa dijelaskan oleh suatu pemikiran karena manusia memiliki keterbatasan  begitu pun dengan otak manusia.
Manusia memang makhluk yang sempurna dibandingkan makhluk lainnya karena memiliki akal yang dapat digunakan untuk berfikir namun, sebagai manusia yang beragama pastilah kita meyakini bahwa semua memiliki batasan tertentu karena manusia hanya diciptakan dan ada yang menciptakan. Dengan begitu sebenarnya ilmu pengetahuan pun memiliki keterbatasan karena tidak ada yang sempurna semuanya pasti memiliki kelebihan maupun kekurangan. Suatu kisah tentang Isra Miraj menceritakan bahwa adanya perjalanan nabi muhammad saw yang singkat ke langit menggunakan buraq merupakan ujian berat bagi orang-orang yang berfilsafat dan berifikir rasional karena itu merupakan suatu hal yang tidak memungkinkan. Tetapi bagi orang yang beragama pastilah ini adalah sebuah keyakinan berdasarkan hati yaitu adanya Kesadaran iman untuk mengatasi atau melampaui pemahaman akal. Karena dalam islam kejadian ini sudah ada dan dijelaskann oleh allah dalam al-qur’an "Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada suatu malam dari Al-Masjidil Haram ke Al-Masjidil Aqsha, yang telah Kami berkahi sekelilingnya, agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda kebesaran Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar, lagi Maha Melihat."-(QS.17:1). Dalam islam al-qur’an adalah sumber pembenaran, yang sudah ada dalam al-qur’an kebenarannya sudah pasti. maka dari itulah al-qur’an dijadikan pedoman bagi umat muslim. Dan kita harus mempercayainya karena itu merupakan bentuk keimanan yang sudah menyangkut aqidah salah satunya adalah percaya kepada kitab allah. Keyakinan ini merupakan suatu jalan  bagaimana pemahaman akal sudah tidak bisa lagi digunakan oleh kita yang jika terus-menerus dipertanyakan akan mengakibatkan frustasi. Efek frustasi itu yang akan merusak otak kita. Disinilah kesadaran iman dapat berfungsi untuk menyegarkan otak kita dari kebuntuan. Orang yang beriman tidak pernah mengalami kebuntuan karena jika itu terjadi mereka menggunakan keimanannya untuk menjawab pertanyaan yang tidak bisa ditemukan jawabanya melalui akal dan pemahamannya. Akal memang selalu di lebih dahulukan tapi ada kalanya kita harus mengabaikan akal. pemahaman akal mesti tunduk pada kesadaran iman.

Akal merupakan anugerah terbesar bagi manusia karena itulah yang membedakannya dengan makhluk lain sehingga disebut makhluk yang paling sempurna. Akal terdapat pada otak, otak terletak dibagian paling atas anggota tubuh manusia yakni kepala. Artinya akal ditempatkan paling atas menunjukan betapa pentingnya akal untuk manusia. Adanya alam semesta dengan segala isinya, adanya yang mengatur tata surya sehingga terciptanya kehidupan di bumi. Seharusnya akal digunakan untuk berpikir semua itu dan menyadari kebesaran tuhan namun, akal digunakan kesombongan manusia bahwa semua yang ada di alam semesta dapat dijelaskan melalui akal dan pemahamannya sehingga mendustakan bahwa ada yang berkuasa atas semuanya  yaitu sang pencipta. Penting sekali tatkala akal harus tunduk pada kesadaran iman. Peristiwa isra mi'raj juga yang menjadi awal diturunkannya perintah sholat. Dalam gerakan sholat menuntun kita bagaimana seharusnya memberikan tempat untuk akal. Ketika berdiri tegak berarti adakalanya kita mendahulukan akal, ketika rukuk saat posisi kepala sejajar dengan hati yang berati adakalanya kita menggunakan akal namun, menggunakan pula sentuhan nurani, nurani ini yang menguatkan kita ketika kita lebih menggunakan hati dibanding akal, dan ketika sujud saat posisi kepala berada dipaling bawah yang dapat berarti adakalanya akal harus tunduk total mungkin itu bisa menjadi sebab gerakan sujud dilakukan 2x disetiap rakaatnya. Agar kita menyadari bahwa manusia memiliki akal untuk tunduk dan patuh kepada Allah SWT. Wallahu a'lam.
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar