Jumat, 04 Agustus 2017

MY HERO



MY HERO
 
Superhero. Mendengar kata itu kita pasti terbayang sosok Spiderman, Superman, Batman, maupun para The Avengers. Mereka adalah sosok yang terkenal dan menerima banyak pujian dari khalayak karena banyak menolong dan membantu orang, karena itu mereka disebut sebagai Pahlawan. Pahlawan identik dengan paras tampan nan menawan, memiliki kekuatan yang besar, berjiwa lapang, dan dapat menolong banyak orang, namun itu hanya ada di negeri khayalan.  Bagiku, pahlawan sejati adalah ayah. Ia rela mengorbankan seluruh jiwa dan raga demi keluarganya bukan untuk sekali, dua kali, tiga kali, tapi untuk sepanjang hayatnya. Tidak hanya rela untuk selalu memberikan harta yang didapatkan melalui cucuran keringatnya namun, perhatian, perlindungan, sehingga rasa aman dan nyaman selalu dihadirkan setiap ada disisinya. Pahlawan sekaligus pemimpin, pemimpin hakikatnya dipegang oleh seorang laki-laki. Ada pepatah yang biasa kita dengar bahwa dibalik sesosok laki-laki hebat terdapat wanita hebat yang mendukungnya dan yang menjadikannya hebat, maka dari itu peran wanita pun tak kalah sangat penting, kasih sayang dan kelembutannya adalah sumber kekuatan bagi keluarga, pabila sumber kekuatan tersebut melemah yang lainpun akan menjadi rapuh. Begitulah pentingnya keluarga saling melengkapi satu sama yang lain. Ayah kuanggap sebagai Pahlawan tapi ibu adalah segalanya bagiku.
Bapak, itulah panggilan untuk seseorang yang aku anggap sebagai pahlawan hidupku. Bapaku adalah anak ke-3 dari 11 bersaudara, sejak kecil bapaku terbiasa menjalani hidup yang keras. Ia membiayai sendiri untuk bisa sekolah hingga tamat SMEA (sekolah menegah ekonomi atas). Dari berjualan Koran sampai menjadi orang kantoran, mencari uang di jalanan sampai kerja di dalam ruangan semua pernah dilakoninya, itulah yang membuatnya menjadi sesosok yang tangguh, mandiri, bertanggung jawab, penyabar, sangat disiplin, dan pekerja keras.


Orang bilang ayah adalah seorang nahkoda yang mengendalikan lajunya arah kapal dan menjadi seorang di garda terdepan setiap bahaya yang menghadang. Itulah mengapa aku sebut bapak adalah pahlawan karena ia adalah orang yang pertama kali memasang badannya dan menggunakan tubuhnya untuk melindungi anggota keluarganya dengan segala rasa kesakitan, keletihan, dan ketidakberdayaannya, agar anggota yang lain tidak merasakan sakit. Ia tidak pernah mengeluh, hanya selalu membagi kebahagian tanpa memberi kesedihannya meski ujian hidup bagai angin topan yang memporapondakan rumah menjadi runtuhan, pohon menjadi tumbang, dan ia tetap tegar itulah mengapa aku sebut bapak seorang yang tangguh.
Sisi lain bapak sebagai pahlawan dia seperti satpam yang selalu memastikan anak-anaknya sudah makan dengan teratur, ia lakukan setiap hari dengan rutin hingga saat ini. Setiap kali malam selalu mengecek ke kamar anak-anaknya yang sedang tertidur, sebuah bentuk perhatian yang tidak ingin ditunjukan. Kala anaknya sakit memang ibu yang merawat, tetapi beban pikiran bapak 2x lipat memikirkan anaknya yang sedang sakit, memastikan semua yang diperlukan agar memulihkan kesehatan anaknya harus terpenuhi. Selain itu, bapak juga adalah seorang suami yang tidak pernah memarahi istrinya, hingga umurku 21 tahun, tidak pernah sekalipun bapak pernah memarahi, membentak, atau meninggikan suara kepada mama. Sekalipun mama sering kali mengeluarkan keluh kesahya kepada bapak, membuat bapak kesal, ataupun membuat kesalahan, tak pernah sekalipun aku dengar bapak memarahi mama, ia hanya melemparkan senyuman dan tawa sebagai balasan dari ocehannya. sosok berjiwa besar terdapat pada dirinya. Sering kali ingin aku katakan bahwa aku sayang bapak, tetapi kerap kali lidah ini kelu dan kaku ketika teringiang sifat dingin dan cuekmu yang sebenarnya penyayang, namun membuatku enggan dan canggung untuk mengungkapkannya bahkan sampai detik ini aku belum pernah mengucapkan bahwa diriku amat menyayangimu tapi kasihmu selalu kau berikan. Dalam tulisan ini aku ingin mengatakan.
Terima kasih pak atas kebahagiaanku yang berasal dari keringatmu mencari rezeki siang dan malam, aku sayang bapak. Sosokmu tak akan terganti. I Love you.. MY HERO IN MY LIFE.

Bijak Menghukum Siswa



Judul Buku      : Bijak Menghukum Siswa
Penulis             : Mamiq Gaza
Penerbit           : Ar-Ruz Media

      Disini saya ingin membedah dan mereview buku tentang Bijak Menghukum Siswa, buku ini bagus dibaca bagi seorang guru maupun calon guru. yuks langsung aja yaa...

   Seorang pendidik memiliki tugas untuk mencerdaskan anak bangsa. Dalam melakukan proses pembelajaran sebagai seorang pendidik tidak hanya memberikan ilmunya kepada murid, tetapi juga berperan sebagai orang tua di sekolah yang tugasnya mendidik dan membimbing untuk memanusiakan manusia namun, dalam menjalankan tugasnya sering sekali ditemukan seorang pendidik memberikan hukuman kepada murid yang melakukan kesalahan. Buku ini membahas hukuman seperti apa yang pantas dan bijak kepada seseorang murid yang melakukan kesalahan untuk memberikan efek jera agar tidak melakukan kesalahan yang sama lagi. Hukuman yang diberikan itu pas dan sesuai kebutuhan yang diperlukan seorang anak untuk mengubah kesalahan itu menjadi prilaku yang positif bukan merusak psikologis si anak. Beberapa pendapat yang menyatakan bahwa perilaku menghukum itu sama dengan tindakan kekerasan yang dilakukan guru pada siswanya ataupun orangtua terhadap anaknya. menurut penulis, hal ini tidak sepenuhnya benar karena hukuman bisa jadi sebuah metode yang harus dilakukan dalam mengendalikan anak agar menjadi lebih baik. Perilaku menghukum itu bisa jadi dinamai aksi kekerasan ketika ia berorientasi pada hasil yang membuat anak “sakit” bukan terdidik. Menghukum bisa memberikan dampak yang diharapkan. Namun, jika mekanismenya salah bisa berdampak terbalik dari yang diharapkan. .
            Dalam buku ini terdapat penjelasan tentang berbagai komponen, faktor penyebab serta pengaruh, dan macam-macam cara (teknik) dalam pembentukan perilaku positif pada anak baik melalui hukuman ataupun penguatan. Dalam berbagai sub bab penjelasan dapat disimpulkan bahwa dalam memperbaiki perilaku anak harus memiliki dasar yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan, dapat diukur, dan dapat dievaluasi.
Tindakan menghukum sudah menjadi hal yang biasa dalam seluruh lapisan masyarakat. Sebagian masyarakat berpendapat bahwa memberi hukuman pada anak merupakan sesuatu yang perlu bahkan harus dilakukan, disisi lain banyak masyarakat yang berpendapat sebaliknya. Menghukum disini dimaksudkan untuk menghilangkan perilaku yang menyimpang dan tidak baik pada diri anak. Namun hukuman sering mengarah pada kekerasan sehingga menjadikan trauma pada anak, bukan memperbaiki sifat pada anak tetapi malah membuat anak tidak jera dengan perbuatan negatifnya.
Untuk mengubah perilaku pada anak dapat dilakukan langkah penguatan (Reindorcement), penghargaan (Reward) untuk perilaku positif anak dan hukuman (punishment)untuk perilaku negatif anak. Untuk itu ditetapkan respon yang tepat pada setiap perilaku baru yang muncul pada anak. Menurut skinner ada dua macam respon, yakni respondent response (Reflexive Response) dan operant resonse (Instrumental Response)
Prinsip reinforcement adalah memunculkan perilaku yang dikendaki sehingga ada kecenderungan bagi anak untuk mengulangi prilaku itu kembali. Menurut walker (1996), jenis reinforcement dibedakan dalam primary enforces, secondary reinforces, contingent reinforces, dan positive reinforces. Ada empat cara menentukan kapan jadwal reinforcement diberikan yakni fixed ratio schedule (FR), variable ratio schedule (VR), fixed interval schedule, dan variable interval schedule.
Ada empat kategori kekerasan yang sering terjadi pada anak (komisi nasional perlindungan Anak, 2006) yaitu kekerasan seksual, kekerasan fisik, kekerasan emosional, dan kekersan dalam bentuk penelataran. Sedangkan menurut Riauskina, Djuwita, dan Soesitio (2001) mengelompokan kekerasan dalam lima kategori yaitu kontak fisik langsung (memukul, mendorong, mencubit, mencakar juga termasuk memeras dan merusak barang-barang milik orang lain), kontak verbal langsung(mengancam, mempermalukan, merendahkan, menganggu, memberikan panggilan nama buruk, mencela, mengintimidasi, dan mengejek), perilaku nonverbal langsung (melihat dengan sinis, menjulurkan lidah, menampilkan ekspresi muka yang merendahkan atau mengancam), perilaku non verbal tidak langsung (mendiamkan seseorang, sengaja mengucilkan atau mengabaikan, membiarkan anak tanpa pengawasan), dan pelecehan seksual.
Prinsip belajar efektif dengan suasana menyenangkan merupakan prinsip belajar yang sangat diharapkan oleh semua pelajar. Quantum learning adalah salah satu ikon belajar menyenangkan. Salah satunya adalah prinsip Fun Learning mengandung beragam kegiatan belajar yang menyenangkan dan menghidupkan misalnya belajar dnegan music, belajar denagn aneka warna, belajar dengan teknik bermain. Disamping memperhatikan prinsip pembelajaran juga harus memahami gelombang otak manusia dalam kemampuan belajar, dimana pada otak manusia pada gelombang-gelombang tertentu individu tidak dapat belajar dengan baik. diantaranya gelombang delta 1-3 Cps (contohnya : aktivitas tidur, produksi hormon pertumbahan. Pada kondisi ini anak tidak bisa belajar dengan baik). Gelombang teta 4-7 Cps (contohnya : aktivitas doa, berada dalam kondisi hening, khusuk dan cenderung inspiratif. Gelombang ini cenderung melahirkan banyak ide dan gagasan kreativitas), gelombang alpha 8-12 Cps(suasana otak cenderung rileks, suasana meditative, dan merasa nyaman. Pada kondisi inilah belajar dapat optimal), dan gelombang betha 18-40 Cps (otak anak cenderung di dominasi logika, dikendalikan oleh alam sadar dan keadaan apa saja yang terjadi dihadapannya. Gelobang ini dipicu rasa takut, khawatir dan merasa terancam yang cenderung berujung stress. Pada kondisi ini anak tidak mungkin bisa belajar karena mengalami blocking.)
Dampak pemberian hukuman yang tidak sehat bukan hanya beresiko pada anak namun juga pada si pemberi hukuman. Hukuman yang ditujukan agar berdampak trauma pada anak harus benar-benar difikirkan dengan matang mulai dari alat yang digunakan, siapa yang paling pantas memberi hukuman, seberapa besar intensitas hukuman yang harus diberikan , dan bagaimana hukuman tersebut diberikan. Hukuman dibagi kedalam hukuman langsung dan hukuman tidak langsung. Memberi hukuman pada anak harus mematuhi prosedur dan mengevaluasi efektifitasnya.
Ada banyak faktor (internal/eksternal) mengapa guru menghukum siswanya, diantaranya adalah warisan generasi sebelumnya(guru dan orang tua merasa kesulitan melepaskan diri dari perilaku yang telah terstruktur sejak dulunya), tidak tertancapnya tujuan pengembangan siswa(guru yang memiliki pengetahuan psikologis siswa akan berpikir sekian kali untuk memberikan perlakuan negative, karena ilmu berbanding lurus dengan perilaku), keterbatasan pengetahuan guru pada psikologi perkembangan anak, minimnya kretivitas pendekatan guru(guru yang kreatif memliki beragam cara agar siswanya dapat belajar dengan baik tanpa harus cepat-cepat memberikan hukuman), dan sistem sekolah(jika system sekolah yang digunakan sejak awalnya membangun sistem mendidik tanpa menghardik kemungkinan lanjutannya adalah para guru dan semua orng yang terlibat dalam sekolah akan memberikan layanan terbaik untuk siswanya) serta pengaruh alam bawah sadar. Untuk menghindari perilaku memberi hukuman dapat dilakukan dengan menciptakan suasana sekolah yang bersahabat, guru yang bersahabat, teman sekolah yang bersahabat, suasana sekolah yang sehat, suasana keakraban anatar warga sekolah, suasana kelas yang nyaman, proses pembelajaran yang nyaman, serta aturan dan kewajiban positif yang harus dipatuhi semua warga sekolah.
Prosedur memberikan hukuman : 1.)jenis hukuman yang diberikan perlu disepakati diawal bersama anak. 2.)jenis hukuman yang diberikan harus jelas sehingga anak dapat memahami dengan baik konsekuensi kesalahan yang dilakukan. 3.)hukuman harus dapat terukur sejauh mana efektivitas dan keberhasilan dalam mengubah perilaku anak. 4.)hukuman harus disampaikan dengan cara yang menyenangkan, tidak disampaikan dengan cara menakutkan apalagi memunculkan trauma berkepanjangan. 5.)hukuman tidak berlaku jika ada stimulus diluar control. Artinya siswa yang melakukan kesalahan yang tidak ia ketahui atau belum disepakati sebelumnya. 6.) Hukuman dilakukan secara konsisten. 7.) hukuman segera diberikan jika perilaku yang tidak diinginkan muncul. Penundaan akan mengakibatkan biasnya tujuan hukuman yang diberikan.
Memodifkasi perilaku sebagai penguatan dapat diimplementasikan dalam bentuk perilaku positif siswa, diantaranya melalui teknik peta cerita, teknik voucher untuk individu/ kelompok, teknik form amal, teknik pendekatan individual, teknik penugasan evaluatif, teknik pemujian efektif, teknik bonus belajar, teknik super visi kelas, teknik waktu bebas, teknik papan bintang, teknik school award, teknik pajang foto, teknik repetisi kata, teknik bercerita, teknik tepuk kreatif, teknik janji, dan teknik papan kejut.
Hukuman yang diberikan pada anak harus bersifat positif, tidak membuat trauma, tidak membuat sakit hati, mampu memberi efek jera, dan bersifat pembelajaran jenis-jenis hukuman yang positif diantaranya istigfar dan komitmen ulang, isolasi, penghilangan hak istimewa, moving, lingkaran merah, pengalihan (tidak menghiraukan), penyekapan, skorsing, penugasan tulisan, penugasan komitmen dan bantuan pihak luar, line sircle, infaq, sedekah amal saleh, menghapus bintang, komentar buku penghubung, SMS laporan orang tua, tambahan tugas (hafalan), penundaan hak, dan tembok ratapan.
Untuk menghindari dari prilaku menghukum yang salah (teori belajar sosial bandura) dapat mengikuti langkah sebagai berikut : pertama self control therapy (terapi control diri: tindakan yang dilakukan guru untuk memiliki control diri yang tinggi sehingga tidak cepat memutuskan untuk memberi hukuman sebelum ada pertimbangan yang matang dan tepat sasaran.) meliputi removing/avoiding : menghindari suasana keinginan untuk menghukum, emosi harus benar-benar stabil, aversive stimuli: publikasi sebagai guru yang santun, reinforce oneself : member reinforcement kepada diri setelah berhasil mendidik siswa tanpa hukuman dan kekerasan, Successive approximation : menyusun langkah-langkah khusus menuju tujuan secara bertahap. Misalnya hari Senin adalah hari tanpa marah, hari selasa adalah hari mengajar yang menyenangkan, rabu adalah hari berbagi hadiah kepada siswa yang terbaik, Kamis adalah hari memuji siswa, Jumat adalah hari belajar penuh bahagia dengan makan kecil seharga Rp 500,00 bersama siswa di dalam kelas, dan desensitisiasi, kedua behavioral chart : membuat daftar perilaku menghukum yang sering dilakukan, berapa kali munculnya, pada saat kapan saja, pada situasi seperti apa dan apa yang harus dilakukan untuk mencegah terjadinya perilaku menghukum tersebut, ketiga self commitment: Membuat komitmen diri untuk tidak member hukuman dengan kekerasan kepada siswa, keempat environmental planning: Membuat setting lingkungan sekolah yang kondusif dan terbebas dari keinginan untuk menghukum, kelima self contract: Membuat kontrak untuk tidak member hukuman dengan kekerasan, keenam self regulation: Tindakan yang dilakukan untuk mengontrol diri dengan melakukan perbandingan, dan yang ketujuh modeling therapy: Pemunculan figur tokoh guru sebagai model guru yang mampu mendidik dengan mengedepankan sisi-sisi positif siswa.
Prinsip hukuman dalam islam lebih bersifat padat a’dib (meluruskan prilaku), bukan memberikan hukumam. Allah menjadikan surga sebagai reward dan ancaman azab neraka sebagai punishment. Suwaid menyebutkan beberapa tahapan dalam islam untuk meluruskan prilaku anak, yang pertama diperlihatkan cemeti dan yang kedua hukuman fisik (memukul dan menjewer). Memberikan hukuman fisik harus mematuhi beberapa kaidah, yakni memukul anak setelah berusia 10 tahun, maksimal memukul tiga kali, dan memukul hanya untuk kesalahan tertentu. Keteladanan merupakan salah satu hal yang sangat berperan dalam pembentukan perilaku pada anak.
Kelebihan buku ini telah mencakup semua aspek dalam tindakan menghukum, mulai dari faktor penyebab tindakan menghukum, pengaruh hukuman yang diberikan, bagaimana prosedur dan teknik pemberian hukuman, tips dalam menciptakan perilaku positif pada anak serta cara menghindarkan diri perbuatan menghukum yang salah. Selain itu juga terdapat pandangan dalam islam terhadap hukuman dan keteladanan, yang dilengkapi contoh-contoh konkrit serta indeks. Kelemahan dalam buku ini yakni penggunaan kata asing yang tidak begitu popular dalam masyarakat luas serta terdapat beberapa kata dan kalimat yang rancu.


UCAPAN ADALAH SEBUAH DO'A

      huh, akhirnya punya niat menulis lagi disini setalah lama tidak berjumpa, karena harus menyelesaikan skripsi dengan drama yang menyertainya. Jadi pingin cerita sedikit, gapapa kan. Iya gapapa soalnya pembacanya kan gue doang ;( haha lupakan. Jadi gini, ceritanya gue ingin menyelesaikan skripsi gue dengan cepat pingin kayak orang-orang bisa 3,5 tahun tapi apadaya jurusan gue sudah memprogram minimal lulus 4 tahun maksimal 7 tahun, kalo lewat lo out. Drama dimulai saat gue dapet dosen pembimbing yang gak gue inginkan dan dosen yang pernah bermasalah dengan gue. Tetapi doa-doa gue terkabul, seiring berjalanannya waktu dosen pembimbing gue diganti semua dan sesuai yang gue mau. Drama berlanjut  karena disetiap step gue ganti judul terus dari pertama ngajuin judul, judul yang dipilih dosen gue adalah judul yang sulit gue dapatkan datanya dilapangan karena gue gak punya link untuk mendapatkan informan yang bagus, gue memang pesimis akhirnya gue ganti judul. Setelah ganti judul dan bikin proposal ternyata judul gue gak ada masalahnya, dan gak bisa diteliti, gue langsung panas dingin,  gue bimbingan sambil ngejar dosen gue yang udah mau pulang, tapi justru disaat genting itu gue malah dapetin judul, oke sip gue bisa seminar.  Setelah seminar judul gue dimodif lagi, gapapa aku rapopo pak. Sampe sidang pun judul gue masih dimodif lagi. Akhirnya, gue bisa selesain itu semua sesuai apa yang gue inginkan tanpa disadari gue seminar di hari pertama, sidang dihari pertama juga. Lalu ? gue dapet tambahan huruf deh di nama gue yang singkat ini, setidaknya dapet 3 huruf lagi, yaitu S.Pd.
                  Tau kan singkatan S.Pd ? yups, Sarjana Pengen diseriusin. Eh, salah ya maksudnya itu sarjana Pendidikan, yang prospek kerjanya tentu menjadi guru. Anyway gue gak pingin jadi guru sebenernya, gue pinginya jadi Gubenur B.I, kalo gue jadi Gubernur BI gue pingin pecat-pecatin yang korupsi lalu gue masukan dia ke pondok pesantren biar tobat, sekarang sih cuma jadi khayalan, tapi entah ya kalo ada keajaiban, haha. Gue pernah berkata seperti ini “Gue gak mau jadi guru, soalnya males, masa dari TK sampai tua di sekolah terus sih”, begitulah pemikiran gue saat SMA. Setelah selesai UN dimana ke sekolah hanya ada kegabutan. Dibangku, di dalam kelas. Saat itu gue dan temen gue lagi melamun, dia nyeletuk “din, suatu saat nanti gue janji kita akan kembali lagi disini bukan sebagai seorang murid tapi sebagai seorang guru.” Gue tersontak bangun dari lamunan gue, sempet bingung kok kita ya, gue kan gak mau jadi guru. Melihat temen gue sangat bersemangat sekali gue gak tega buat merusak semangatnya. Gue kuatin lagi agar harapannya itu tercapai, gue bilang ke dia “biar lo gak lupa sama janji lo, gue tulis nih janji kita di meja ini pake tipe-x”. Di meja itu gue Cuma menulis nama gue dan nama dia berjanji, tapi tidak dituliskan apa janjinya. Allah mengabulkan ucapan gue itu. Pertama, dengan gue dan dia benar diterima di kampus yang sama dengan jurusan pendidikan.
                  Gue bisa jalani perkuliahan gue dengan sepenuh hati karena bidang yang gue ambil adalah yang gue sukai yaitu ilmu sosial cuma pendidikannya aja yang gak gue suka. Setiap ada matakuliah pendidikan gue  gak bersemangat, tapi entah kenapa justru nilai mata kuliah kependidikan gue selalu dapet “A”. di perjalanan kuliah dia sempet mengingatkan gue lagi akan janji dia itu, kalo ternyata janjinya itu bisa bikin dia jadi bersemangat, gue juga semangat dong padahal sejujurnya gue gak mau jadi guru, huehehe. Hingga akhirnya gue sangat bersyukur kepada allah SWT bahwa meskipun bukan pilihan gue tapi ini adalah yang terbaik untuk gue, hingga akhirnya kita bisa mewujudkan janji yang di awal hanya terucap dari kata-kata ini menjadi kenyataan, karena saat ini kita sudah menjadi sarjana pendidikan, kita bisa kembali ke sekolah kita bukan sebagai murid tapi sebagai guru.
                  Dari cerita gue ini, gue ingin menyampaikan benar adanya bahwa ucapan adalah doa, jangan menyepelekan perkataan anda, harapan anda, cita-cita anda. karna bisa jadi perkataan itu menjadi kenyataan, entah itu sesuai keinginan anda atau bukan.