huh, akhirnya punya niat menulis lagi
disini setalah lama tidak berjumpa, karena harus menyelesaikan skripsi dengan
drama yang menyertainya. Jadi pingin cerita sedikit, gapapa kan. Iya gapapa
soalnya pembacanya kan gue doang ;( haha lupakan. Jadi gini, ceritanya gue
ingin menyelesaikan skripsi gue dengan cepat pingin kayak orang-orang bisa 3,5
tahun tapi apadaya jurusan gue sudah memprogram minimal lulus 4 tahun maksimal
7 tahun, kalo lewat lo out. Drama dimulai saat gue dapet dosen pembimbing yang
gak gue inginkan dan dosen yang pernah bermasalah dengan gue. Tetapi doa-doa gue
terkabul, seiring berjalanannya waktu dosen pembimbing gue diganti semua dan
sesuai yang gue mau. Drama berlanjut karena
disetiap step gue ganti judul terus dari pertama ngajuin judul, judul yang dipilih
dosen gue adalah judul yang sulit gue dapatkan datanya dilapangan karena gue
gak punya link untuk mendapatkan informan yang bagus, gue memang pesimis
akhirnya gue ganti judul. Setelah ganti judul dan bikin proposal ternyata judul
gue gak ada masalahnya, dan gak bisa diteliti, gue langsung panas dingin, gue bimbingan sambil ngejar dosen gue yang
udah mau pulang, tapi justru disaat genting itu gue malah dapetin judul, oke
sip gue bisa seminar. Setelah seminar
judul gue dimodif lagi, gapapa aku rapopo pak. Sampe sidang pun judul gue masih
dimodif lagi. Akhirnya, gue bisa selesain itu semua sesuai apa yang gue
inginkan tanpa disadari gue seminar di hari pertama, sidang dihari pertama juga.
Lalu ? gue dapet tambahan huruf deh di nama gue yang singkat ini, setidaknya dapet
3 huruf lagi, yaitu S.Pd.
Tau kan singkatan S.Pd ? yups,
Sarjana Pengen diseriusin. Eh, salah ya maksudnya itu sarjana Pendidikan, yang
prospek kerjanya tentu menjadi guru. Anyway gue gak pingin jadi guru sebenernya, gue
pinginya jadi Gubenur B.I, kalo gue jadi Gubernur BI gue pingin pecat-pecatin
yang korupsi lalu gue masukan dia ke pondok pesantren biar tobat, sekarang sih cuma
jadi khayalan, tapi entah ya kalo ada keajaiban, haha. Gue pernah berkata seperti
ini “Gue gak mau jadi guru, soalnya males, masa dari TK sampai tua di sekolah
terus sih”, begitulah pemikiran gue saat SMA. Setelah selesai UN dimana ke
sekolah hanya ada kegabutan. Dibangku, di dalam kelas. Saat itu gue dan temen
gue lagi melamun, dia nyeletuk “din, suatu saat nanti gue janji kita akan
kembali lagi disini bukan sebagai seorang murid tapi sebagai seorang guru.” Gue
tersontak bangun dari lamunan gue, sempet bingung kok kita ya, gue kan gak mau
jadi guru. Melihat temen gue sangat bersemangat sekali gue gak tega buat
merusak semangatnya. Gue kuatin lagi agar harapannya itu tercapai, gue bilang
ke dia “biar lo gak lupa sama janji lo, gue tulis nih janji kita di meja ini
pake tipe-x”. Di meja itu gue Cuma menulis nama gue dan nama dia berjanji, tapi
tidak dituliskan apa janjinya. Allah mengabulkan ucapan gue itu. Pertama,
dengan gue dan dia benar diterima di kampus yang sama dengan jurusan
pendidikan.
Gue bisa jalani perkuliahan
gue dengan sepenuh hati karena bidang yang gue ambil adalah yang gue sukai
yaitu ilmu sosial cuma pendidikannya aja yang gak gue suka. Setiap ada matakuliah
pendidikan gue gak bersemangat, tapi
entah kenapa justru nilai mata kuliah kependidikan gue selalu dapet “A”. di
perjalanan kuliah dia sempet mengingatkan gue lagi akan janji dia itu, kalo
ternyata janjinya itu bisa bikin dia jadi bersemangat, gue juga semangat dong
padahal sejujurnya gue gak mau jadi guru, huehehe. Hingga akhirnya gue sangat
bersyukur kepada allah SWT bahwa meskipun bukan pilihan gue tapi ini adalah
yang terbaik untuk gue, hingga akhirnya kita bisa mewujudkan janji yang di awal
hanya terucap dari kata-kata ini menjadi kenyataan, karena saat ini kita sudah
menjadi sarjana pendidikan, kita bisa kembali ke sekolah kita bukan sebagai
murid tapi sebagai guru.
Dari cerita gue ini, gue ingin
menyampaikan benar adanya bahwa ucapan adalah doa, jangan menyepelekan perkataan
anda, harapan anda, cita-cita anda. karna bisa jadi perkataan itu menjadi kenyataan, entah itu sesuai keinginan anda atau bukan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar