Rupanya
Jokowi telah ketagihan. Ketagihan membuat kontroversi. Menciptakan eksistensi
yang banyak diakui orang-orang bila menjadi seorang yang biasa-biasa saja tidak
akan cukup. Maka dari itu menjadi suatu yang berbeda dari yang lain adalah cara
tepat untuk mendapatkan puncak keeksistensian seseorang. Kontroversi adalah
sebuah pertentangan yang dapat menimbulkan perdebatan. Tidak hanya dikalangan
masyarakat, artis, hingga dikancah perpolitikan membuat suatu kontroversi merupakan
hal yang akan menarik perhatian banyak orang untuk membicarakannya. Membuat
kontroversi adalah cara yang paling praktis karena hal tersebut sangat mudah
tersebar dari mulut ke mulut bahkan akan banyak media yang menyorot berita itu
sendiri tanpa harus mengeluarkan modal.
Meskipun
Jokowi membuat banyak kontroversi. Jokowers atau pendukung jokowi terus
meningkat membuat ia semakin tenar. Tentunya kita masih ingat bagaimana langkah
jokowi dari seorang walikota solo hingga ia menduduki kursi orang nomor satu di
Negara ini. Seperti kita ketahui bahwa jokowi bernaung di partai PDIP dan Megawatilah
ketua umum partai tersebut sekaligus pemegang kekuasaan tertinggi di partai
PDIP. Tetapi kenapa Jokowi yang diajukan
sebagai capres pada saat itu? Menurut saya Jokowi hanyalah sebagai petugas
partai. Yaitu Jokowi hanya ditugaskan
sebagai capres, sedangkan si pemegang kendali tetaplah megawati. Secara logika megawati masih berambisi
menjadi presiden tapi ia tak berdaya karena saat ini jokowi jauh lebih populer
dibanding dirinya. Mau tidak mau, dia dan PDIP pun mencalonkan Jokowi. Di lingkungan
internal PDIP sendiri, Jokowi masih dianggap anak bawang. Anak kemarin sore
yang belum bisa apa-apa. Hanya popularitas karena dukungan medialah yang
memaksa mereka mencalonkan Jokowi.
Sebagai
seorang pemula di level pemerintahan nasional tentulah jokowi punya banyak
kekurangan karena sebelumnya ia hanya berada ditingkat daerah maka dari itu
pengamalamannya belum membuat ia matang betul tetapi seakan dipaksakan untuk
matang. Para pendukungnya sadar, jokowi punya banyak kesalahan tapi para
jokowers tetap ‘percaya’. Pada saat ia melangkahkan kakinya menuju kursi
kepresidenan ia memiliki rivalnya yaitu Prabowo. Banyak fans atau pendukung
prabowo itu menghujat Jokowi hal tersebut dikarenakan Jokowi dua kali
meninggalkan amanah dari rakyat sebagai pemimpin daerah. Saat ia menjabat
sebagai walikota dan setelah ia menjabat sebagai gubernur Jakarta untuk maju
menjadi presiden ia tinggalkan amanah masyarakat yang mempercayakan ia sebagai pemimpin
mereka. Dari situ timbul kontroversi yang menyebabkan fans Prabowo mengatakan
bahwa Jokowi itu ingkar janji. Namun para Jokowers yang sudah telanjur ‘cinta
buta’ dengan jokowi mengatakan bahwa ‘lebih baik ingkar janji tapi bersih
daripada menepati janji tapi korupsi’. Pernyataan tersebut menunjukan bahwa
sebenarnya pendukung Jokowi sudah menyadari dan mengakui bahwa Jokowi sering
ingkar janji. Jokowi memang dikenal dekat dengan rakyat atau merakyat. Blusukan
yang sering dilakukan jokowi menimbulkan efek penerimaan dari banyak
masyarakat. Menurut saya cara Jokowi memenangi pemilu pada saat itu karena Jokowi menggunakan teori Erving Goffman
yakni dramatugi atau menyembunyikan sesuatu. Seperti ibaratkan dia legowo,
merendahkan saat dihujat fans Prabowo hanya untuk meninggikan empati masyarakat
kapada dia. Intinya dia hanya mencari empati untuk menutupi kekurangannya saat
itu.
Hal
yang belum lama terjadi saat ini yang dilakukan Jokowi adalah melakukan
reshuffle kabinet menteri untuk kedua kalinya dalam masa kerja pemerintahan
Jokowi. Banyak orang yang dikejutkan atas pemberitaan tersebut. Karena beberapa
orang yang memiliki kinerja baik namun tergantikan. Salah satunya adalah prof.
Anis Baswedan yaitu sebagai mantan mendikbud digantikan dengan Muhadjir
Effendy yang kehadirannya masih baru dalam masa jabatannya saja sudah
membuat suatu kontroversi dengan merencanakan Full day school, sekolah tanpa
hari libur. Rencana tersebut akhirnya tidak direalisasikan dan hanya membuat
sensasi publik saja dan sebaliknya menteri yang kontroversial seperti Susi Pudjiastuti tidak terkena reshuffle serta Puan Maharani yang tidak terdengar
prestasinya tetap berada dalam posisi aman dikementrian. Sudah menjadi rahasia
publik bahwa puan adalah anak dari megawati. Bagaikan wayang yang dimainkan oleh
dalang. Yang terlihat oleh publik menjadi tokoh utamanya adalah wayang namun
dibalik itu ada dalang yang memegang kendali penuh atas apa yang dilakukan
wayang.
Kontroversi
ibaratkan balon yang diisi oleh angin/gas semakin di isi oleh angin
(Kontroversi) semakin ia membesar namun ada saatnya ia pun meledak hingga semua
orang baru tahu yang sebenarnya tidak berisi apa-apa dan tidak pula
menghasilkan apa-apa. Hanya sebuah ketenaran sesaat yang membuatnya berada di
puncak namun setelah itu terlupakan seperti angin lewat saja. Setiap manusia
memang ingin keberadaannya diakui banyak cara yang dapat dilakukan untuk
menunjukan eksistensi dirinya yaitu dengan MENCARI SENSANSI ATAU MEMBERIKAN
PRESTASI.
Sebaik-baik
manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesama manusia..." [HR.
Thabrani dalam Al-Ausath]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar