Sabtu, 10 September 2016

SUATU HAL YANG UNIK



Melihat gambar tersebut membuat saya teringat perkataan salah satu dosen saya bahwa ilmu sosial itu relative kebenarannya, tergantung dari sudut pandang dan paradigma mana yang menghampirinya. Dalam ilmu sains yaitu ilmu pasti  1+1 = 2 sedangkan dalam ilmu sosial 1+1 bisa = 4/5/6/7/…dst. Karena satu orang laki-laki dengan satu orang perempuan bukan sama dengan dua orang saja, bisa sama dengan  0/1/2/3/4/5...dst.  Mengkaji ilmu sosial banyak yang akan kita temukan, mungkin sesuatu yang tidak pernah kita duga, dan tak sampai logika kita. sebab kajian ilmu sosial adalah Manusia. Manusia memiliki perasaan, perasaan inilah yang mempunyai nilai abstrak. Perasaan yang menyertai keinginan marah, sedih, senang, cinta, empati, takut dll.  Karena suatu hal itulah yang terkadang melampaui batas logika yang tidak bisa dipecahkan dengan rumus matematika. Melainkan kita harus masuk kedalam setiap individunya masing-masing secara mendalam untuk memahami dan mengetahui sebab akibatnya. Manusia dapat dengan bebas mengekspresikan dirinya, manusia selalu berubah dan berkembang merupakan hal special dari ilmu sosial itu sendiri yaitu kajiannya, manusia. Melihat perbedaan dan menikmati perbedaan.

Seperti Karakter Light dalam film death note tokoh yang memiliki otak cerdas berambisi untuk membersihkan dunia dari orang-orang jahat dengan cara membunuh mereka dengan serangan jantung. Disatu sisi ia dianggap pahlawan namun disisi lain ia dianggap sebagai penjahat.  Contoh nyatanya adalah dalam kehidupan kita sehari-hari sering kali kita melihat fenomena atau konflik sosial yang terjadi didalam masyarakat. Konflik terjadi karena sebuah perbedaan. Bisa karena kesalahpahaman atau perbedaan pendapat. Sebenarnya konflik bisa dihindari bila emosi dapat dikendalikan oleh manusianya dengan baik. tidak merasa yang paling benar, karena apa yang kita lihat bisa jadi berbeda dengan yang orang lain lihat tergantung pada posisi mana dan dari sudut pandang mana kalian melihat suatu realitas sosial.

Sebuah manajemen konflik mengajarkan saya bahwa dalam melihat suatu masalah sosial kita tidak boleh hanya memandang dari satu sisi saja, bila masalah tersebut memiliki 4 sisi  maka lihatlah dari semua sisinya, kita harus berada ditengah bukan berada pada salah satu sisinya. Dalam sebuah pengamatan suatu konflik, jika sudah berada dilapangan untuk mencari data dan kebenarannya kita harus pada suatu posisi dengan kepala kosong. Seperti sebuah gelas yang belum terisi air. Buang semua persepsi yang ada dikepala kita entah dari media sosial, isu yang beredar, atau opini masyarakat luas. Mencari semua subjek yang terlibat dari berbagai pihak. Semua informasi dari informan harus kita terima terlebih dahulu. Data berupa wawancara atau berbentuk dokumentasi perlu kita dapatkan. Dari kedua hal tersebut pasti akan menemukan sebuah titik temu yaitu kebenaran.

Seperti halnya yang pernah saya lakukan dengan teman-teman saya dalam pengamatan konflik bentrokan antara mahasiswa fakultas hukum dengan mahasiswa fakultas teknik disalah satu universitas swasta. Dari berita yang beredar di media sosial mengatakan bahwa mahasiswa fakultas teknik menyerang mahasiswa fakultas hukum sehingga terjadinya bentrokan, gedung fakultas hukum sedikit mengalami kerusakan, serta salah satu mobil dibakar oleh mahasiswa fakultas teknik. Dalam berita tersebut terlihat sebuah opini yang menyudutkan mahasiswa teknik yang bersalah karena menyerang dan merusak gedung mahasiswa hukum. Namun ketika kami mendatangi langsung tempat kejadian perkara dan mencari informan kepada semua pihak yang terlibat antara lain yaitu BEM fakultas hukum dan teknik, mahasiswa, orang-orang yang berada dilingkungan sekitar yang melihat langsung kejadian tersebut, dan polisi yang mengamankan bentrokan tersebut. Kami mendapatkan data yang berbeda-beda versi dari pihak yang terlibat. Terdapat fakta bahwa mahasiswa fakultas teknik menyerang mahasiswa fakultas hukum lantaran perlakukan mahasiswa hukum yang dianggap tidak sopan terhadap mahasiswa teknik.  Sebab itu mahasiswa teknik menegur mahasiwa hukum dan menyuruh agar ia meminta maaf. Tetapi tidak di gubris oleh mahasiswa hukum. Sehingga mahasiswa teknik merasa tersinggung dan  mengepung fakultas hukum dan akhirnya terjadilah bentrokan. Jadi sebenarnya pemicu dari permasalahan tersebut menyangkut soal ego, perasaan yang tersinggung yang memuncak menjadi sebuah penyerangan. Jika kita melihat suatu masalah secara lebih mendetail kita dapat melihat letak permasalahan masing-masing pihak.

Dan menyangkut kehidupan pribadi apa yang seseorang lakukan akan dilihat dan dinilai oleh orang-orang. Suatu kejahatan yang dilakukan oleh seseorang disebut penjahat. Setiap kelakuan yang buruk dilakukan seseorang dinilai bukan orang baik-baik. padahal kita tidak mengetahui kehidupan apa yang sedang dialaminya. Seperti suatu cerita seorang lesbi sebut saja ia mawar. mawar berasal dari keluarga yang baik-baik, ia memiliki kedua orang tua yang sangat sibuk, kurang mendapatkan perhatian namun ibunya bisa dikatakan over protective terhadap anak perempuannya itu, saat anak gadisnya masih sekolah menengah atas mawar tidak diizinkan bergaul dengan laki-laki dan langsung pulang kerumah saat selesai sekolah  hingga suatu ketika ia berteman dekat dengan seorang kakak senior perempuan disekolahnya yang ternyata seorang lesbian, sebut saja ia duri. Awal mula mawar tidak mengetahui bahwa duri adalah seorang lesbi, duri dengan sengaja mengajak mawar untuk menginap dirumahnya. Baru pada saat itu mawar merasakan mendapatkan kasih sayang dan perhatian dari seseorang, lalu ia nyaman dengan keadaan yang seperti itu. sehingga mawar terjebak dalam dunia lesbian. Pada kasus tersebut apakah kita menyalahkan mawar? Menyatakan bahwa dia bukan orang baik-baik? jika kita menilai dari kulit luarnya saja memang dia salah, karena dia memilih menjadi seorang lesbian. Namun saat kita lihat lebih kedalam perasaannya ternyata mawar haus akan kasih sayang dan perhatian yang belum pernah ia dapatkan, hanya kondisi dan keadaannya saja yang sangat tidak tepat ketika mawar justru mendapatkan perhatian dari seorang teman wanita yang lesbian. Atau apakah yang salah ibu mawar?  Yang membatasi pergaulan mawar untuk tidak bergaul dengan laki-laki, namun ia lupa perhatian dan kasih sayangnya pun diperlukan untuk anaknya. Itu tergantung dari posisi dan sudut pandang mana kalian meilhatnya.

Penilaian kita terhadap diri sendiri maupun terhadap orang lain itu tergantung pikiran kita yang ingin menilainya seperti apa. Jika kita menilai itu baik maka yang terlihat akan baik, kalau kita menilai itu buruk maka yang terlihat akan buruk. Untuk itu melihat dari berbagai sudut pandang perlu dilakukan tidak hanya dari satu sudut pandang kita saja, kita pun perlu melihat sudut pandang orang lain dari sisi kehidupannya maupun cara berpikirnya. Setiap manusia tidak lah sempurna bahkan sejahat-jahatnya koruptor ingin membahagiakan orang-orang yang disayanginya atau seburuk-buruknya pelacur masih mengaharapkan kesalehan untuk anak-anaknya. Kita hanya bisa saling mengingatkan bukan merasa paling benar dan menghakimi atas kesalahan seseorang.
“Bukankah Allah adalah hakim yang seadil-adilnya?” (At-Tin: 8)
“JUST BECAUSE YOU ARE RIGHT, DOES NOT MEAN, I AM WRONG. YOU JUST HAVEN’T SEEN LIFE FROM MY SIDE”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar