Melihat gambar tersebut membuat saya teringat
perkataan salah satu dosen saya bahwa ilmu sosial itu relative kebenarannya, tergantung
dari sudut pandang dan paradigma mana yang menghampirinya. Dalam ilmu sains
yaitu ilmu pasti 1+1 = 2 sedangkan dalam
ilmu sosial 1+1 bisa = 4/5/6/7/…dst. Karena satu orang laki-laki dengan satu
orang perempuan bukan sama dengan dua orang saja, bisa sama dengan 0/1/2/3/4/5...dst. Mengkaji ilmu sosial banyak yang akan kita
temukan, mungkin sesuatu yang tidak pernah kita duga, dan tak sampai logika
kita. sebab kajian ilmu sosial adalah Manusia. Manusia memiliki perasaan, perasaan
inilah yang mempunyai nilai abstrak. Perasaan yang menyertai keinginan marah,
sedih, senang, cinta, empati, takut dll.
Karena suatu hal itulah yang terkadang melampaui batas logika yang tidak
bisa dipecahkan dengan rumus matematika. Melainkan kita harus masuk kedalam
setiap individunya masing-masing secara mendalam untuk memahami dan mengetahui
sebab akibatnya. Manusia dapat dengan bebas mengekspresikan dirinya, manusia
selalu berubah dan berkembang merupakan hal special dari ilmu sosial itu
sendiri yaitu kajiannya, manusia. Melihat perbedaan dan menikmati perbedaan.
Seperti Karakter Light dalam film death note tokoh
yang memiliki otak cerdas berambisi untuk membersihkan dunia dari orang-orang
jahat dengan cara membunuh mereka dengan serangan jantung. Disatu sisi ia
dianggap pahlawan namun disisi lain ia dianggap sebagai penjahat. Contoh nyatanya adalah dalam kehidupan kita
sehari-hari sering kali kita melihat fenomena atau konflik sosial yang terjadi
didalam masyarakat. Konflik terjadi karena sebuah perbedaan. Bisa karena
kesalahpahaman atau perbedaan pendapat. Sebenarnya konflik bisa dihindari bila
emosi dapat dikendalikan oleh manusianya dengan baik. tidak merasa yang paling
benar, karena apa yang kita lihat bisa jadi berbeda dengan yang orang lain
lihat tergantung pada posisi mana dan dari sudut pandang mana kalian melihat
suatu realitas sosial.
Sebuah manajemen konflik mengajarkan saya bahwa
dalam melihat suatu masalah sosial kita tidak boleh hanya memandang dari satu
sisi saja, bila masalah tersebut memiliki 4 sisi maka lihatlah dari semua sisinya, kita harus
berada ditengah bukan berada pada salah satu sisinya. Dalam sebuah pengamatan
suatu konflik, jika sudah berada dilapangan untuk mencari data dan kebenarannya
kita harus pada suatu posisi dengan kepala kosong. Seperti sebuah gelas yang
belum terisi air. Buang semua persepsi yang ada dikepala kita entah dari media
sosial, isu yang beredar, atau opini masyarakat luas. Mencari semua subjek yang
terlibat dari berbagai pihak. Semua informasi dari informan harus kita terima
terlebih dahulu. Data berupa wawancara atau berbentuk dokumentasi perlu kita
dapatkan. Dari kedua hal tersebut pasti akan menemukan sebuah titik temu yaitu
kebenaran.
Seperti halnya yang pernah saya lakukan dengan
teman-teman saya dalam pengamatan konflik bentrokan antara mahasiswa fakultas
hukum dengan mahasiswa fakultas teknik disalah satu universitas swasta. Dari
berita yang beredar di media sosial mengatakan bahwa mahasiswa fakultas teknik
menyerang mahasiswa fakultas hukum sehingga terjadinya bentrokan, gedung
fakultas hukum sedikit mengalami kerusakan, serta salah satu mobil dibakar oleh
mahasiswa fakultas teknik. Dalam berita tersebut terlihat sebuah opini yang
menyudutkan mahasiswa teknik yang bersalah karena menyerang dan merusak gedung
mahasiswa hukum. Namun ketika kami mendatangi langsung tempat kejadian perkara
dan mencari informan kepada semua pihak yang terlibat antara lain yaitu BEM
fakultas hukum dan teknik, mahasiswa, orang-orang yang berada dilingkungan
sekitar yang melihat langsung kejadian tersebut, dan polisi yang mengamankan
bentrokan tersebut. Kami mendapatkan data yang berbeda-beda versi dari pihak
yang terlibat. Terdapat fakta bahwa mahasiswa fakultas teknik menyerang mahasiswa
fakultas hukum lantaran perlakukan mahasiswa hukum yang dianggap tidak sopan
terhadap mahasiswa teknik. Sebab itu
mahasiswa teknik menegur mahasiwa hukum dan menyuruh agar ia meminta maaf.
Tetapi tidak di gubris oleh mahasiswa hukum. Sehingga mahasiswa teknik merasa
tersinggung dan mengepung fakultas hukum
dan akhirnya terjadilah bentrokan. Jadi sebenarnya pemicu dari permasalahan
tersebut menyangkut soal ego, perasaan yang tersinggung yang memuncak menjadi
sebuah penyerangan. Jika kita melihat suatu masalah secara lebih mendetail kita
dapat melihat letak permasalahan masing-masing pihak.
Dan menyangkut kehidupan pribadi apa yang seseorang
lakukan akan dilihat dan dinilai oleh orang-orang. Suatu kejahatan yang
dilakukan oleh seseorang disebut penjahat. Setiap kelakuan yang buruk dilakukan
seseorang dinilai bukan orang baik-baik. padahal kita tidak mengetahui
kehidupan apa yang sedang dialaminya. Seperti suatu cerita seorang lesbi sebut
saja ia mawar. mawar berasal dari keluarga yang baik-baik, ia memiliki kedua orang
tua yang sangat sibuk, kurang mendapatkan perhatian namun ibunya bisa dikatakan
over protective terhadap anak perempuannya itu, saat anak gadisnya masih
sekolah menengah atas mawar tidak diizinkan bergaul dengan laki-laki dan
langsung pulang kerumah saat selesai sekolah hingga suatu ketika ia berteman dekat dengan
seorang kakak senior perempuan disekolahnya yang ternyata seorang lesbian,
sebut saja ia duri. Awal mula mawar tidak mengetahui bahwa duri adalah seorang
lesbi, duri dengan sengaja mengajak mawar untuk menginap dirumahnya. Baru pada
saat itu mawar merasakan mendapatkan kasih sayang dan perhatian dari seseorang,
lalu ia nyaman dengan keadaan yang seperti itu. sehingga mawar terjebak dalam
dunia lesbian. Pada kasus tersebut apakah kita menyalahkan mawar? Menyatakan
bahwa dia bukan orang baik-baik? jika kita menilai dari kulit luarnya saja
memang dia salah, karena dia memilih menjadi seorang lesbian. Namun saat kita
lihat lebih kedalam perasaannya ternyata mawar haus akan kasih sayang dan
perhatian yang belum pernah ia dapatkan, hanya kondisi dan keadaannya saja yang
sangat tidak tepat ketika mawar justru mendapatkan perhatian dari seorang teman
wanita yang lesbian. Atau apakah yang salah ibu mawar? Yang membatasi pergaulan mawar untuk tidak
bergaul dengan laki-laki, namun ia lupa perhatian dan kasih sayangnya pun
diperlukan untuk anaknya. Itu tergantung dari posisi dan sudut pandang mana
kalian meilhatnya.
Penilaian
kita terhadap diri sendiri maupun terhadap orang lain itu tergantung pikiran
kita yang ingin menilainya seperti apa. Jika kita menilai itu baik maka yang
terlihat akan baik, kalau kita menilai itu buruk maka yang terlihat akan buruk.
Untuk itu melihat dari berbagai sudut pandang perlu dilakukan tidak hanya dari satu
sudut pandang kita saja, kita pun perlu melihat sudut pandang orang lain dari
sisi kehidupannya maupun cara berpikirnya. Setiap manusia tidak lah sempurna bahkan sejahat-jahatnya koruptor ingin membahagiakan orang-orang yang disayanginya
atau seburuk-buruknya pelacur masih mengaharapkan kesalehan untuk anak-anaknya.
Kita hanya bisa saling mengingatkan bukan merasa paling benar dan menghakimi atas
kesalahan seseorang.
“Bukankah Allah adalah hakim yang
seadil-adilnya?” (At-Tin: 8)
“JUST BECAUSE YOU ARE RIGHT, DOES NOT MEAN, I AM
WRONG. YOU JUST HAVEN’T SEEN LIFE FROM MY SIDE”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar